Powered By Blogger

Senin, 09 Januari 2012

TUJUH LAKI-LAKI


Hari itu, kakak di warning oleh wali kelas, SKHU yang asli harus diserahkan paling lambat 2 hari kedepan. Padahal SKHU itu masih di sekolahnya, di Purbalingga. Dan yang mengambil harus kakak sendiri, karena ada cap tiga jari yang tidak bisa diwakilkan.  Jadilah, aku harus temani kakak ke Purbalingga mengambilnya.  Dan dengan terpaksa hari itu kakak ijin tidak masuk sekolah. Beruntung sekali, hari itu ada Ami yang sedang di Semarang dan mau pulang, sehingga ke arah Purbalingganya kami berdua bareng mobilnya. Berharap lebih nyaman, dan lebih cepat sampai di sana, karena sore harinya kami harus sudah sampai di Semarang kembali, dan esok harinya kakak bisa masuk sekolah seperti biasa.
Ba’da shalat subuh, “mruput”, kami start dari Semarang. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampailah kami di sekolah kakak, di Purbalingga sekitar pukul setengah satu siang. Urusan selesai jam satu. Alhamdulillah.. Kemudian mampir di Mbah Nanik untuk shalat dzuhur dan asar. Jika mau mengambil praktis saja, aku tinggal pesan travel atau 'nyegat' bus dari Purbalingga, untuk balik ke Semarang. Tetapi aku berfikir, punya laki-laki yang pasti amat sangat kecewa, ketika kami tidak mampir ke “rumah Luwung”.  Akhirnya, mampir juga ke rumah, demi “setor muka” sama bapak, kakungnya kakak.
Kurang lebih satu jam saja, di rumah kakung, aku segera bersiap lanjutkan perjalanan pulangku. Bulik sempat usulkan, kami start ba’da maghrib saja, tapi kufikir bakal kemaleman,  bahkan kepagian sampai di Semarang. Ami juga setuju saja, dan siap mengantar kami, di jam aku selesai berkemas. Secepat-cepatnya aku kerjakan seluruhnya, waktu sore tetap datang juga. Jam 5 an kami sampai di tempat menunggu bus, jelang maghrib si kotak besar beroda yang dimaksud baru datang. Apa pun, Alhamdulillah… Bulik sempat berpesan, “Yang sabar ya Bu, busnya jelek”. Fikirnya, bus sejelek itu, biasanya main oper penumpang, seenaknya.  Well… jalani aja, dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sampai di terminal Banjarnegara, serombongan laki-laki naik. Riuh suara mereka. Beberapa saat kemudian, percakapan perpisahan terdengar. Oooh, ternyata yang banyak dari mereka itu hanya mengantar. Yang berangkat  5 orang saja. Seorang  berbaju batik, agak kebapakan duduk di depanku bersama orang yang “sepintas” terlihat kurang normal. Tapi sepertinya itu adalah anaknya. Si kurang normal, geliginya terlihat sangat tidak teratur, tongos, dan  memakai sandal yang kebesaran, duuuh…… Di seberang tempat dudukku, ada bapak dengan celana dan kaos biru, pake pecis warna hitam. Tidak ada yang bertanya, tapi dia berguman seperti menjawab pertanyaan atau menanggapi kalimat seseorang. “Ya nganah, aku tah arep mangkat ngodhe. Angger ora nggembol dhuwit, dadi ora teyeng tuku wedang kopi koh” (Ya silakan, kalau saya mau pergi bekerja saja. Kalau tidak punya uang, saya tidak bisa beli kopi).  Ooh, ternyata -lagi- mereka mau pergi merantau, bekerja di tempat yang jauh. Dua orang yang lain, duduk di depan laki2 berkaos biru dan berpeci hitam itu. Yang satu berkaos warna coklat, garis-garis, memakai sandal. Lumayan “matching”. Yang satunya lagi, tambun, berkaos polos, memakai sepatu, agak lebih “kekotaan”.
