Powered By Blogger

Kamis, 15 Desember 2011

Daripada Tidak

Hidup di dunia. Siapa sih yang tidak senang dengan dunia? Siapa yang tidak suka, menjaga dunia yang sudah dimilikinya? Tapi mari meletakkan dunia dalam genggaman tangan kita, janganlah letakkan ia dalam hati kita. Mari jadikan ia sebagai sarana ibadah, bukan menjadikannya sebagai tujuan utama, hingga mengalahkan segalanya untuk meraihnya, dan menghalalkan segala cara guna mendapatkannya.
Adalah sebuah perenungan di pagi hariku, lebih tepatnya adalah monolog, yang semoga ini adalah sarana untuk introspeksi diri.
Tiap kali mendung datang, aku selalu risau. Aku takut dengan hujan yang biasanya menyertai mendung itu. Aku takut banjir, aku sedih dengan rumahku yang bocor di sana sini, aku sebel dengan got depan dan samping rumah yang meskipun aku sudah membersihkannya, selalu "macet" aliran airnya karena orang-orang yang menjadikannya sebagai tempat sampah umum, aku jengkel dengan anak-anak yang gemar menutup aliran air di depan rumah demi mendapatkan kubangan saat hujan kemudian asik bermain dengan "kolam mini" bikinan mereka.
Padahal.....
Tidak selalu mendung itu pasti akan disertai hujan to?
Mendung tak berarti hujan, meski tidak mendung juga bukan selalu tidak akan turun hujan
Dan meskipun turun hujan, tidak selalu akan mengakibatkan banjir bukan? Lalu, jika ternyata benar-benar banjir, kita kan manusia yang punya akal, karsa, dan mampu berkarya. Pasti kita punya cara untuk mengatasinya, dan membersihkannya. Lelah? Ya bersyukurlah, dengan tiap lelah yang kita punya, insya Alloh akan dibersihkanNYA kesalahan-kesalahan kita.
Karena tanpa rasa lelah, sakit, penat, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya, sungguh amalan kita tidak akan pernah cukup untuk menebus dosa-dosa kita di hadapan Alloh.
Lalu, lihatlah anak-anak itu. Keceriaan mereka adalah masa depan. Cobalah untuk membayangkan, dan sedikit jeli berfikir. Dunia anak memang dunia bermain. Bayangkanlah, salah satu dari mereka adalah anak kita. Dan pikirkanlah pula, anak mana di sekitar kita yang tidak suka bermain hujan? Jikalah ada dari anak-anak kita yang tidak keluar dan bermain saat hujan, itu pastilah karena larangan orang tuanya, eyangnya, atau orang dewasa yang ada di dalam rumahnya. Atau paling tidak norma dan aturan di rumahnya yang tidak mengijinkan dia untuk hujan-hujanan.
Kemudian rumahku yang rawan banjir. Mengapalah harus dirisaukan hingga ke ubun-ubun? Orang yang tidak punya rumah, pastilah sangat ingin punya rumah, meskipun di tempat yang rawan banjir.  Dan mereka yang sudah tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, pastilah ingin pulang ke rumah (mereka ndak pulang karena ndak punya rumah to?). Dan kalau dibilang atap rumahku yang bocor, mereka pasti akan menyahut, "Bocor juga, punya rumah, dari pada kami yang tidak punya".
Hari kemarin lumayan melelahkan. Dari pagi hingga sore, aktivitas agak padat. Mengapalah tidak mencoba bersyukur saja? Tentang nikmat sehat yang Alloh berikan, hingga bisa beraktivitas dan merasa lelah. Bukankah orang gila di jalan-jalan yang kerap kita temui, seperti tidak pernah merasakan lelah? Bukankan orang yang sedang terbaring di rumah sakit sangat ingin berjalan dan beraktivitas dengan sehatnya? Bukankah orang-orang yang belum pernah ke bandara -sekedar melihat dan mendengarkan riuhnya pesawat dari jarak dekat- sangat ingin pergi ke sana? Hidup adalah pilihan, dan mari memilih yang bisa dipilih. Bukan memilih yang "mestinya begini dan begitu", sesuai dengan nafsu dan angan kita semata.
Sekali lagi, mudah-mudahan ini adalah introspeksi dan sumber semangat untuk senantiasa mempertahankan kebersyukuranku atas nikmat Alloh yang pastilah TIADA TARA.

Episode kangen Bapak

Kamis, 08 Desember 2011

Atasi Fibromyalgia dengan Tidur Teratur dan Olah Raga Rutin

Atasi Fibromyalgia dengan Tidur Teratur dan Olah Raga Rutin - Health Topics

Konsekuensi


*demi senyum anakku*

Belajar adalah kewajiban, selama hayat di kandung badan
Sekolah (belajar di sekolah, tempat pendidikan formal yang dikaui pemerintah) adalah bagian dari belajar
Adalah sebuah catatan kepiluan tentang sekolah dan para pelakunya (para siswanya, orang tua siswa, guru-gurunya, juga pimpinan sekolahnya) yang-sepertinya agak-  kurang faham tentang sekolah yang mustinya bukan hanya proses belajar-mengajar namun lebih dalam lagi : proses pendidikan
(departemennya saja bukan dpartemen pengajaran to? Tapi departemen pendidikan) 

Para siswa di sebuah sekolah, dari negeri antah berantah,  tiap musim ulangan sibuk mencari "contekan" dan "bocoran" soal-soal dari kelas sebelah. Sudah bukan rahasia lagi, tapi sudah jamak terjadi. 
Hal yang tentu tidak akan ada untuk pendidikan di luar sekolah macam home schoolling, atau semacamnya.
Di benakku kemudian muncul pertanyaan sekaligus angan-angan, seandainya aku adalah guru mereka
 Mengapa para guru tidak membuat soal yang berbeda untuk tiap2 kelas, agar tidak ada aksi membocorkan soal ulangan?
Kalau jawabannya REPOT, bukankah mereka memang memilih menjadi guru untuk -konsekuansi- kerepotan yang seperti itu? Mengajar, kemudian membuat soal ulangan, mengoreksi, dan memberi nilai? (bukan untuk menanam padi, menyiangi, memanen, kemudian menjualnya, karena mereka bukan petani)
Sekali lagi, belajar-mengajar dan pendidikan adalah proses
Perlu jiwa besar para pelakunya

Para orang tua siswa, seperti sdh menyelesaikan tugasnya ketika sudah memasukkan putra-putrinya ke sekolah, yang favorit pula. Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Apa lagi jika sudah menambah jam belajar mereka dengan memasukkannya ke tempat les atau bimbel yang terkenal bonafid.
*  Mengapa para guru cenderung lebih suka anak-anak muridnya dimasukkan orang tuanya ke tempat les dan bimbel-bimbel untuk mendongkrak nilai ujian? 

Belum selesai aku merenung..
Anakku pulang dengan wajah kurang riang
Cerita siang itu : " Bunda, tadi kan ayah temanku ada yang meninggal dunia. Nah, bu guru menyarankan aku dan teman-teman untuk menyisihkan uang saku, untuk nyumbang. Uangnya dikumpulin ke bu guru. Eeh... temanku, si Anto(-kebetulan anak tunggal), uangnya sdh habis buat jajan, jd ndak nyumbang. Kok bu guru bilang Anto,  anak tunggal, bapak ibunya kaya, malah ndak nyumbang.. Terus, sama Danto yang nyumbangnya cuma 2 ribu, buguru bilang Danto, anak pejabat malah nyumbangnya cuma 2 ribu. Lihat nih si Nanto, yang ayah ibunya lagi pergi umroh, nyumbangnya 20 ribu. 
Duuh, pendidikan macam apa yang tengah di tanamkan, wahai bu Guru?

Kembali kupupus angan-anganku untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran terbaik, ketika kupilih menyekolahkan anakku di lembaga yang -konon- diakui resmi oleh pemerintah
Segudang cerita kepiluan kudengar dari anak-anakku saban hari
Yang itu tentu baru sebahagian kecil saja, baru dari perilaku mereka, teman-teman mereka, dan orang-orang di sekolah mereka
Belum lagi dengan materi ajar yang belum tentu sesuai dengan aqidah dan syri'at ku (ISLAM), yang menuntut penetralan dan klarifikasi  setiap waktu
Konsekuansi yang amat mahal memang
Kadang membuat pening kepala
Namun tak boleh pening berkepanjangan, karena menjadikan aku  tidak produktif
Harus berjuang dan bersiap setiap saat, merengkuh buah hatiku, sepulang dari "perjuangan" mereka di sekolah
Sangat ingin mencari sekolah yang mendidik anak-anakku dengan dan sepenuh hati

Pipa Paralon


Sebagaimana ditulis di catatan fb Karunia Atiek

*Kamis sore hari, di South Cempedak*

Hari ini tidak sangat istimewa, hanya berjalan biasa saja
Tetapi memaksaku mengakui, bahwa hari ini lebih lelah dari hari sebelumnya
*dan tiadalah setiap rasa sakit, kepayahan, dan segala bentuk ketidaknyamanan seorang mu'min, melainkan Alloh pasti akan menghapus dengannya kesalahan-kesalahannya... semoga ini menuntunku pada keikhlashan
Sejak pagi dengan rutinitas harian yang biasa pula, hanya sedikit lebih payah karena kebetulan"ngemis"  sehingga tidak bisa sesigap aku ketika bisa minum dan makan
Sore hari, seluruh pasukanku sudah pulang ke rumah.  
Ketika sedang mencuci, tiba-tiba air di kran tidak mengalir
Batinku, "Mati air kah?"
Dan ketika anakku keluar, hendak menengok meter air, dilihatnya pipa air di dekat meter itu telah putus.
Kususul dia keluar, demi memastikan apa yang terjadi.
Terlihat pipa pada sambungan siku-siku seperti bekas terinjak atau kejatuhan benda berat. Pikirku, "Kalau putus atawa pecah dengan sendirinya, bentuknya pastilah tidak begini".
Padahal hari sudah sore. Jika ingin membereskannya, tentu aku butuh material yang harus dibeli, dan toko bahan bangunan pun tentu sudah tutup. Jika tidak dibereskan, alamat malam hari sampai esoknya kami tidak punya air. NO WATER, NO BATH. NO WATER NO WASHING. AND IT'S A BIG PROBLEM
*haruskan aku marah pada si tertuduh penginjak pipa airku? Mengapa dia tidak bertanggung jawab? Apa lagi kalau tidak sekedar terinjak, tapi dilempar pakai bongkahan batu, apa maksudnya dia lakukan itu ?? Jawabnya, TENTU INI TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH!!
Sejurus kemudian, suamiku menyuruh anakku meminta bantuan tukang yang biasa membereskan kerusakan-kerusakan kecil di rumah kami.
*harus pula kah aku mendongkol, kenapa tidak dia sendiri yang berusaha menengok, kemudian membereskannya? Atau kalau pun harus ke tukang, kenapa dia tidak berangkat sendiri meminta tukang datang dengan menjelaskan apa yang terjadi?  Jawabnya, INI PUN TIDAK BIJAK, DAN TENTU HANYA AKAN MENANBAH KERUWETAN. 
Sambil menunggu anakku, kuteliti kerusakan pipaku, bersiap kemungkinan buruk kalau ternyata pak tukang tidak bisa datang, dengan alasan apa pun. 
Jadi teringat pak Lilik. -aku menghibur diri- Andai saja rumah kita dekat ya Pak, tentu aku  tinggal bilang saja, "Pak Lilik, pipanya putus....".
Dan benar saja, anakku pulang dari memanggil tukang dengan raut muka kecewa, "Ibu, tukangnya mau nengok". Terbersit di benakku si pak Tukang mau menengok pipaku, jadi sejenak aku menanti. Tetapi, kemudian aku ingin memastikan, "Dhe, tukangnya mau menengok ke sini atau menengok apa?"
"Ya nengok orang sakit"
Oh Alloh....
*haruskah aku berfikir aneh-aneh lagi tentang si bapak Tukang yang tidak bisa datang ke rumahku sore ini? Kenapa dia tidak mau datang? Marahkah dia? Atau kenapa?  Jawabnya : INI BENER-BENER TIDAK PROGRESSIF, DAN SANGAT KONTRA PRODUKTIF
Sigap kuambil onta-ku, kupancal untuk lakuan sesuatu. Aku butuh sebuah knee, lem paralon, dan gergaji. Aktivitas dapur jelang maghrib, persiapan buka puasa dengan anakku, kutinggalkan. Sambil mengayuh pesawat jetku, kuputar otak. Tadi siang  sewaktu jemput anakku, kulihat ada toko bahan bangunan yang baru mau buka, sedang menata barang-barang dagangannya. Karena mereka buka toko di rumahnya, barangkali bisa kumintai tolong untuk kubeli  barang-barang yang aku perlukan.
Alhamdulillaah, jalan keluar mulai nampak. Si empunya toko berkenan membuka pintu, dan mengambilkan barang-barang yang aku butuhkan.
"Ibu, putusnya pipa bagaimana?"
"Pas di siku-siku, Pak"
"Apa Ibu mau nggorok-nggorok sendiri, atau tukang?"
"Iya, saya yang akan kerjakan sendiri"
"Kalau pas di siku-siku, Ibu butuh sok juga, tidak cuma knee"
Tapi aku tidak kling, tidak mudeng dengan kalimat si Bapak ini, hingga aku tidak mengiyakan ketika ia menawarkan aku menambah sok. Akhirnya, "Ya sudah, sekrang Ibu pulang saja dulu, bawa ini barang-barang, nanti kalau kurang balik ke sini lagi. Tinggalnya di mana? Kalau ternyata tidak berhasil, panggil saya saja, saya pasangkan"
Hari sudah semakin sore. Sesampai di rumah, segera aku kerjakan project-ku.
Dan benar saja kata si bapak toko bangunan, aku butuh sok, pipaku kurang panjang sedikit, sekitar satu senti. Aku suruh anakku membeli, di toko yang tadi.
Tapi namanya toko baru mau buka, dan anakku belum pernah tahu. Tidak tahu pula tadi ibunya beli di toko apa, di mana. Jadi sebentar saja dia pergi, beberapa saat kemudian pulang dan bilang, "Ibu tokonya sudah tutup, orang sudah jam 5 lebih". Dia tidak tahu bahwa sudah ada agreement, antara ibunya dengan penjual di toko yang dimaksud.
Yaah, terpaksa aku berangkat lagi demi sebuah sok..
Setelah kudapatkan soknya, ditemani anakku kupasang pipaku, menggorok, mengelem, membongkar, memasang lagi dan ............ JADI!!! 
Tentu belum serta merta berani kubuka kembali meter air untuk mengalirkan airnya. Bener-penerngelmu praktek. Feelingku, kalau langsung dialirkan, kayaknya lemnya belum kering benar dan sambungan pipa -ala emak- bakalan bisa lepas lagi. Sia-sia deh, pekerjaan kami.
Aku masuk rumah, setidaknya dengan hati sedikit tenang, dengan harapan 2-3 jam kedepan akan kubuka meter airku, dan aku punya air lagi, di rumah, Insya Allohu ta'ala...

Kesabaran, kesigapan, khusnudzon, dan kreatifitas yang terasah dengan "pipa"
Sebuah hikmah yang harus aku syukuri, bukan aku dongkoli...

Wa laa haula walaa quwwata illa billah...

Buah dan Sayuran Segar Penangkal Resiko Jantung

Buah dan Sayuran Segar Penangkal Resiko Jantung - Health Highlights

Rabu, 07 Desember 2011

Bersihkan Sisa Makanan Sebaik-baiknya

Bersihkan Sisa Makanan Sebaik-baiknya - Health News

Khasiat Kurma untuk Kesehatan

Khasiat Kurma untuk Kesehatan - Health News

Obat Kumur dan Bau Mulut

Obat Kumur dan Bau Mulut - Health News

Pemeriksaan Darah Guna Mendeteksi Kanker Paru

Pemeriksaan Darah Guna Mendeteksi Kanker Paru - Health Topics

Penyakit Jantung Koroner

Midis A-Z : Penyakit Jantung Koroner

Waspadai Berbagi Makanan, Hepatitis Mengintai

Hepatitis Mengintai - Health Topics

Penderita Progeria Kemungkinan Bisa Diobati

Penderita Progeria Kemungkinan Bisa Diobati - Health Highlights

Perencanaan Makan Penderita Diabetes

Diabetes : Perencanaan Makan

Panduan Makanan Bayi

http://www.klikdokter.com/tumbuhkembanganak/read/2010/07/05/81/panduan-makanan-bayi

Kesuburan Pria Juga Tergantung Asupan

Kesuburan Pria Juga Tergantung Asupan

Minuman Bersoda Meningkatkan Agresi Remaja

Minuman Bersoda Meningkatkan Agresi Remaja - Health Topics

Segar dan Bugar pada Usia Lanjut

Segar dan Bugar pada Usia Lanjut - Health News

Menghibur Bayi

http://www.klikdokter.com/tumbuhkembanganak/read/2010/07/05/90/menghibur-bayi

BPA Pada Kaleng Mempengaruhi Hormon Seksual

BPA Pada Kaleng Mempengaruhi Hormon Seksual - Health Topics

Disfungsi Seksual pada Wanita

http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2008/10/12/289/disfungsi-seksual-pada-wanita

manfaat yogurt untuk kesehatan gigi


http://www.klikdokter.com/gigimulut/read/2010/10/21/299/manfaat-yogurt-untuk-kesehatan-gigi

Tes Pre-eklamsia Dini

Tes Pre-eklamsia Dini - Health Highlights

Kontrasepsi Pil Progestin

Kontrasepsi Pil Progestin

tes pre eklamsia dini

http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2011/11/15/15031385/tes-pre-eklamsia-dini

Mustikah?



