Powered By Blogger

Senin, 16 Januari 2012

Miring tapi Mesra


Sedang tidak enak badan, hari ini ayah tidak membawa mobil ke kantor. Jadi si kakak tidak punya “tebengan” pulang, alias kudu naik angkutan umum sendiri. Bunda tawarkan dijemput adik di tempat biasa, dan kakak setuju. Di jam kakak pulang, adik bilang ada beberapa bahan yang perlu dibeli, bakal praktikum besok, di sekolah. Karena barang yg dibeli adalah barang yang belum pernah kami punya, makanya seperti meraba-raba saja tentang bentuknya, juga harganya. Demi alasan keamanan, bunda putuskan menemani adik ke toko alat-alat listrik, membeli keperluannya, sekaligus melihat prosesi penjemputan kakak. Kebetulan toko alat-alat listriknya, berada tidak jauh dari tempat adik biasa menjemput kakak.
Menaiki dua sepeda, bunda dan adik berangkat. Dan tanpa kendala yang berarti, barang-barang yang dibutuhkan, sudah ada di tangan adik. Tinggal menunggu dan kontak sama kakak. Tak lama menunggu, daihatsu yg membawa kakak datang.
Kakak langsung menuju sepeda adik lalu mengambil alih kemudi, dan adik duduk di palang sepeda.Miring, tapi mesra. Waah, jadi ngiri dalam hati, dulu masa sekolah bunda tidak merasakan digonceng atau menggonceng seperti itu. Karena bunda tidak punya kakak atau adik laki-laki. Sehingga, sepeda yang kakung belikan buat kami, modelnya juga sepeda perempuan, tanpa palang, dan tidak bisa berbonceng yang seperti adik dan kakak saat ini.
Kakak meminta  bunda duluan. Tapi bunda menolak. Karena bunda pengen melihat, kemesraan mereka berdua. Ternyata lebih dari yang bunda bayangkan. Adik memegang setang, dan kakak mengayuh saja, dan kedua tangannya berpegangan pundak adik. Meski diwarnai insiden kecil, bunda lihat kakak menarik lengan kaos adik terlalu kuat, sampai terlihat mulur, dan dada bunda sempat berdegub lebih kencang, membayangkan mereka akan jatuh, atau kaos adik akan robek. Namun tetaplah senang hati bunda melihatnya. Bunda kayuh sepeda bunda pelan, lebih pelan dari kayuhan kakak, biar  bunda bisa melihat kreativitas dan aksi mereka dari jauh.
**** Riangnya siang ini…

Sambil pelan mengayuh, bunda teringat masa-masa bunda seumuran kakak. Di episode “rindu saudara laki-laki”. Sampai pernah suatu saat bunda meneteskan air mata, membayangkan keinginan yang sulit sekali terpenuhi itu. Sangat ingin berakrab-akrab sama teman cowok, tapi setelah tahu hukumnya, bahwa dengan mereka yang bukan mahrom, tetep ada batas-batas, tidak sebagaimana dengan kakak atau adik kandung. Ingin berakrab-akrab dengan saudara sepupu. Ini pun setali tiga uang. Tapi kemudian bunda berfikir, ahhaa… jadi punya senjata cukup ampuh berbincang sama kakak yang rupanya sedang memasuki masa berbunga-bunga cinta. Bahwa kakak bisa bermesra-mesra dengan adik, semesra sahabat, bahkan pacar. Tentu tetap dalam koridor tidak melampaui batas.
Hal nyata yang patut dicontohkan, adalah ketika dia merasakan suka dengan lawan jenisnya, dia tidak harus membunuh rasa suka itu, tapi menahannya. Bahwa cinta itu anugrah, dan rasa suka itu karunia. Tapi kita harus menempatkannya di tempat yang semestinya. Bukan dengan cara berpacaran. Kalau pengen boncengan mesra, gandengan tangan, dijemput saat pulang sama cowok, kakak kan punya adik cowok yang bisa melakukannya. Lebih aman, dan halal.. Kalau mau ada cowok yang suka mbelikan apa-apa waktu jalan, ngajak datting, kan ada ayah. Labih asik dan pasti jadi ladang pahala, karena ayah memenuhi kebutuhan anaknya, bukan sebaliknya kemaksiyatan.  Ayah juga pasti suka nge-datesama kakak.
Okey lah, sebuah perjalanan yang indah. Pengalaman kurang indah bunda,  tidak usah terjadi di kakak dan adik. Juga perjalanan bunga-bunga cinta kawan-kawan yang kakak liat sebagai kurang baik, mari jadikan pelajaran berharga saja… Ayuk…

Syafakalloh Ayah... Semoga sakitnya menjadi pembersih kesalahah2 yang telah lalu

Senin, 09 Januari 2012

TUJUH LAKI-LAKI


Hari itu, kakak di warning oleh wali kelas, SKHU yang asli harus diserahkan paling lambat 2 hari kedepan. Padahal SKHU itu masih di sekolahnya, di Purbalingga. Dan yang mengambil harus kakak sendiri, karena ada cap tiga jari yang tidak bisa diwakilkan.  Jadilah, aku harus temani kakak ke Purbalingga mengambilnya.  Dan dengan terpaksa hari itu kakak ijin tidak masuk sekolah. Beruntung sekali, hari itu ada Ami yang sedang di Semarang dan mau pulang, sehingga ke arah Purbalingganya kami berdua bareng mobilnya. Berharap lebih nyaman, dan lebih cepat sampai di sana, karena sore harinya kami harus sudah sampai di Semarang kembali, dan esok harinya kakak bisa masuk sekolah seperti biasa.
Ba’da shalat subuh, “mruput”, kami start dari Semarang. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampailah kami di sekolah kakak, di Purbalingga sekitar pukul setengah satu siang. Urusan selesai jam satu. Alhamdulillah.. Kemudian mampir di Mbah Nanik untuk shalat dzuhur dan asar. Jika mau mengambil praktis saja, aku tinggal pesan travel atau 'nyegat' bus dari Purbalingga, untuk balik ke Semarang. Tetapi aku berfikir, punya laki-laki yang pasti amat sangat kecewa, ketika kami tidak mampir ke “rumah Luwung”.  Akhirnya, mampir juga ke rumah, demi “setor muka” sama bapak, kakungnya kakak.
Kurang lebih satu jam saja, di rumah kakung, aku segera bersiap lanjutkan perjalanan pulangku. Bulik sempat usulkan, kami start ba’da maghrib saja, tapi kufikir bakal kemaleman,  bahkan kepagian sampai di Semarang. Ami juga setuju saja, dan siap mengantar kami, di jam aku selesai berkemas. Secepat-cepatnya aku kerjakan seluruhnya, waktu sore tetap datang juga. Jam 5 an kami sampai di tempat menunggu bus, jelang maghrib si kotak besar beroda yang dimaksud baru datang. Apa pun, Alhamdulillah… Bulik sempat berpesan, “Yang sabar ya Bu, busnya jelek”. Fikirnya, bus sejelek itu, biasanya main oper penumpang, seenaknya.  Well… jalani aja, dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sampai di terminal Banjarnegara, serombongan laki-laki naik. Riuh suara mereka. Beberapa saat kemudian, percakapan perpisahan terdengar. Oooh, ternyata yang banyak dari mereka itu hanya mengantar. Yang berangkat  5 orang saja. Seorang  berbaju batik, agak kebapakan duduk di depanku bersama orang yang “sepintas” terlihat kurang normal. Tapi sepertinya itu adalah anaknya. Si kurang normal, geliginya terlihat sangat tidak teratur, tongos, dan  memakai sandal yang kebesaran, duuuh…… Di seberang tempat dudukku, ada bapak dengan celana dan kaos biru, pake pecis warna hitam. Tidak ada yang bertanya, tapi dia berguman seperti menjawab pertanyaan atau menanggapi kalimat seseorang. “Ya nganah, aku tah arep mangkat ngodhe. Angger ora nggembol dhuwit, dadi ora teyeng tuku wedang kopi koh” (Ya silakan, kalau saya mau pergi bekerja saja. Kalau tidak punya uang, saya tidak bisa beli kopi).  Ooh, ternyata -lagi- mereka mau pergi merantau, bekerja di tempat yang jauh. Dua orang yang lain, duduk di depan laki2 berkaos biru dan berpeci hitam itu. Yang satu berkaos warna coklat, garis-garis, memakai sandal. Lumayan “matching”. Yang satunya lagi, tambun, berkaos polos, memakai sepatu, agak lebih “kekotaan”.
Sampai di Wonosobo, bis berhenti dan “ngetem”, sampai sekitar satu jam. Pengasong sibuk menawarkan dagangannya. Bapak berbaju batik, rupanya tak bisa mencegah keinginan anak laki2nya untuk membeli jajanan yang ditawarkan. Diambillah sebungkus tahu, dan sebungkus lontong, lalu diberikannya selembar 2 ribuan. Pengasong protes, “duwitnya kurang, Pak. Harganya 2 ribu per bungkus”. Bapak baju batik, kemudian mengembalikan sebungkus jajanan yang sudah diambilnya. Bukan membayar kekurangannya. Duuh… Kemudian si Kurang normal makan. Seperti kebiasaan orang sesudah makan, pasti ingin minum. Si bapak batik, tengak tengok, dan memberi kode pada bapak di sebelahku, si kaos biru peci hitam. Dan orang yang dituju, kemudian memngeluarkan sebotol besar air putih. Huwaduh, botolnya yang tak lagi bersih, sampai di dalam remang senja pun kulihat warna air mereka kekuningan. Hemm… kuhela nafas. Kualihkan perhatianku, dari 5 laki-laki itu. Ku ambil handphone, dan aku kabarkan bahwa aku sampai di Wonosobo, pada laki2ku di rumah Luwung, kakungnya kakak. Tiba-tiba, si kaos biru peci hitam, sibuk dengan tas yang sedari tadi dipangkunya. Nampak berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dan ternyata, ketupat!!! Berikutnya, sebungkus peyek kacang. Rupanya si kaos biru peci hitam mau makan.  Kejadian memilukan berikutnya, ketika si kaos biru peci hitam berusaha membuka bungkusan peyeknya. Karena kekuatan, plastik peyeknya sampai sobek dan isinya berhambur kemana-mana. Duuh, dipungutinya tanpa peduli apa pun. Kotor? Jelas, karena peyek-peyek itu jatuh ke lantai bus. Memalukan? Pasti, karena dia harus memungutinya di antara kaki-kaki penumpang lain. Tapi, dia makan juga setelahnya. Dan botol besar air minum yang tadi ada di tangan bapak baju batik dimintanya, kemudian glek glek glek, minumlah si kaos biru peci hitam. Selesai, lalu berucap kepada dua laki-laki rekannya yang duduk di depannya, “Inyong uwis madhang, wareg. Kiye arep madang siki apa mengko?”  (Saya sudah makan dan kenyang. Ini, mau makan sekarang apa nanti?). Si tambun menjawab, “Aku be nggawa” (Saya juga membawa). Kemudian si tambun mengeluarkan benda yang sama, ketupat!! Hanya lauknya tahu, dan membukanya tidak pake sobek. Makanlah si tambun kaos polos bersama si kaos garis. Setelahnya, kembali meminta jatah air, lalu minum pula seperti 3 laki-laki sebelumnya. Kemudian, sopir dan awak bus naik, pertanda perjalanan kami akan dilanjutkan. Lima laki-laki -yang rupanya sudah kenyang- itu tertidur, hanya dalam hitungan menit setelah bus kembali berjalan. Pulas…..
Bus terus melaju menembus kegelapan malam. Dan malam semakin larut., ketika aku terjaga dari kantuk tak tertahanku. Rupanya agak panjang juga mataku memejam.  Tidak begitu tersadar ketika melewati jalan  panjang menanjak Kledung, tikungan maut Kabelukan, Parakan, Kedu, Temanggung, tahu-tahu busku sudah sampai di Secang. Dan ngetem lagi. Kakak sampai berujar, “Bunda, sopir busnya tidak tahu kalau kakak sudah capek, apa ya…?” “Mari bersabar Sayang, penumpang lain juga sama seperti kita, sudah capek berjam-jam di bus”. Batinku “Mudah-mudahan tidak selama di Wonosobo”. Benar saja, setengah jam lebih sedikit saja, bus berangkat lagi.  Padat merayap di jalur Secang - Semarang, tapi sudah tidak pake ngetem lagi. Sampai di jalan Perintis Kemerdekaan, handphone kembali memberi isyarat, aku dapat pesan  sangat manis, “Papah sudah menunggu di Sukun”. Hatiku melompat girang, tak bisa kusembunyikan senyum haruku,  ini sangat indah. Inilah laki-laki terakhirku di perjalanan malam kali ini… dan insya Allah dalam seluruh perjalananku. Walloohu ta’ala a’lam.

Cek


Cek dan cek, 10 Januari 2012. 

Porsine kakung sama uti



Perkiraan Keberangkatan CalHaj

 

ESTIMASI KEBERANGKATAN CALON JEMAAH HAJI



Nomor Porsi:1100366933
Nama Jamaah:DJUBAIDI
Nama Ayah:JAENAL ABIDIN
Tanggal Pendaftaran:04-05-2011
Tanggal Pelunasan:-
Estimasi Tahun Berangkat:1438 H
Provinsi:JAWA TENGAH
Urutan ke:156780
Porsi Provinsi:29657
Kabupaten:KAB. BANJARNEGARA
Urutan ke:156780
Porsi Kabupaten:29657
Nomor SSPH:963
Nama Bank:BNI






ESTIMASI KEBERANGKATAN CALON JEMAAH HAJI


Nomor Porsi:1100398515
Nama Jamaah:SUNARTI
Nama Ayah:KARTOMO
Tanggal Pendaftaran:21-09-2011
Tanggal Pelunasan:-
Estimasi Tahun Berangkat:1439 H
Provinsi:JAWA TENGAH
Urutan ke:188235
Porsi Provinsi:29657
Kabupaten:KAB. BANJARNEGARA
Urutan ke:188235
Porsi Kabupaten:29657
Nomor SSPH:758
Nama Bank:BNI

Sakit Kepala Berkaitan dengan Temperatur dan Tekanan Barometrik

Sakit Kepala Berkaitan dengan Temperatur dan Tekanan Barometrik - Health Topics