Sampai di Wonosobo, bis berhenti dan “ngetem”, sampai sekitar satu jam. Pengasong sibuk menawarkan dagangannya. Bapak berbaju batik, rupanya tak bisa mencegah keinginan anak laki2nya untuk membeli jajanan yang ditawarkan. Diambillah sebungkus tahu, dan sebungkus lontong, lalu diberikannya selembar 2 ribuan. Pengasong protes, “duwitnya kurang, Pak. Harganya 2 ribu per bungkus”. Bapak baju batik, kemudian mengembalikan sebungkus jajanan yang sudah diambilnya. Bukan membayar kekurangannya. Duuh… Kemudian si Kurang normal makan. Seperti kebiasaan orang sesudah makan, pasti ingin minum. Si bapak batik, tengak tengok, dan memberi kode pada bapak di sebelahku, si kaos biru peci hitam. Dan orang yang dituju, kemudian memngeluarkan sebotol besar air putih. Huwaduh, botolnya yang tak lagi bersih, sampai di dalam remang senja pun kulihat warna air mereka kekuningan. Hemm… kuhela nafas. Kualihkan perhatianku, dari 5 laki-laki itu. Ku ambil handphone, dan aku kabarkan bahwa aku sampai di Wonosobo, pada laki2ku di rumah Luwung, kakungnya kakak. Tiba-tiba, si kaos biru peci hitam, sibuk dengan tas yang sedari tadi dipangkunya. Nampak berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dan ternyata, ketupat!!! Berikutnya, sebungkus peyek kacang. Rupanya si kaos biru peci hitam mau makan.  Kejadian memilukan berikutnya, ketika si kaos biru peci hitam berusaha membuka bungkusan peyeknya. Karena kekuatan, plastik peyeknya sampai sobek dan isinya berhambur kemana-mana. Duuh, dipungutinya tanpa peduli apa pun. Kotor? Jelas, karena peyek-peyek itu jatuh ke lantai bus. Memalukan? Pasti, karena dia harus memungutinya di antara kaki-kaki penumpang lain. Tapi, dia makan juga setelahnya. Dan botol besar air minum yang tadi ada di tangan bapak baju batik dimintanya, kemudian glek glek glek, minumlah si kaos biru peci hitam. Selesai, lalu berucap kepada dua laki-laki rekannya yang duduk di depannya, “Inyong uwis madhang, wareg. Kiye arep madang siki apa mengko?”  (Saya sudah makan dan kenyang. Ini, mau makan sekarang apa nanti?). Si tambun menjawab, “Aku be nggawa” (Saya juga membawa). Kemudian si tambun mengeluarkan benda yang sama, ketupat!! Hanya lauknya tahu, dan membukanya tidak pake sobek. Makanlah si tambun kaos polos bersama si kaos garis. Setelahnya, kembali meminta jatah air, lalu minum pula seperti 3 laki-laki sebelumnya. Kemudian, sopir dan awak bus naik, pertanda perjalanan kami akan dilanjutkan. Lima laki-laki -yang rupanya sudah kenyang- itu tertidur, hanya dalam hitungan menit setelah bus kembali berjalan. Pulas…..
Bus terus melaju menembus kegelapan malam. Dan malam semakin larut., ketika aku terjaga dari kantuk tak tertahanku. Rupanya agak panjang juga mataku memejam.  Tidak begitu tersadar ketika melewati jalan  panjang menanjak Kledung, tikungan maut Kabelukan, Parakan, Kedu, Temanggung, tahu-tahu busku sudah sampai di Secang. Dan ngetem lagi. Kakak sampai berujar, “Bunda, sopir busnya tidak tahu kalau kakak sudah capek, apa ya…?” “Mari bersabar Sayang, penumpang lain juga sama seperti kita, sudah capek berjam-jam di bus”. Batinku “Mudah-mudahan tidak selama di Wonosobo”. Benar saja, setengah jam lebih sedikit saja, bus berangkat lagi.  Padat merayap di jalur Secang - Semarang, tapi sudah tidak pake ngetem lagi. Sampai di jalan Perintis Kemerdekaan, handphone kembali memberi isyarat, aku dapat pesan  sangat manis, “Papah sudah menunggu di Sukun”. Hatiku melompat girang, tak bisa kusembunyikan senyum haruku,  ini sangat indah. Inilah laki-laki terakhirku di perjalanan malam kali ini… dan insya Allah dalam seluruh perjalananku. Walloohu ta’ala a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar