Hanya mengumpulkan tulisan2 yg sering dan pernah saya butuhkan, semenjak menikah kemudian hamil, sampai sekarang dan Insya Alloh sampai ke depan, mengiringi pendampingan pada buah hati kami. Terimakasih untuk kawan-kawan yang telah menginspirasi saya tentang banyak hal. Semoga Allah menilai sebagai amal baik dan berbalas dengan pahala yg setimpal. Beri saya masukan, saran dan kritik membangun untuk kemanfaatan banyak orang, untuk kebaikan dan perbaikan di masa datang. Allahu Ta'ala A'lam.
Senin, 20 Februari 2012
GRAFOLOGI
Bisa mengetahui sifat dan
karakter seseorang tentunya sangat mengasyikan. Walaupun belum terlalu mengenal
teman atau kekasih yang baru kita kenal. Ada banyak metode untuk bisa mengetahui
karakter dan sifat seseorang. Salah satunya kita bisa mengetahuinya lewat
tulisan tangannya. Unik kan? Ada suatu ilmu dari cabang psikologi yang
dinamakan Grafologi. Apa itu Grafologi?
Grafologi adalah ilmu atau seni membaca
tulisan tangan seseorang. Mirip seperti DNA atau sidik jari seseorang, yang
punya keunikan tersendiri untuk mencirikan keunikan seorang manusia. Manusia
diciptakan memang sangat unik dan tidak ada yang sama.
Grafologi bisa dipelajari dengan sederhana dan
tidak sulit untuk bisa mempelajarinya. Bagaimana cara untuk mempelajarinya?
Mari kita lihat!
1. Besar Kecilnya Tulisan.
Dilihat dari sudut pandang besar
kecilnya tulisan terdapat empat kriteria penting yaitu : kecil, sedang, besar,
dan sangat besar.
Tulisan yang berukuran kecil
menunjukkan sifat pendiam, sering menyendiri tapi punya otak yang cemerlang dan
pikirannya selalu ilmiah.
Tulisan tangan yang ditulis
kecil-kecil tapi jelas mudah untuk dibaca menunjukkan penulisnya pandai, juga
punya konsentrasi kuat, walau sayang tipe ini kadang suka sekali menonjolkan
keilmuannya. Sedangkan jika tulisan tangan kecil dan susah membacanya berarti
sang penulis adalah orang bertipe mandiri dalam hidupnya.
Tulisan tangan sedang, mengandung
makna bahwa penulisannya adalah orang yang sangat terpaku kepada tradisi kuno,
atau hal-hal yang bersifat formil modern. Sangat jitu dalam penggunaan logika
untuk dasar referensi keputusan-keputusannya.
Jenis tulisan tangan yang besar
menunjukkan besarnya ambisi seseorang namun murah hati dan selalu ingin
dihargai oleh orang lain, di samping suka melebihkan omong-omongan yang kurang
perlu. Sedangkan untuk jenis tulisan tangan yang sangat besar menunjukkan bahwa
penulisnya sangat hati-hati dalam segala hal, gemar membuat perhatian bagi
sekelilingnya, banyak over aktingnya dalam mencari perhatian.
2. Gaya Tulisan.
Dalam spesifikasi Gaya Tulisan
ini terbagi ke dalam lima sub. Masing-masing, adalah :
2.1 Gaya Sambung Biasa
Orang yang punya model tulisan begini biasanya
senang memberi respon pada setiap masalah, bisa menerima ide dari orang lain,
mudah bergaul dan disenangi teman. Baginya berbakat untuk menjadi seorang
pemimpin.
2.2 Gaya Sambung Berbentuk Petak
Mengandung arti penulisnya mudah
dipengaruhi, selalu menilai enteng setiap persoalan, hingga tindakannya kadang
terkesan sembrono, tanpa pemikiran matang.
2.3 Gaya Sambung Berliku
Tulisan yang banyak luka-likunya, mengandung
makna bahwa penulisnya sangat formil, hati-hati dan sering menonjolkan status,
namun umumnya sifat mereka pendiam, gemar menyendiri dan biasanya banyak
memiliki keahlian atau bakat.