Hari ini
Kusambut kau dengan penampilan cantikku
Kaubilang dandananku norak
Tetapi
Kudapati pesan di handphone mu pada seseorang
Kita pergi hari ini juga, untuk membeli make-up mu selengkap mungkin
agar kau semakin cantik dan aku tak menjadi bosan memandangmu

Aku jadi teringat
Suatu hari aku minta kau antar aku ke pantai
Kaujawab orang pantai kok piknik ke pantai
Namun
Ketika hendak kucuci bajumu
Kutemukan di saku,
tiket masuk ke sebuah wisata bahari untuk dua orang

Di hari lain
Kuajak kau bermain sebuah game, bowling
Kau bilang aku kekanak-kanakan
Tapi di malam harinya, disangka aku sudah tertidur
kau berbicara di telepon, mengajak seseorang bermain game di sebuah wahana bermain
sambil menyangatkan bermain bowling  itu akan sangat mengasikkan

Pantaskah kalau aku tak heran?
Wajarkah kalau tak ada protes apa pun di hatiku?
Aneh kah jika aku bingung? 

Kemudian aku ber-monolog
Mungkin seharusnya aku menjadi orang lain saja, 
untuk bisa menikmati hidupku bersamamu
Terlalu bodoh memang diriku
Untuk mampu memahami semuanya
Dan untuk menjadikannya sumber semangat, pelecut kesabaran

Karena sejatinya kau butuhkan apa-apa yang aku sediakan
Tetapi kau malah bersusah payah mencarinya dari orang lain

Mustikah aku goyah?
Mustikah aku bertahan?
Mustikah aku berbicara kembali?
Atau
Mustikah aku diam?


Selasa, 06 Desember 2011

Asiknya Tutup Mata Tutup Telinga

Bagiku, aktivitas pagi hari bersama anak-anakku selalu mengasikkan. Selalu sarat inspirasi. Dibalik keributannya, ketegangannya, "full teriyaki"nya, juga intrik-intrik perang saudara yang menguras cukup banyak energi untuk mendamaikannya.
Jamak terjadi, dan hampir tiap hari, anak-anak selalu berebut kamar mandi "belakang". Padahal rasanya sudah dibuat jadualnya, biar ndak crash ataupun overlap. Dan -kebetulan- ada kamar mandi lain yang bisa dijadikan alternatif, kala harus masuk di jam yang sama. Suatu kali, adik yang tidak taat shedule, dengan alasan pengin BAB dulu. Di kali lain si kakak yang masuk duluan di luar jadualnya, karena katanya, adik suka bikin kamar mandi berbau pengap.
Dan pagi ini, adalah adik yang berhasil masuk kamar mandi di jamnya, tanpa keributan apalagi rekonsiliasi. "Aman...", batinku sambil persiapkan sarapan pagi mereka. Tengah asik dengan irama potongan cabe dan bumbu-bumbu, juga aroma dapur yang -sejatinya- sudah sangat biasa, tiba-tiba si kakak masuk ke dapur, setelah sebelumnya mampir dulu di kulkas, mengambil sesuatu. Posisi Kulkas yang hampir tepat di depan pintu kamar mandi adik, membuat siapa pun yg beraktivitas dekat dengannya, terdengar oleh siapa saja yg berada di dalam kamar mandi. Dan sudah adatnya si ayah, kakak, adik, -dan kadang aku juga-, sambil membuka kulkas selalu menyempatkan menggoda, jika ada  yang sedang berada di kamar mandi. Saat ini, niatan di awal si kakak tidak ingin membuat keributan dengan menggoda adik, tapi menyanjung ibu yang sedang memasak, sambil mencari tahu sarapan pagi apa yang aku buat.
"Hayo.... bikin apa ya....", sambil kakak berjingkat mendekatiku, seperti hendak membikin kejutan.
Aku tidak terkejut, tapi terdengar yang di dalam kamar mandi menyahut dengan kalimat khasnya orang tertangkap basah, "Yaa, Bu...". Adik merasa ingin membela bahwa di dalam kamar mandi tidak melakukan kegiatan yang semestinya, sebagaimana tahu sedang ditunggu, atau tengah berpacu dengan waktu yang semakin beranjak siang. Stelahnya, adik seperti makin asik saja dengan aktivitasnya di kamar mandi, seperti merasa aman karena sudah meminta maaf, dan sudah mendapat "rekomendasi"...untuk lanjuuut...!
Hahahaha... aku dan kakak tertawa, tetapi kemudian bersama-sama (seperti biasa) "berbahas" dengan kejadian  yang barusan.
"Bunda, memang orang ndak tahu itu ada kalanya asik ya...?"
"Betul, adik tidak tahu, bahwa yang kakak ajak bicara tadi adalah bunda. dan orang akan menjadi asik, atau tidak, suka atau benci, gembira atau sussah, itu tergantung mind set nya."
Setelahnya adik keluar, dan kakak masuk kamar mandi. Aku lanjutkan aktivitasku di dapur, tinggal platting aja kok..
Sambil merenung sendiri.
Aku fikir bagus juga, suatu saat  aku tutup mata tutup telinga, untuk memanjakan diri. Membuat diri ini bahagia. Jika aku tidak bisa bahagia karena sebab orang lain yang memang seharusnya memberikannya padaku, barang kali buatku ini adalah pilihan.
Terimakasih adik, terimakasih kakak... Semoga ini adalah starter semangat pagi kita utnuk sampai sore nanti, bahkan malam dan esok hari, atau selamanya....

Nice for you, dhenok dan kenang

Senin, 05 Desember 2011

Hanya karena kau dan buah hati kita


*Yang sempat tersisa di lembayung sore ini… *

(Ini adalah tulisan yang aku dapatkan di laptop yang masih menyala dan ditinggalkan oleh suamiku yg buru-buru pergi karena dipanggil pasien. Mungkin dari hasil suamiku copas, tp tidak aku dapati sumbernya, entah dari mana. Mungkin juga ini adalah isi hatinya. So, aku simpan di sini, agar menjadi hal yang tak terlupakan. Kalaupun ini tidak seluruhnya mencerminkan apa yang ada di hatinya, setidaknya masih banyak harapan yang patut kami gantungkan, ketika salah satu diantara kami sesekali berada pada posisi kurang suka, membenci, atau merasa diperlakukan tidak semestinya)

Aku ingin kalian tahu. Mungkin berat rasanya bersanding dan bersama – sama denganku. Tak mudah berkata-kata bijak, tak mudah bagiku untuk merayu. Aku tahu, banyak yang kau mau dan aku tak mampu untuk itu. Dan aku pun tahu. bahwa ketika kalian hanya diam dan meperlihatkan bahwa kalian bosan, kalian ingin aku tetap bersabar. Tapi aku tidak mau terlihat tidak bisa mengerti kalian dengan mengajukan pertanyaan “jadi maunya gimana?” Aku akan diam sesaat, dan berpikir apa yang bisa membuat senyum kalian kembali lagi? Karena senyum kalian yang menghidupkan hidupku, sungguh! Semua hanya karena kalian.

Aku sebenarnya pun tahu. bahwa kalian senang jika aku menulis kata-kata romantis seperti di film2 korea yang kalian tonton. Kalian berangan-angan bahwa hal yang terjadi di film itu terjadi dalam kehidupan kalian? (*ya kan?). Tapi justru karena kalian sering mengangan-angankan hal itu, aku tidak melakukan itu untuk kalian, aku berpikir keras, memutar otak menyiapkan kejutan yang bahkan tidak terpikir di angan2 kalian, untuk melihat kalian tersenyum, sungguh! Semua hanya karena kalian..

Aku pun tau, kalian menerima aku di samping kalian bukan semata2 karena aku tampan. Ketika kalian mengidolakan seseorang yang tampan maka aku akan memasang tampang tidak peduli, dan mencoba mengalihkan pembicaraan, bukan aku tidak peduli, sebenarnya aku cukup muak dengan cara kalian menyanjung lelaki yang bahkan mengenal kalian saja tidak!

Akan tetapi aku harus menjadi pemimpin yang baik untuk kalian dan menjadikan aku bersikap lebih bijaksana di depan kalian. sungguh! Semua itu hanya karena kalian..

Aku cukup mengerti bahwa kalian menghargai setiap usaha yang aku lakukan untuk membantu kalian mengerjakan tugas kalian, ketika kalian mengatakan dalam kesulitan, sungguh aku akan berusaha sebisaku untuk membantu kalian.

Dan aku pulang dengan makanan, tanpa tugas yang kalian butuhkan, artinya aku  tidak mendapatkan apa yang kalian cari dan yang ada dipikiranku saat itu hanyalah bahwa usaha terakhir yang dapat aku lakukan hanya menemani kalian! Hingga tugas itu selesai, meyakinkan bahwa kalian tidak lupa untuk mengisi perut kalian, aku sungguh khawatir pada kesehatan kalian.. sungguh,semua itu hanya karena kalian..

Aku tau, kalian kesal ketika aku mengacuhkan kalian hanya untuk bermain game bersama teman - temanku, tapi ketika itu, ketika ada sedikit waktu, aku mencari handphone-ku dan menanyakan kabar kalian, karena aku ingin mengetahui kabar kalian. Dan tahukah kalian? Sebelum aku bermain game itu, aku bersama kawan-kawanku membicarakan pasangan kami masing-masing, membanggakan bahwa kami memiliki pasangan terbaik di dunia! Atau membicarakan masalah-masalah yang timbul pada hubungan kami, dan masing-masing akan memberikan sarannya untuk menyelesaikan masalah kita, itu aku lakukan hanya karena aku ingin mendengarkan pendapat orang yang dekat dengan kita, di sekitar kita, mengenai keputusan yang akan aku buat.
Kadang memang aku mematikan handphone ku, namun ketika aku mengetahui kalian menelpon atau membaca sms dari kalian, maka aku akan meletakkan game itu dan berlari ke pojok kamar menelepon kalian, tidak peduli teman2 ku bersorak sorak menggodaku. Sungguh, semua itu hanya karena kalian.

Aku pun sadar, aku bukan bayi yang harus kalian ingatkan untuk sembahyang, atau makan. Kadang aku  akan bersikap tak peduli. Namun ketika aku membaca sms kalian atau mendengarkan suara kalian ketika mengingatkan aku untuk makan, maka pada saat itu aku pasti tersenyum dan berterima kasih (walaupun tidak kuucapkan), dan ketika itu, ingin sekali rasanya aku membalas dengan kata-kata “iya, kamu juga ya..”,
Maka aku benar2 tulus mengatakannya… sungguh, semua itu hanya karena kalian…

Ketika aku seperti tak  acuh pada kalian, maka pada saat yang sama aku sedang menyiapkan kejutan untuk kalian dan ketika aku memberikan barang milikku pada kalian waktu mengantarkan kalian hingga pintu dan pamit pada orang tua kalian, maka kalian harus tau bahwa barang itu adalah barang yang berharga untukku. (walaupun barang itu terlihat biasa untuk kalian) tolong tersenyumlah untukku, karena senyum itu yang menghidupkan hidupku! Sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Dan ketika kalian bersedih, lalu aku melakukan hal-hal konyol, melontarkan lelucon-lelucon yang mungkin tidak lucu, maka sungguh aku tidak bermaksud memperkeruh suasana.  Aku ingin melihat kalian kembali tersenyum. Hanya itu! Dan ketika kalian melihatku dengan pandangan tidak suka, maka ketika itu aku sungguh merasa bersalah, jalan terakhir yang akan aku lakukan adalah meminta maaf.. -meski yang terjadi pada diriku, aku selalu gagal mengucapkannya- berharap itu dapat sedikit mengurangi beban kalian. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Sejujurnya aku tidak menyukai pujaan hatiku menangis. Sungguh itu membuat aku bingung setengah mati! Maka tolong jangan salahkan aku, ketika aku meminta kalian berhenti menangis. namun aku pasti akan mendengarkan apa yang kalian ucapkan dalam tangis kalian, dan percayalah, aku akan tetap disamping kalian walaupun kalian menangis hingga tertidur di depanku, di sampingku, atau bahkan di dekapanku.

Jika karena amarah kalian, kalian pulang ke rumah ibumu, dan kakek nenek kalian aku pasti akan bersedih. Dan tunggulah, pasti aku akan menelepon kalian keesokan harinya untuk menanyakan kabar kalian atau datang ke rumah membawakan coklat untuk melihat senyum kalian lagi sungguh, itu hanya karena kalian....

Bagi aku, kalian tetap yang tercantik, dan terindah! Ketika kalian bertanya mengenai berat badan kalian yang naik? Atau baju kalian yang mulai tidak cukup? Maka dalam hati aku tertawa. meski yang keluar dari mulutku hanya senyuman, atau bahkan cercaan karena kalian makin gendut dan itu kurang bagus.

Aku akan berkata TIDAK, bukan untuk membohongi kalian, tapi karena di mataku kalian tetap paling indah!! karena aku sebenarnya tidak mencari malaikat yang tanpa cela, atau bidadari yang paling cantik sedunia, aku mempunyai peri2 bijak yang selalu ada di sampingku. Ya! itu adalah kalian.. mengertilah, sungguh, itu hanya karena kalian..

Ketika kalian berkata baik-baik saja, maka aku akan tersenyum dan berkata, “Ok, kalo ada apa2 bilang ya”. Karena aku tidak ingin memaksa kalian mengatakan sesuatu yang tidak ingin kalian katakan padaku, dan tanpa kalian minta aku akan bertanya pada sahabat kalian apakah kalian benar2 baik2 saja? jika sahabat kalian tidak mau menceritakannya maka aku tidak akan mencari tau lagi, dan lantas akan berdoa untuk kebaikan kalian.
Karena aku  berharap kalian cukup mempercayaiku untuk menceritakan semuanya.. bukan karena aku  memaksa kalian, sungguh, itu semua hanya karena kalian….

Dan ketika kalian membutuhkan aku, yakinlah bahwa aku akan selalu ada untuk kalian. ketika kalian mengatakan “tidak usah” pun, aku akan selalu ada di samping kalian. Karena kalian adalah orang yang aku sayangi, percayalah..!! sungguh, semua ini hanya karena kalian..

Jika aku sudah memilih kalian, maka yakinlah, kalian adalah peri2  ku yang bijak, setidaknya itu yang aku  pikirkan saat ini, dan selamanya…

Ketika kalian (mungkin tanpa kalian sadari) menyakiti hati ku dan meninggalkan ku, aku mungkin akan marah, tapi itu hanya sesaat, dan yang kalian harus tahu, ketika aku  benar2 telah memilih kalian untuk menemaniku, maka walaupun hubungan itu berakhir, separuh ruangan hatiku sudah kutulis menjadi ruangan kalian, maka ketika aku mempunyai kekasih yang lain, maka mereka hanya akan mengisi ruang di sisi yang lain, datang, dan pergi pada sisi itu. ruangan kalian akan tetap kosong untuk kalian, ketika kalian datang kembali untukku.


Minggu, 04 Desember 2011

Semakin Unik Saja

Hari Ahad adalah hari pilihan buat ku memanjakan diri, kumpul sama papah dan anak-anak.
Bangun subuh dengan "meletakkan" sebagian kepenatan hari-hari sebelumnya, dan mengistirahatkan badan dan fikiran. Mencari sebanyak-banyaknya hal inspiratif untuk "recharge" semangat, bersiap melanjutkan perjuangan di hari esoknya. "Kruntal kruntel" sama papah, genduk dan kenang, menjadi reenergizer yang sangat indah. Berpindah dari tempat tidur ke ruang tengah, berlarian dari ruang satu ke ruang lain yang memang tidak sangat longgar, menyempatkan bermain sunda manda.
Pagi hari beranjak siang, perut sudah memberi kode, minta sarapan. Papah mengajak membeli saja di Warung Mbak Yem. Gudheg dan koyornya lumayan enak. Ternyata sampai di tempat yang dituju, antreenya panjang. Papah sampai duduk menunggu aku antree, sambil request makanan yang diingininya pagi itu. Ternyata aku tidak cukup pintar "nge-slading" di antreean. Berulang kali aku bilang ke penjual makanan yang aku pesan, selalu dijawab dengan, "Bentar ya Mbak, ini dirampungkan dulu, biar agak omber". Sampai papah ikut maju, "Kok lama banget, itu tadi yang antree di belakang kita malah sudah dapet dan sudah pulang!"
Mulai terasa ketidaksabarannya. Sampai giliran aku ditanya mau beli apa, yang aku maui sudah pada habis. Fikirku, ya sudah mbeli aja yang ada. Ku pesen pecel, gudheg sambel goreng, sama opor kepala ayam, pesenan papah.  Kecewanya, karena koyor yang diimpikan dari rumah, ternyata ndak dapet karena kehabisan. Kubawa senyum aja, di hati dan di bibir. Tapi ternyata, papah yang kecewa karena aku tak dapatkan koyorku. Ha ha ha ha, uniknya dia. Mustinya aku yang kecewa ya, kenapa dia yang jadi marah - marah? Dan kenapa pula marahnya dia ke aku ya... Tapi masih dengan senyum, dan berusaha tetap tersenyum, duduk di samping dia yang pegang kemudi, "mancal" pedal gasnya terasa sekali dengan amarah. Kufikir, kalau tidak ke aku marahnya lantas dia kudu luapkan sama siapa, tukang becak, atau tukang parkir yang ditemuinya? Lebih tidak okey, kan? Sambil masih menyangatkan amarahnya dengan bergumam, "Besok lagi, harus pake toleransi waktu. Kalau seperempat jam ndak dilayani, ndak jadi beli aja, kita pulang!" Well, aku maknai saja itu karena dia sayang aku. Mencoba berempati dg kecewaku tak dapat makanan yang aku inginkan. Meski caranya unik, aneh... But, why not...
Sampai di rumah kami makan, dan suasana kembali anteng, rupanya sisa-sisa amarah papah sudah hampir bersih.
Kulanjutkan aktivitas hari minggu, masih dengan leketuran sama pasukanku. Sesekali dhenok buka-buka bukunya, karena hari esoknya ulangan akhir semester.
Tiba waktu sholat, papah dan adik ke masjid. Adik jalan kaki, tapi papah bawa sepeda. Pulang sholat, ternyata papah lupa membawanya. Ini sih sudah kali ke "banyak" papah lupa sepedanya, di masjid. Adik yang pulang belakangan rupanya juga "nggak nggagas" kalau dia "diwajibkan" membawa sepeda papah, saat papah lupa. Sesampai adik di rumah, papah bertanya dengan nanda yang lumayan aneh, berkesan introgratif. "Jo, (panggilan sayang papah buat adik), kok pulangnnya ndak bawa  sepeda?"
"Lho, Adik ke masjid nggak naik sepeda"
"Ya sepedanya diambil ! Ndak mau!!! (nadanya mengancam)"
Adik malah bingung. Beruntung aku langsung tanggap, "Adik, tadi ternyata papah ke masjid naik sepeda, dan waktu pulang, papah lupa membawanya. Sekarang Adik balik ke masjid, dan ambil sepeda papah ya... Ayo Nak, mau pahala ndak?"
Mata adik berkaca-kaca, kutahu dia kecewa. Tapi takut mau bilang tidak.
Sampai sore, adik masih belum mau bicara. Sampai waktu habis asar, adik bergabung lagi dengan aku dan papah yang sedang googling di ruang tengah. Kutanya, "Adik masih sedih?"
Ditanya gitu, adik jadi manja. Terus aku punya kesempatan meng-clear kan suasana, mumpung papah ada.
"Ibu tahu, adik kecewa karena dibentak papah tadi kan? Ketahuilah Adik, dalam hatinya papah itu sayang banget sama Adik. Hanya saja, papah itu sering ndak bisa ngomongnya, ndak kayak ibu. Itu papah denger, dan papah dalam hatinya mengiyakan. Jadi, kalau papah bilang seperti membentak, seperti marah, atau kasar, itu sejatinya bukan karena papah buruk, atau jahat. Tp karena memang papah ndak punya banyak kosa kata indah, kayak ibu. Dimaknai indah saja, kan jadi indah..."
Mendengar penjelasan itu, air muka adik berubah menjadi riang...Alhamdulillaah 'alaa kulli haal...

Batinku, siapa sih yang tidak suka dengan kelembutan? (Copas dari FB Rumah Parenting Full: Bahagia bukanlah dari memiliki pasangan dan memiliki keturunan. Bahagia adalah dari bisa membahagiakan pasangan dan anak-anak kita. Bagaimana cara membuat mereka bahagia adalah dengan bahasa cinta. Jika bingung apa bahasa cinta pasangan...mulailah dari memahami bahwa setiap manusia suka kelembutan, kebaikan, empati, dan juga kebenaran. ZHR) Tapi siapa pula yang akan membantu papah memecahkan "hal ini" kalau bukan aku?
Yang semakin unik, dia milikku. Yang harus kujaga, dan kudampingi selalu, apa pun keadaanya, pembawaanya, dan tabiatnya. Jika adalah tabiat yang baik, semoga terjaga. Jikalah dia adalah pembawaan yang buruk, semoga aku bersabar dan menemukan banyak cara untuk mengurainya...

Nice Sunday, awal Desember 2011

Jumat, 05 Agustus 2011

Merdeka dari Stretch Mark

http://klikdokter.com/ads2/sponsor/read/2010/08/27/1/43/merdeka-dari-stretch-mark

Yuk Merawat Kulit Bayi Kita

http://www.klikdokter.com/ads2/sponsor/read/2010/08/27/1/44/tips-merawat-kulit-bayi

BERCIUMAN

http://klikdokter.com/gigimulut/read/2010/09/27/232/kissing--berciuman-

Ancaman Peningkatan Angka Kebutaan 2020

Ancaman Peningkatan Angka Kebutaan 2020 - Health Highlights

Mengenal Penyakit Von Willebrand

Mengenal Penyakit Von Willebrand - Health Topics

10 Cara Merubah Lelah ke Semangat

10 Cara Merubah Lelah ke Semangat - Health Topics

Khasiat Buah Tomat

Khasiat Buah Tomat - Health Topics

Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Berpuasa

Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Berpuasa - Health Topics

Mengatasi Bau Mulut Ketika Berpuasa

Mengatasi Bau Mulut Ketika Berpuasa - Health News

Kamis, 26 Mei 2011

AN NASIHAH (1)




v  Siapa mendengar pembicaraan suatu kaum,sedang kaum itu tidak senang kepadanya, maka akan dituangkan timah putih di telinganya pada hari kiamat (HR. Bukhory dari ibnu Abbas).

v  Dari ‘Uqbah bin Amir al Juhany beliau berkata: wahai Rosululloh, apakah keselamatan itu? Beliau menjawab: Jagalah lisanmu, hendaknya engkau merasa lapang dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu. (HR. At Tirmidzi dan selainnya. Shohih At Targhib dan Ash Shohihah).

v  Dari Al Bara bin Azib, beliau berkata ; kami pernah bersama Rosululloh dengan sebuah jenazah, kemudian beliau duduk di pinggir kubur, lalu beliau menangis hingga membasahi tanah. Beliau bersabda; wahai saudara2ku, untuk (keadaan) seoerti ini hendaknya kalian bersiap. (HR Ahmad Ibn Majjah dan selainnya. Ash shohihah no 1751).