2.4 Gaya Lurus dan Lancip
Tulisan tangan model demikian menunjukkan
penulisnya orang agresif, sangat tekun mengerjakan sesuatu, walau kadang enggan
berkompromi dengan orang lain. Bila lancipnya pada huruf awal saja maka
pertanda dirinya orang yang banyak mengalami konflik psikologis, sehingga
kadang bersikap agresif.
2.5 Gaya Campuran
Bentuk tulisan bersambung yang tak karuan
menuliskan cepat, dan kadang sukar membacanya hal ini mengandung arti bahwa
penulisnya adalah orang yang biasa berpikir cepat, kreatif tapi paling
tersinggung kalau dikritik. Bahkan, bila tidak sesuai dengan kehendaknya jangan
harap orang bisa mendapatkan bantuannya karena dia paling doyan mengelak dalam
memberi pertolongan.
3. Kemiringan Tulisan
Bentuk kemiringan tulisan tangan,
apakah itu miring ke kiri atau ke kanan, atau tegak lurus.
Mereka yang tulisannya miring ke
kiri menunjukkan penulisnya bersikap tertutup (introvet). Segala sesuatu diukur
menurut penilainnya sendiri atau menurut ukuran masa lampau. Disamping
mempunyai sikap konservatif, orang dengan tipe tulisan ini sangat individualis.
Jenis tulisan miring ke kanan,
menandakan orang yang ramah, aktif dan bersikap terbuka (extropet), berani
menghadapi tantangan baru. Dalam bekerja kata hatinya merupakan power yang
penting, tapi dalam hal yang kurang dikuasai dia lebih banyak untuk menanyakan
kepada ahlinya.
Tulisan tangan yang bentuknya
tegak, mengandung arti bahwa penulisnya adalah tipe orang yang tak suka banyak
diatur. Baginya dia adalah miliknya sendiri, kebebasan menjadi hobinya dalam
mengerjakan sesuatu tindakan, namun kontrol diri tidak pernah lepas dalam
memilah dan memilih hal yang dianggapnya positif.
4. Tekanan Tulisan
Bila kita memperhatikan bekas
tulisan tangan seseorang akan ditemukan tampak goresan tekanan tulisan seperti
tercetak di baliknya. Dengan memperhatikan bekas goresan yang tercetak di balik
kertas kita akan dapat mengetahui dan menebak bagaimana kepribadian dan tingkah
laku si penulisnya.
Tekanan yang halus berarti
pembawaannya tenang, tapi mudah atau tidaknya dibaca itu bukan persoalan.
Sedangkan tulisan yang bekas tekanannya tercetak jelas dibelakangnya menandakan
penulisnya punya sifat kaku dan formal. Karenanya orang ini sulit untuk bisa
cepat menyesuaikan diri dalam pergaulan, namun dia menganggap bersikap demikian
penting baginya agar dihargai orang lain.
5. Bentuk Huruf Awal
Diantara orang ada yang gemar
memainkan bentuk tulisannya, terutama bentuk awal tulisannya. Beberapa ciri dan
kecenderungan karakter si penulis adalah sebagai berikut :
5.1 Bentuk Jangkar
Disebut bentuk jangkar karena memang huruf
awal tulisnya dalam bentuk jangkar. Tulisan ini memberi tanda bahwa yang
memiliki tulisan cenderung bersikap kurang dewasa dan kurang percaya diri dalam
menjalani hidup. Dia banyak bersikap pasif.
5.2 Bentuk Busur
Disebut bentuk busur karena memang bentuk
awalnya membentuk busur seperti ditarik. Pemilik tulisan ini biasanya cepat
puas dengan hasil yang dicapai, dan hidupnya sangat berpandangan kuat akan
nilai-nilai religius.
5.3 Bentuk Memanjang
Huruf awal memanjang yang dituliskan
pelan-pelan, menunjukkan bahwa orangnya terlalu berhati-hati dalam merencanakan
masa depan. Panjanganya huruf awal menunjukkan kelambatan kerja dan pemborosan
waktu.
5.4 Bentuk memanjang dari bawah
Bentuk memanjang dari bawah bila digoreskan
secara kilat menunjukkan penulisannya orang yang agresif dan cepat
menyelesaikan pekerjaan, disamping gemar melakukan berbagai eksprimen.
Marjin dan Kemiringan Tulisan
juga Mengungkap Karakter Seseorang
Mengungkapkan kualitas pendidikan
dan sosial.
Marjin atas lebar: cenderung
menarik diri dan menjaga jarak dengan orang lain, bersifat formal, hormat
terhadap orang lain.
Marjin atas sempit: menyukai
formalitas.
Marjin bawah lebar: rasa takut
terhadap seks, idealis, kurang bersahabat, mementingkan keterampilan luar,
adanya trauma emosional.
Marjin bawah sempit: mempunyai
naluri suka menimbun, sok akrab, kurang hati-hati, sentimental, materialistis,
mudah lelah, kurang bisa berkomunikasi.
Marjin kiri lebar: latar belakang
kebudayaan yang baik, intelejensi, rasa seni, selalu ingin berkembang dan
aktif.
Marjin kiri sempit: persahabatan
yang tidak pandang bulu, picik, pendiam, hipersensitif, hati-hati, ingin
menghindari tekanan.
Marjin kanan lebar: ketakutan
akan masa depan.
Marjin kanan sempit: pendekatan
lebih berhati-hati terhadap calon teman dan dunia secara umum, kurangnya sikap
memilih-milih, murah hati, sembrono, ketidaksabaran, ingin segera keluar dari
masalah.
Rata: memiliki pikiran yang
teratur dan mata yang artistik.
Satu halaman penuh tulisan tanpa
ada jarak spasi: picik, banyak bicara.
Satu halaman hampir semuanya
bermarjin: penakut, tertekan, tidak pernah puas.
Marjin kiri acak-acakan: depresi
temporer.
Marjin kiri semakin melebar
ketika tulisan turun: bermakna tulisan cepat dan spontan, kesulitan untuk
menggunakan waktu.
Marjin kiri semakin menyempit
ketika tulisan turun: cenderung memulai tugas yang berani.
Marjin sempit di sisi kiri dan
kanan: tidak melihat berbagai hal dari segi pandangan masyarakat lainnya, tidak
melihat dirinya dengan baik.
Marjin kiri tidak rata: tidak
bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat, suka melawan, suka menyimpang, tidak
disiplin.
Tidak ada marjin: sibuk, berusaha
keras, pelit, egois.
KEMIRINGAN
Ke kiri: berhubungan dengan masa
lalu dan hal-hal yang negatif.
Vertikal: berhubungan dengan
pengendalian dan formalitas.
Ke kanan: berhubungan dengan masa depan dan
hal-hal yang positif.
Ke kanan: ekstrover, kepribadian
yang bebas disertai kebutuhan dan kapasitas untuk kontak manusiawi, keinginan
memberi dan menerima afeksi, mudah berkomunikasi, bersahabat, responsif,
suportif, kurang sabar, tidak tenang, tergesa-gesa, aktif. Positifnya:
keaktifan, simpati, kemampuan bergaul. Negatifnya: ketidaksabaran,
ketergesa-gesaan, kepanikan.
Terlalu ke kanan: makin suka
bergaul tetapi dengan kendali emosi yang lebih rendah, mudah bosan, mudah
gelisah, banyak teman dekat
Sedikit ke kanan: membutuhkan
orang lain, berpandangan ke luar, ekstrover
Ke kiri: introver, dituntun oleh
pikiran ketimbang emosi, mudah tersinggung. Positifnya: kontrol diri, sikap
hemat, pemikiran yang konservatif. Negatifnya: keegoisan, ketakutan terhadap
masa depan, mengucilkan diri
Terlalu ke kiri: introspektif,
gugup, pemimpi
Sedikit ke kiri: banyak
menggunakan pikirannya, agak introver
Vertikal: independen, tidak
ekstrover dan juga tidak introver, tidak tergantung pada orang atau sesuatu
yang lain. Positifnya: kenetralan, dominasi pemikiran, kontrol diri, penjagaan
jarak. Negatifnya: keegoisan, tidak berbelas kasih, sikap dingin, dan kaku.
Bervariasi (ada ke kanan, ada ke
kiri): kepribadian yang serba guna tetapi kerap tidak stabil, mudah berubah,
kerap murung, kerap terombang-ambing antara kata hati dan kendali (pikiran dan
emosi).
Tulisan yang dasarnya tetap,
kuat, dan lurus menunjukkan orang yang suasana hatinya terkendali. Dia tidak
mudah digoyahkan orang lain dan mempunyai keseimbangan yang baik, berterus
terang, dan tekun.
Turun: berhubungan dengan depresi, lelah,
ketidakjujuran, kesedihan, pesimisme
Datar: berhubungan dengan ketenangan dan
stabilitas luar.
Naik: berhubungan dengan penuh harapan,
ambisi, kejujuran, aktivitas, motivasi dan sukses.
Miring ke atas (menaik):
menunjukkan ambisi dan optimisme, orang yang teratur, berperasaan dan
bertanggung jawab, suka bergaul, menyenangkan.
Menaik tiruan (garis dasar menaik
tetapi jatuh pada bagian akhir): mudah menyerah.
Miring ke bawah (menurun):
menunjukkan pesimisme dan depresi, kelelahan mental dan fisik.
Makin tinggi sebuah garis
menanjak, makin ambisius dan optimistis. Makin jauh kemiringan ke arah bawah,
makin besar pesimisme.
Bervariasi: mengungkapkan suasana
hati, mudah mengesampingkan akal sehat guna memberi tempat kepada perasaan.
Mungkin dia tidak sabar dan tidak dapat diandalkan.
Membentuk kurva (menaik kemudian
menurun) atau cembung: mudah menyerah, memulai pekerjaan dengan semangat dan
antusiasme yang tinggi tetapi kemudian kehilangan semangat.
Membentuk kalung (menurun
kemudian menaik) atau cekung: jalan untuk mencapai tujuan, memulai suatu
pekerjaan dengan semangat dan antusiasme rendah tetapi kemudian sangat
bersemangat.
Lurus: stabil, terkendali.
Sangat lurus: bertindak dangkal
seolah-olah terkendali.
Tiap kata
naik: sedang bahagia
Tiap kata turun: tidak bahagia
WHEW…. TULISANKU…???????
Senin, 16 Januari 2012
Miring tapi Mesra
Sedang tidak enak badan, hari ini ayah tidak membawa mobil ke kantor. Jadi si kakak tidak punya “tebengan” pulang, alias kudu naik angkutan umum sendiri. Bunda tawarkan dijemput adik di tempat biasa, dan kakak setuju. Di jam kakak pulang, adik bilang ada beberapa bahan yang perlu dibeli, bakal praktikum besok, di sekolah. Karena barang yg dibeli adalah barang yang belum pernah kami punya, makanya seperti meraba-raba saja tentang bentuknya, juga harganya. Demi alasan keamanan, bunda putuskan menemani adik ke toko alat-alat listrik, membeli keperluannya, sekaligus melihat prosesi penjemputan kakak. Kebetulan toko alat-alat listriknya, berada tidak jauh dari tempat adik biasa menjemput kakak.
Menaiki dua sepeda, bunda dan adik berangkat. Dan tanpa kendala yang berarti, barang-barang yang dibutuhkan, sudah ada di tangan adik. Tinggal menunggu dan kontak sama kakak. Tak lama menunggu, daihatsu yg membawa kakak datang.
Kakak langsung menuju sepeda adik lalu mengambil alih kemudi, dan adik duduk di palang sepeda.Miring, tapi mesra. Waah, jadi ngiri dalam hati, dulu masa sekolah bunda tidak merasakan digonceng atau menggonceng seperti itu. Karena bunda tidak punya kakak atau adik laki-laki. Sehingga, sepeda yang kakung belikan buat kami, modelnya juga sepeda perempuan, tanpa palang, dan tidak bisa berbonceng yang seperti adik dan kakak saat ini.
Kakak meminta bunda duluan. Tapi bunda menolak. Karena bunda pengen melihat, kemesraan mereka berdua. Ternyata lebih dari yang bunda bayangkan. Adik memegang setang, dan kakak mengayuh saja, dan kedua tangannya berpegangan pundak adik. Meski diwarnai insiden kecil, bunda lihat kakak menarik lengan kaos adik terlalu kuat, sampai terlihat mulur, dan dada bunda sempat berdegub lebih kencang, membayangkan mereka akan jatuh, atau kaos adik akan robek. Namun tetaplah senang hati bunda melihatnya. Bunda kayuh sepeda bunda pelan, lebih pelan dari kayuhan kakak, biar bunda bisa melihat kreativitas dan aksi mereka dari jauh.
**** Riangnya siang ini…
Sambil pelan mengayuh, bunda teringat masa-masa bunda seumuran kakak. Di episode “rindu saudara laki-laki”. Sampai pernah suatu saat bunda meneteskan air mata, membayangkan keinginan yang sulit sekali terpenuhi itu. Sangat ingin berakrab-akrab sama teman cowok, tapi setelah tahu hukumnya, bahwa dengan mereka yang bukan mahrom, tetep ada batas-batas, tidak sebagaimana dengan kakak atau adik kandung. Ingin berakrab-akrab dengan saudara sepupu. Ini pun setali tiga uang. Tapi kemudian bunda berfikir, ahhaa… jadi punya senjata cukup ampuh berbincang sama kakak yang rupanya sedang memasuki masa berbunga-bunga cinta. Bahwa kakak bisa bermesra-mesra dengan adik, semesra sahabat, bahkan pacar. Tentu tetap dalam koridor tidak melampaui batas.
Hal nyata yang patut dicontohkan, adalah ketika dia merasakan suka dengan lawan jenisnya, dia tidak harus membunuh rasa suka itu, tapi menahannya. Bahwa cinta itu anugrah, dan rasa suka itu karunia. Tapi kita harus menempatkannya di tempat yang semestinya. Bukan dengan cara berpacaran. Kalau pengen boncengan mesra, gandengan tangan, dijemput saat pulang sama cowok, kakak kan punya adik cowok yang bisa melakukannya. Lebih aman, dan halal.. Kalau mau ada cowok yang suka mbelikan apa-apa waktu jalan, ngajak datting, kan ada ayah. Labih asik dan pasti jadi ladang pahala, karena ayah memenuhi kebutuhan anaknya, bukan sebaliknya kemaksiyatan. Ayah juga pasti suka nge-datesama kakak.
Okey lah, sebuah perjalanan yang indah. Pengalaman kurang indah bunda, tidak usah terjadi di kakak dan adik. Juga perjalanan bunga-bunga cinta kawan-kawan yang kakak liat sebagai kurang baik, mari jadikan pelajaran berharga saja… Ayuk…
Syafakalloh Ayah... Semoga sakitnya menjadi pembersih kesalahah2 yang telah lalu
Senin, 09 Januari 2012
TUJUH LAKI-LAKI
Hari itu, kakak di warning oleh wali kelas, SKHU yang
asli harus diserahkan paling lambat 2 hari kedepan. Padahal SKHU itu masih di
sekolahnya, di Purbalingga. Dan yang mengambil harus kakak sendiri, karena ada
cap tiga jari yang tidak bisa diwakilkan. Jadilah, aku harus temani kakak ke Purbalingga
mengambilnya. Dan dengan terpaksa hari
itu kakak ijin tidak masuk sekolah. Beruntung sekali, hari itu ada Ami yang
sedang di Semarang dan mau pulang, sehingga ke arah Purbalingganya kami berdua
bareng mobilnya. Berharap lebih nyaman, dan lebih cepat sampai di sana, karena
sore harinya kami harus sudah sampai di Semarang kembali, dan esok harinya
kakak bisa masuk sekolah seperti biasa.
Ba’da shalat subuh, “mruput”, kami start dari Semarang. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampailah kami di sekolah kakak, di Purbalingga sekitar pukul setengah satu siang. Urusan selesai jam satu. Alhamdulillah.. Kemudian mampir di Mbah Nanik untuk shalat dzuhur dan asar. Jika mau mengambil praktis saja, aku tinggal pesan travel atau 'nyegat' bus dari Purbalingga, untuk balik ke Semarang. Tetapi aku berfikir, punya laki-laki yang pasti amat sangat kecewa, ketika kami tidak mampir ke “rumah Luwung”. Akhirnya, mampir juga ke rumah, demi “setor muka” sama bapak, kakungnya kakak.
Kurang lebih satu jam saja, di rumah kakung, aku segera bersiap lanjutkan perjalanan pulangku. Bulik sempat usulkan, kami start ba’da maghrib saja, tapi kufikir bakal kemaleman, bahkan kepagian sampai di Semarang. Ami juga setuju saja, dan siap mengantar kami, di jam aku selesai berkemas. Secepat-cepatnya aku kerjakan seluruhnya, waktu sore tetap datang juga. Jam 5 an kami sampai di tempat menunggu bus, jelang maghrib si kotak besar beroda yang dimaksud baru datang. Apa pun, Alhamdulillah… Bulik sempat berpesan, “Yang sabar ya Bu, busnya jelek”. Fikirnya, bus sejelek itu, biasanya main oper penumpang, seenaknya. Well… jalani aja, dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sampai di terminal Banjarnegara, serombongan laki-laki naik. Riuh suara mereka. Beberapa saat kemudian, percakapan perpisahan terdengar. Oooh, ternyata yang banyak dari mereka itu hanya mengantar. Yang berangkat 5 orang saja. Seorang berbaju batik, agak kebapakan duduk di depanku bersama orang yang “sepintas” terlihat kurang normal. Tapi sepertinya itu adalah anaknya. Si kurang normal, geliginya terlihat sangat tidak teratur, tongos, dan memakai sandal yang kebesaran, duuuh…… Di seberang tempat dudukku, ada bapak dengan celana dan kaos biru, pake pecis warna hitam. Tidak ada yang bertanya, tapi dia berguman seperti menjawab pertanyaan atau menanggapi kalimat seseorang. “Ya nganah, aku tah arep mangkat ngodhe. Angger ora nggembol dhuwit, dadi ora teyeng tuku wedang kopi koh” (Ya silakan, kalau saya mau pergi bekerja saja. Kalau tidak punya uang, saya tidak bisa beli kopi). Ooh, ternyata -lagi- mereka mau pergi merantau, bekerja di tempat yang jauh. Dua orang yang lain, duduk di depan laki2 berkaos biru dan berpeci hitam itu. Yang satu berkaos warna coklat, garis-garis, memakai sandal. Lumayan “matching”. Yang satunya lagi, tambun, berkaos polos, memakai sepatu, agak lebih “kekotaan”.
Ba’da shalat subuh, “mruput”, kami start dari Semarang. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampailah kami di sekolah kakak, di Purbalingga sekitar pukul setengah satu siang. Urusan selesai jam satu. Alhamdulillah.. Kemudian mampir di Mbah Nanik untuk shalat dzuhur dan asar. Jika mau mengambil praktis saja, aku tinggal pesan travel atau 'nyegat' bus dari Purbalingga, untuk balik ke Semarang. Tetapi aku berfikir, punya laki-laki yang pasti amat sangat kecewa, ketika kami tidak mampir ke “rumah Luwung”. Akhirnya, mampir juga ke rumah, demi “setor muka” sama bapak, kakungnya kakak.
Kurang lebih satu jam saja, di rumah kakung, aku segera bersiap lanjutkan perjalanan pulangku. Bulik sempat usulkan, kami start ba’da maghrib saja, tapi kufikir bakal kemaleman, bahkan kepagian sampai di Semarang. Ami juga setuju saja, dan siap mengantar kami, di jam aku selesai berkemas. Secepat-cepatnya aku kerjakan seluruhnya, waktu sore tetap datang juga. Jam 5 an kami sampai di tempat menunggu bus, jelang maghrib si kotak besar beroda yang dimaksud baru datang. Apa pun, Alhamdulillah… Bulik sempat berpesan, “Yang sabar ya Bu, busnya jelek”. Fikirnya, bus sejelek itu, biasanya main oper penumpang, seenaknya. Well… jalani aja, dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sampai di terminal Banjarnegara, serombongan laki-laki naik. Riuh suara mereka. Beberapa saat kemudian, percakapan perpisahan terdengar. Oooh, ternyata yang banyak dari mereka itu hanya mengantar. Yang berangkat 5 orang saja. Seorang berbaju batik, agak kebapakan duduk di depanku bersama orang yang “sepintas” terlihat kurang normal. Tapi sepertinya itu adalah anaknya. Si kurang normal, geliginya terlihat sangat tidak teratur, tongos, dan memakai sandal yang kebesaran, duuuh…… Di seberang tempat dudukku, ada bapak dengan celana dan kaos biru, pake pecis warna hitam. Tidak ada yang bertanya, tapi dia berguman seperti menjawab pertanyaan atau menanggapi kalimat seseorang. “Ya nganah, aku tah arep mangkat ngodhe. Angger ora nggembol dhuwit, dadi ora teyeng tuku wedang kopi koh” (Ya silakan, kalau saya mau pergi bekerja saja. Kalau tidak punya uang, saya tidak bisa beli kopi). Ooh, ternyata -lagi- mereka mau pergi merantau, bekerja di tempat yang jauh. Dua orang yang lain, duduk di depan laki2 berkaos biru dan berpeci hitam itu. Yang satu berkaos warna coklat, garis-garis, memakai sandal. Lumayan “matching”. Yang satunya lagi, tambun, berkaos polos, memakai sepatu, agak lebih “kekotaan”.
Sampai di Wonosobo, bis berhenti dan “ngetem”, sampai sekitar
satu jam. Pengasong sibuk menawarkan dagangannya. Bapak berbaju batik, rupanya
tak bisa mencegah keinginan anak laki2nya untuk membeli jajanan yang
ditawarkan. Diambillah sebungkus tahu, dan sebungkus lontong, lalu diberikannya
selembar 2 ribuan. Pengasong protes, “duwitnya kurang, Pak. Harganya 2 ribu per
bungkus”. Bapak baju batik, kemudian mengembalikan sebungkus jajanan yang sudah
diambilnya. Bukan membayar kekurangannya. Duuh… Kemudian si Kurang normal
makan. Seperti kebiasaan orang sesudah makan, pasti ingin minum. Si bapak
batik, tengak tengok, dan memberi kode pada bapak di sebelahku, si kaos biru
peci hitam. Dan orang yang dituju, kemudian memngeluarkan sebotol besar air
putih. Huwaduh, botolnya yang tak lagi bersih, sampai di dalam remang senja pun
kulihat warna air mereka kekuningan. Hemm… kuhela nafas. Kualihkan perhatianku,
dari 5 laki-laki itu. Ku ambil handphone, dan aku kabarkan bahwa aku sampai di Wonosobo,
pada laki2ku di rumah Luwung, kakungnya kakak. Tiba-tiba, si kaos biru peci
hitam, sibuk dengan tas yang sedari tadi dipangkunya. Nampak berusaha
mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dan ternyata, ketupat!!! Berikutnya, sebungkus
peyek kacang. Rupanya si kaos biru peci hitam mau makan. Kejadian memilukan berikutnya, ketika si kaos
biru peci hitam berusaha membuka bungkusan peyeknya. Karena kekuatan, plastik peyeknya sampai sobek dan isinya berhambur kemana-mana. Duuh, dipungutinya
tanpa peduli apa pun. Kotor? Jelas, karena peyek-peyek itu jatuh ke lantai bus.
Memalukan? Pasti, karena dia harus memungutinya di antara kaki-kaki penumpang
lain. Tapi, dia makan juga setelahnya. Dan botol besar air minum yang tadi ada
di tangan bapak baju batik dimintanya, kemudian glek glek glek, minumlah si
kaos biru peci hitam. Selesai, lalu berucap kepada dua laki-laki rekannya yang
duduk di depannya, “Inyong uwis madhang, wareg. Kiye arep madang siki apa
mengko?” (Saya sudah makan dan
kenyang. Ini, mau makan sekarang apa nanti?). Si tambun menjawab, “Aku be
nggawa” (Saya juga membawa). Kemudian si tambun mengeluarkan benda yang
sama, ketupat!! Hanya lauknya tahu, dan membukanya tidak pake sobek. Makanlah
si tambun kaos polos bersama si kaos garis. Setelahnya, kembali meminta jatah air, lalu
minum pula seperti 3 laki-laki sebelumnya. Kemudian, sopir dan awak bus naik,
pertanda perjalanan kami akan dilanjutkan. Lima laki-laki -yang rupanya sudah
kenyang- itu tertidur, hanya dalam hitungan menit setelah bus kembali berjalan.
Pulas…..
Bus terus melaju menembus kegelapan malam. Dan malam semakin
larut., ketika aku terjaga dari kantuk tak tertahanku. Rupanya agak panjang
juga mataku memejam. Tidak begitu
tersadar ketika melewati jalan panjang menanjak Kledung, tikungan maut Kabelukan, Parakan, Kedu, Temanggung, tahu-tahu busku sudah sampai di Secang. Dan ngetem lagi. Kakak
sampai berujar, “Bunda, sopir busnya tidak tahu kalau kakak sudah capek, apa ya…?”
“Mari bersabar Sayang, penumpang lain juga sama seperti kita, sudah capek
berjam-jam di bus”. Batinku “Mudah-mudahan tidak selama di Wonosobo”. Benar
saja, setengah jam lebih sedikit saja, bus berangkat lagi. Padat merayap di jalur Secang - Semarang, tapi
sudah tidak pake ngetem lagi. Sampai di jalan Perintis Kemerdekaan, handphone
kembali memberi isyarat, aku dapat pesan sangat manis, “Papah sudah menunggu di Sukun”.
Hatiku melompat girang, tak bisa kusembunyikan senyum haruku, ini sangat indah. Inilah laki-laki terakhirku di
perjalanan malam kali ini… dan insya Allah dalam seluruh perjalananku. Walloohu
ta’ala a’lam.
Cek
Cek dan cek, 10 Januari 2012.
Porsine kakung sama uti
Perkiraan Keberangkatan CalHaj
ESTIMASI KEBERANGKATAN CALON JEMAAH HAJI
| Nomor Porsi | : | 1100366933 |
| Nama Jamaah | : | DJUBAIDI |
| Nama Ayah | : | JAENAL ABIDIN |
| Tanggal Pendaftaran | : | 04-05-2011 |
| Tanggal Pelunasan | : | - |
| Estimasi Tahun Berangkat | : | 1438 H |
| Provinsi | : | JAWA TENGAH |
| Urutan ke | : | 156780 |
| Porsi Provinsi | : | 29657 |
| Kabupaten | : | KAB. BANJARNEGARA |
| Urutan ke | : | 156780 |
| Porsi Kabupaten | : | 29657 |
| Nomor SSPH | : | 963 |
| Nama Bank | : | BNI |
ESTIMASI KEBERANGKATAN CALON JEMAAH HAJI
| Nomor Porsi | : | 1100398515 |
| Nama Jamaah | : | SUNARTI |
| Nama Ayah | : | KARTOMO |
| Tanggal Pendaftaran | : | 21-09-2011 |
| Tanggal Pelunasan | : | - |
| Estimasi Tahun Berangkat | : | 1439 H |
| Provinsi | : | JAWA TENGAH |
| Urutan ke | : | 188235 |
| Porsi Provinsi | : | 29657 |
| Kabupaten | : | KAB. BANJARNEGARA |
| Urutan ke | : | 188235 |
| Porsi Kabupaten | : | 29657 |
| Nomor SSPH | : | 758 |
| Nama Bank | : | BNI |
Langganan:
Postingan (Atom)