 Alloh berfirman: mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai. (QS.Ar-Rum: 7). Ayat tersebut adalah celaan bagi orang-orang yang mengenal berbagai jalan mendapatkan dunia, namun lalai dari akhiratnya.
v  Siapa yang berjalan di masjid di kegelepan malam maka Alloh akan memberikan cahaya kepadanya di hari kiamat (HR Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hiban, dan selainnya).

v  Bilal Bin Sa’ad berkata: “Janganlah engkau melihat kepada kecilnay dosa, tapi lihatlah terhadap siapa engkau bermaksiyat.” (Ibnul Mubarok dalam Az Zuhd).

v  “Barangsiapa yang diberi bagian berupa kelemah lembutan sungguh dia diberi bagian berupa kebaikan dunia akhirat.” (HR.Ahmad dan selainnya, Ash Shohihah no. 519)

v  Dari Ma’qil Bin Yasar, Rosululloh bersabda: Andaikata seorang lelaki kepalanya ditusuk dengan jarum dari besi, hal itu lebih baik daripada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya (baca: bukan makhromnya). (HR. At  Tabrani,Ar Ruyani , dan Al Baehaqi, As Shohihah no.226)

v  Muhammad Ibnul Wazir berkata: Andaikata ulama meninggalkan pembelaan terhadap kebenaran dan khawatir kritikan manusia sunggguh mereka telah menelantarkan dan tidak khawatir tehadap hal yang hina (Al Awashim wal Qowashim 1/223)

v  Apakah kamu merasa aman terhadap Alloh yang di atas langit bahwa Dia akan mejungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba tiba bumi itu bergoncang (QS. Al Mulk:16)

v  Dari Abu Hurairoh, rosululloh bersabda ;  siapa yng meminta harta manusia untuk memperbanyak (hartanya), sesungguhnya dia hanya meminta bara api, silakan dia meminta (bara api tersebut) sedikit atau banyak (HR. Muslim).

v  Dari Ibnu Mas’ud, Rosululloh bersabda:  seorang mukmin bukanlah seorang yang suka mncela, sering melaknat, berbuat keji dan suka berkata jelek (HR. At-Tirmidzi)

Senin, 23 Mei 2011

Dentigerous Cysts of Inflammatory Origin-A case report

Dentigerous Cysts of Inflammatory Origin-A case report

KEHADIRANMU


**sepulu hari pertama di bulan Romadhon, 1998*

Sabtu sore ini jadual my beloved pulang. Suweneng pastinya, aku bakalan tak sendiri lagi. Buka puasa, makan sahur, sholat tarowih, ada suami yang menemani, dan kutemani. Ada yang agak berbeda dari kepulangan hari ini, dari pekan-pekan sebelumnya. Jelang tidur malam, suami bilang bakal ambil "cuti" 5 hari, dan dia akan temaniku siapkan barang-barang keperluan sambut si kecil, yang belum sempat disiapkan sebelumnya. Seneng, tapi gamang, pasalnya HPL ku masih 10 hari ke depan. Tapi tak mengapa, setidaknya, besok pagi suamiku bisa antarkan aku ke bidan untuk periksa, yang memang hari besok jadualnya. (ANC sangat rapi.)Di penghujung obrolan kami, aku sempat berujar, "Mas, aku takut tidak paham seperti apa rasanya orang mau melahirkan". dan seperti biasa, suamiku tidak banyak menjelaskan, tapi dia akan ingatkan aku untuk membaca kembali buku panduan hamil dan melahirkan.

Seperti biasa, aku sholat tarowih menjelang makan sahur. Ada yang aneh di perutku, rasanya seperti mau buang air besar. Tiap 2 rokaat dan salam, aku selalu selingi masuk kamar mandi. Tapi ternyata bukan buang air besar. Hingga tarowih dan witir selesai, aku bolak balik ke kamar mandi. Tiba saat makan sahur, rasa itu hilang, dan aku bangunkan suamiku, juga bapak, ibu dan kakakku. Makan sahur sperti biasa, dan setelahnya sholat subuh. Ba'da sholat subuh, tadarus Al-qur'an dan rasa itu kembali muncul, tapi aku pun belum "ngeh", bahwa itu adalah tanda mau melahirkan. Masih ku teruskan hingga beberapa ayat, lama kelamaan sakitnya terus bertambah. Aku baru bilang suamiku, bahwa perutku sakit. Sigap suamiku mengambil kontak kendaraan dan mengantarkanku ke bidan. Tetangga yang melihat kami pergi agak seperti terburu-buru, tentu menyangka aku akan berangkat melahirkan.

Jarak rumah kami ke tempat bidan sebetulnya tidak terlalu jauh, tapi karena jalan yang rusak dengan batu-batu di jalan menanjak dan curam yang sebesar kepala, suami memilih melewati jalan memutar yang agak lebih rata. Memang jadi terasa lama sekali menuju rumah bidan. Di jalan beberapa kali aku merasakan remasan hebat di perutku. Sesekali kuminta suamiku menghentikan kendaraannya. Sekali dua, dia ikuti permintaanku, tapi berikutnya dia pikir akan semakin lama sampai ke bidan. "Udah, kalau terasa sakit lagi, dibawa dzikir aja ya, nanti ndak sampai-sampai kalau berhenti berhenti terus...", ujarnya. "Baiklah", jawabku, dan ..... ALLOHU AKBAR... ada kekuatan luar biasa yang mendadak muncul setelah itu. Sungguh kalimat terindah yang pernah aku dengar, dan support luar biasa yang pernah aku dapatkan. Rasa sakit berikutnya berhasil aku tahan, dan akhirnya sampailah kami di bidan.

Bu bidan yang sangat baik, sudah punya catatan kapan aku akan periksa kehamilanku, sehingga ketika aku datang sudah tidak banyak lagi yang musti aku ceritakan. malah untuk pagi ini, aku tambahnkan, bahwa perutku terasa seperti diremes-remes. Akhirnya bu bidan memeriksa, dan meminta aku untuk batalkan puasa karena proses partus sudah dimulai. Beliau bilang, "Sudah pembukaan satu, Mbak....". Selanjutnya beliau menjelaskan, bahwa untuk partus pertama, biasanya waktunya agak lama, dari pembukaan satu sampai pembukaan penuh, waktunya kurang lebih 5 jam. Dan sembari menunggu aku diminta jalan jalan pelan tidak jauh dari rumah bidan. Bu bidan kemudian berbincang dengan suamiku, dan setelahnya suamiku memutuskan untuk pulang menjemput ibu. Agar saat melahirkan nanti ibuku mendampingiku.

Rupanya suamiku bercerita seperti yang bu bidan bincangkan, sehingga ibuku merasa masih punya waktu sangat longgar untuk mempersiapkan segala sesuatunya, dan baru akan datang nanti 2 jam menjelang aku melahirkan. Satu jam setelah pemeriksaan pertama, dan setelah jalan-jalan beberapa menit saja, aku merasa mengantuk luar biasa. Bu bidan mempersilakan aku tidur. Ternyata, setengah jam saja aku lelap, bangun tidur aku merasakan kembali perutku kruwes-kruwes hebat (-ini yang dinamakan kontraksi-).  Kubilang bu bidan yang segera memeriksaku kembali. dan ternyata, "Mbak, sudah pembukaan sempurna nih, siap-siap aja ya...". "Waduh, bu bidan,  suami dan ibuku belum datang, gimana ini". "Ya ndak apa-apa, sama saya". "Okey Bu, Bismillaahirrohmaanirrohiim". Batinku terus berdoa, Ya Alloh mudahkan dan lancarkan semuanya. Dan alhamdulillaah, beberapa menit berikutnya suami dan ibuku datang, betul-betul pada saat yang sangat tepat. dan setelah itu aku melalui masa-masa yang sangat penting, untuk sejurus kemudian kudengar tangis bayi, dan itu bayiku... Tak terasa meleleh air mataku, aku sudah menjadi ibu. Dan kehadiranmu, buah hati kami, benar-benar di saat yang sangat tepat. Sempat kulihat binar suamiku, yang pasti tengah mengolah sekian macam rasa, berbaur menjadi satu, hingga tak sempat keluarkan sepatah kata pun. 

Bayiku dibersihkan, diselimuti, kemudian ditahnik sama ayahnya. Giliran berikutnya bu bidan membersihkanku, dan memindahkan kami ke ruang yang lebih nyaman utk aku dan bayiku beristirahat. Dua belas jam berikutnya kami baru diijinkan pulang, stelah dipastikan bayiku bisa BAK, BAB secara normal. Sore hari kami pulang, dan untuk bapak ibuku, kali ini kepulanganku bersama dengan warga baru yang kehadirannya tentu sudah beliau nantikan.

Allohu ta'ala a'lam... 

Kamis, 19 Mei 2011

ABAI BUNDA (2)

Pagi itu ban sepeda onthel kami kempes. Seperti biasa aku harus mengisi anginnya di bengkel dekat rumah. Biasanya setengah sembilan pagi bengkelnya sudah beroperasi. Ternyata kudapati si om pemilik bengkelnya belum buka lapak. Kuputar arah dan berbalik pulang, menunggu di rumah.
Jam setengah sepuluhan aku balik lagi ke bengkel, untuk "cari angin" buat lingkaran hitam sepedaku. Alhamdulillaah, si om sdh lagi bebenah, siapkan "workshop"nya juga dagangan bensin eceran di "pertamini" miliknya. Sambil ngisi angin, aku tanya, "Kok sampai siang Om?". 
"Iya Bu, tadi cucian istri saya banyak, saya mbantuin dulu".
"Oh... Rajinnya... Seneng ya jadi istri Om, dibantuin kerjaannya"
"Lho, sudah jadi kewajiban suami to, mbantuin istri. Kan bekerja sama".
Kufikir, suami mbantuin apa ya, kalau pagi-pagi. Rasanya ndak deh...
Belum lagi kudapat jawabannya, si Om bengkel sudah melanjutkan kalimatnya, "Suami Ibu juga rajin, mbantuin Ibu kalau pagi hari. Tiap saya lewat dari kulakan bensin saya lihat bapak lagi nyuci dan ngelap-ngelap mobil, terus habis itu nganterin putra-putrinya ke sekolah".

Si Om pemilik bengkel menyadarkanku, bahwa bantuan dan peran suamiku sangat berarti untuk normalisasi pagi di rumah kami. Aku berfikir, "Benar juga ya..." Sambil pulang, sempat kubayangkan, jika pagi-pagi suamiku tidak melakukan aktivitas itu, maka aku harus sibuk dan berjibaku dengan waktu. Mulai dari memasak untuk sarapan pagi, hafalan pagi dan tadarus al-Qur'an anak-anak, memeriksa PR dan tugas-tugas tertunda, membenahi baju seragam, menjadi hakim sekaligus jaksa untuk anak-anakku yang hampir selalu bertikai berebut kamar mandi belakang, dan masih harus kulengkapi dengan mengantar mereka ke sekolah. Terbayang betapa pagi hariku menjadi sibuk, repot, dan tentunya "full teriyaki = teriak sana sini", dengan anak-anakku yang mau berangkat sekolah, juga suami yang harus disiapkan ini dan itu.

Om Bengkel (aku ndak tahu namanya) yang memberiku pencerahn dan inspirasi positif. Tidak boleh aku mengecilkan peran siapa pun orang di sekitarku, dan apa pun yang dilakukannya. Semua tetap bermakna dan punya peran untuk normalisasi hidupku, jiwaku, dan badanku.  Sedikit tapi -bagiku- menggelitik.

Alhamdulillaah,
Oh Alloh, betapa banyak hal yang harus sangat aku syukuri...

Rabu, 18 Mei 2011

KENANG...... (2)

***hari itu, saat kau TK kecil..***

"Ibu, adik minta beli TAMIYA.....", rengekmu sutu hari, sepulang bermain. Seperti biasa, ayah tak segera turuti permintaanmu. Ibu berkhusnudzon saja, pasti ada rencana sangat baik dari ayah untukmu, dan untuk kita sekeluarga.

Beberapa hari berikutnya, ayah pergi ke Jogja untuk sebuah acara ilmiah. Bukan ayahmu kalau bepergian pulangnya tak membawa oleh2. Selain buat ibu, kakak, kadang juga buat kawan dan saudara lain. Dan oleh2 istimewa buatmu saat itu adalah TAMIYA. Sangat membuatmu bahagia bukan? Tapi ceritanya menjadi lain, ketika tamiya yang kaudapat bukan seperti yang kaubayangkan. Yang ayah dapat, bentuknya setengah jadi, belum dirakit. Jadi kita harus merakit sendiri.

Ini tantangan baru. Ibu sama ayah mencoba merakit "mobilmu". Ibu baca2 urutan perakitannya. Tapi... ya Alloh..., komponennya kecil2 sekali. Kau memburu untuk segera ingin melihat hasil jadinya, ingin segera bermain TAMIYA. Kau ingin merakit sendiri. Kerja yang belum ada setengah sudah harus diulang beberapa kali, sampai akhirnya semua komponen rumitnya bercampur jadi satu, sulit diidentifikasi mana bagian muka, mana bagian belakang. Ruwet ya... Dan kau pun mulai gusar.

Ibu memutar otak, bagaimana menghiburmu dan mengalihkan perhatianmu dari tamiya itu dengan kau tetap ceria, tidak kehilangan semangatmu. Ibu mendongeng sembari menjelaskan tentang kelemahan dan kelebihan orang seorang. Ayahmu bukan orang yang ahli merakit tamiya, apa lagi mesin yg lebih besar. Tapi ayahmu punya keahlian lain yang orang tidak punya. Kemudian kau bertanya, "Siapa yang pandai merakit tamiya ini?". Ibu jawab, " Orang yang sekolahnya di bidang tekhnik mesin". Lalu kau melompat girang, "Ibu, Ami (paman) kan kuliahnya di tekhnik mesin, berarti Ami bisa merakit tamiya buatku".
"Iya, tapi Ami kan jauh di Jogja. Kalau mau, Adik tunggu sampai Ami datang, kita belajar sama Ami biar bisa merakitnya".
Rupanya kau tak cukup puas dg jawaban ibu. Tapi kau sedikit lebih tenang.

Esok paginya saat kau mustinya sudah harus bersiap ke sekolah. Pagi ini kau tidak mau mandi, tidak mau beraktivitas seperti pagi sebelumya, bahkan sepertinya samar2 ibu dengar kau bilang mulai hari ini tidak mau sekolah saja. Ibu bujuk kau. Tapi tak bergeming. Jurus berikutnya kita berdiplomasi. Apa, mengapa dan bagaimana, seperti biasa. Akhirnya kau mau bicara alasanmu, "Adik tidak mau sekolah karena di sekolah adik tidak diajarkan merakit mesin. TK Adik kan bukan fakultas tekhnik mesin". "Waah, kalau begitu kita ke sekolah dulu, pamitan sama bu guru".

Dan sesampainya di sekolah, kau bilang sama bu gurumu. Ibu menunggu di luar. Ternyata kok agak lama, dan sebentar kemudian kau bilang, "Ibu, Adik tidak jadi pamitan. Adik tetep sekolah di TK. Adik mau sekolah yang rajin biar besok bisa masuk SD. Kalau lulus masuk SMP, terus SMA, baru kuliah di tekhnik mesin kaya -sperti- Ami. Adik mau merakit tamiya adik sendiri".
Akhirnya ibu pulang, dan sudah mendapatkan jawaban untuk TAMIYA-mu pagi ini.

Alhamdulillaah, 'alaa kulli haal...

KALA AKU MENJADI RENTA......

Kala aku menjadi tua dan renta, bukan lagi aku yg dulu
Maklumilah diriku, bersabarlah menghadapiku

Disaat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, karena lemahnya tanganku, atau karena tak melihat mataku
Disaat aku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu, atau tak sadar memakai yang kanan di kaki kiriku
Ingat dan fikirkanlah saat2 bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk kau melakukannya

Dikala karena lupaku, aku mengulang terus menerus ucapan yg membosankanmu
Bersabarlah mendengarkannya. Jgn memotong ucapanku karena itu akan menyakitkanku
Di masa kecilmu, aku harus mengulang dan tetap mengulang cerita pengantar tidurmu, hingga dirimu terbuai mimpi, tak lagi mendengar bagian akhir ceritaku

Di kala aku membutuhkan jiwa dan ragamu utk memandikanku
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah, di masa kecilmu bagaimana aku dg segala cara membujukmu utk mandi atau bahkan bangkit dari berendammu

Diwaktu aku kebingungan menghadapi hal2 baru, istilah2 baru, dan teknologi modern
Janganlah mentertawakanku
Renungkanlah, bgm aku dg sabar, hati2, jujur, dan konsisten menjawab setiap "mengapa" yg kauajukan saat itu

Disaat kedua kakiku terlalu lemah utk berjalan..
Ulurkanlah tangan kuatmu utk memapahku, dg hatimu
Sebagaimana di masa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki utk belajar berjalan

Di waktu aku melupakan topik perbincangan kita
Beri sedikit waktu padaku utk mengingatnya. Kala itu sungguh topik pembicaraan kita bukanlah hal yg amat penting bagiku. Adalah kau berada di sisiku, mendengarkanku, meng-ia-kanku itu telah sangat membahagiakanku

Di saat kau mendapatiku menua dan menjadi renta
Janganlah bersedih, jgn pula merasa keberadaanku mengganggumu
Maklumilah diriku dan keadaanku
Dukunglah aku menghadapi masa2 sulitku

Dulu aku menuntunmu utk menapaki jalan kehidupan ini
Kini temanilah aku melalui masa ku, hingga akhir jalan hidupku
Berilah aku kasih sayang dan kesabaranmu
Aku akan mendapatinya berbuah syukur dan senyuman
Dan dalam tiap2 senyumku, terpupuk subur kasih sayangku yg tak terhingga padamu



SPECIAL buat DHENOK DAN KENANG..
Ibu sayang kalian, selalu...

MONOLOG BUNDA (2)

**medio Mei 2010**

Kenapa tergoda lagi?

Aku adalah bibit tanaman, yang buahnya disuka banyak orang. Lazimnya, daun dan pohonnya pun menarik, meski sekedar sebagai perindang. Banyak yang ingin milikiku, banyak yg ingin cicipi buahnya, banyak yg ingin membeli dari tuannya. Beberapa berani memndam rasa saat ternyata gagal memiliki bibit buah itu. Apa lagi memakan buahnya, memandang indahnya pohon buah itu, atau menikmati sejuk rindangnya pun adalah sebuah kemusykilan, hampir mustahil.

Sejatinya aku sendiri bingung, mengapa orang-orang sangat ingin memilikiku, memetik buahku, melihat keindahan pohonku, dan bertenduh di bawahnya? Padahal sebelum ini aku merasa adalah pohon yang tak berharga. Yang amat mudah gersang dan meranggas kala sedikit saja hadapi kemarau. Yang amat sulit berbuah karena tanah tempatku bertumbuh bukanlah tanah yang amat cukup unsur hara.

Dan kebingunganku tak berhenti, kala pilihan pemilik pohon aku, yang amat sangat baik merawatku dan sangat bangga memilikiku, jatuhkan kepada seseorang yang dia bukan kaya raya, yang bahkan bukan pula membayar bibit buahku dengan kontan. Yang dia belakangan kuketahui adalah bukan penyuka buahku, bukan penyuka kerindangan, bukan penyuka keindahan. Dia juga bukan penawar ulung, bukan pula pejuang yang gigih mencari barang, buah, atau hal lain untuk berbarter dengan pemilikku sebelum ini. Takdir Alloh pastinya, kenapa pemilikku merelakan aku pada pembeli ini, tanpa perjuangan keras, sekeras orang lain yang ingin memiliki bibit buahku.

Kadang aku tergoda -seperti saat ini- untuk memberontak, tapi apa yang bisa aku lakukan. Sering aku merana karena tak disiram, susah payah aku tunjukkan kesuburan pohon buahku, karena makananku tak tercukupi. Padahal akarku sudah menghujam bumi, di halaman rumah sang pembeli. STapi, sang pemilik baruku sering biarkan aku tak berbuah. Orang kemudian tak ingin lagi membeliku, memilikiku. Aku tak lagi menarik, pohonku, daunku, apa lagi buahku. Sesekali saja dia, mereka, beberapa orang yang melewati halaman rumah tuanku, mengambil sehelai atau beberapa helai daunku sembarangan, serampangan, utk kemudian dibuang. Tuanku pun tak mencegah, tak melarang, tak peduli.

Seringai aku kala hujan tiba, berharap aku menjadi subur, atau setidaknya tampak sedikit lebih segar. Meski tidak pernah berani berharap tuanku akan tertarik padaku.
Kembali ini sudah takdirNYA. Alloh pasti beri yang terbaik buatku, seluruh mahlukNYA di alam ini, sesuai peruntukannya, dengan sangat pas dan tepat. Tak melenceng barang satu mikron pun.

Jika saja aku bukan bibit pohon ini, bahkan tak ada yang sempat menyukaiku.
Jika aku tak pernah disemai oleh pemilikku mungkin aku belum sempat utk tumbuh menjadi pohon, bahkan tunas sekalipun.
Jika saja bukan tuanku ini yang membeli, mungkin aku malah belum ada yang membeli, kemudian tuanku sang penyemai sibuk dengan bibit buah dan pohon lainnya, maka aku pun terbengkelai.... tak berbeda merananya.

Ah, betapa aku musti bersyukur saja. Itu, nun jauh di sana, di sekitar Merapi, banyak pohon yang lebih merana karena letusan dan muntahan lahar panas gunung itu beberapa waktu lalu. Kemudian beberapa yang masih bertahan, di waktu berikutnya diterjang banjir lahar dingin tanpa ampun, dan rusak atau mati tak berbentuk.
ALLOHU ROBBUL 'ALAMIN, Sang Maha Pengatur segalanya...

Rabu, 11 Mei 2011

KENANG

oleh Karunia Atiek pada 23 November 2010 jam 21:18

malam ini, jam dinding "pecah" itu kabariku sudah pukul 10 lewat.
kau sdh terdiam dlm lelapmu.
Nang..

ibu kok sakit hati ya..
ibu ingin agar wkt berjalan cepat saja..
cepat..

tapi Nang..
ibu jd kurang sabarnya.
kurang belajarnya.
kurang berusaha
kurang berdo'a

adakah ketidakberuntungan yg serasa hampir tiap hari kautemui adalah buah dari kesalahan ibu?
ataukah kemaksiyatan yg ibu lakukan membuatmu menjadi pecundang hampir saban waktu?
kapan keberpihakan itu ada dan tertuju padamu?

Nang..
ibu sayang padamu
ibu ingin kau jd pemenang, bukan pecundang
ibu mau kau tegar, tidak lemah
ibu akan dampingi kau merajut tiap lembar hidupmu
insya Allohu ta'ala..
ibu pasti harus bersyukur dg tiap apa pun keadaanmu kini.. dan selamanya..

Nang..

Sabtu, 07 Mei 2011

Keranjang Belanja Anakku

(Sungguh tak ada yang terlambat,
anakku...mari memulai, dari banyak hal yang sudah kita awali...)

Hari ini, dan untuk seterusnya
Tajuk pagi kita adalah PENUHI KERANJANG BELANJA
Iya
Mari Nak, penuhi keranjang belanja kita
Dengan amal sholeh
dengan hafalan al Qur'an
Dengan ILMU
Sedikit demi sedikit
Keranjang belanja kita akan penuh
Tidak perlu tergesa, tapi tidak pula malas DAN tidak bekerja
Alloh pasti akan hargai kerja kita
Dan kelak, kita akan bawa "keranjang belanja" kita
MenghadapNya...
Di sana tidak ada tipu daya..
Di sana tidak ada kepura-puraan
Semua apa adanya
Masing-masing menghadap dengan keranjang belanja yang dulu dibawanya
dengan kranjang yang sama
dengan isi yang berbeda
dengan cara membawa yang berbeda
dengan wajah yang berbeda...
Mari bersemangat...
Wujudkan cita-cita luhur kita
MEMBAWA KEMBALI KERANJANG BELANJA KITA, MENGHADAP SANG KHOLIQ DENGAN WAJAH DAN HATI GEMBIRA, BERSAMA ORANG-ORANG YANG TAQWA...


buat denok dan kenang...
Ibu sayang Kalian.....

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa ASI Eksklusif Harus 6 Bulan?

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa ASI Eksklusif Harus 6 Bulan?: "Jakarta, Masyarakat telah mengetahui pemberian ASI eksklusif dilakukan hingga bayi berusia 6 bulan. Tapi kenapa harus sampai 6 bulan?"

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Bayi Mogok Mimi Asi?

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Bayi Mogok Mimi Asi?: "Tidak mau menyusu atau melakukan pemogokan adalah sesuatu yang normal dan bisa berlangsung beberapa hari. Namun kondisi ini bisa menjadi ses..."

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Banyak Ibu Gagal Menyusui ?

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Banyak Ibu Gagal Menyusui ?: "Pernahkah kita perhatikan bahwa semua mahluk mamalia ciptaan tuhan, kecuali manusia, bisa menyusui bayi yang baru dilahirkannya tanpa ada ma..."

kiat sehat tanpa dokter: Khasiat Pegagan / Antanan Unuk TB Paru

kiat sehat tanpa dokter: Khasiat Pegagan / Antanan Unuk TB Paru: "Pegagan atau nama kerennya Centella asiatica itu tumbuhan liar yang ada di dataran rendah, sampai sekitar 2.500 m di atas permukaan air la..."

Small Intestine Disorders

Small Intestine Disorders: MedlinePlus

WASPADAI SUSAH BAB

http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2009/04/11/698/susah-bab--awas-kanker-usus-

bedah anak: Invaginasi

bedah anak: Invaginasi: "Invaginasi Pada Anak Anatomi usus halus Usus halus terdiri dari 3 bagian yaitu duodenum, yejunum dan ileum. Panjang duodenum 26 cm, sedangk..."