Hari itu, kakak di warning oleh wali kelas, SKHU yang
asli harus diserahkan paling lambat 2 hari kedepan. Padahal SKHU itu masih di
sekolahnya, di Purbalingga. Dan yang mengambil harus kakak sendiri, karena ada
cap tiga jari yang tidak bisa diwakilkan. Jadilah, aku harus temani kakak ke Purbalingga
mengambilnya. Dan dengan terpaksa hari
itu kakak ijin tidak masuk sekolah. Beruntung sekali, hari itu ada Ami yang
sedang di Semarang dan mau pulang, sehingga ke arah Purbalingganya kami berdua
bareng mobilnya. Berharap lebih nyaman, dan lebih cepat sampai di sana, karena
sore harinya kami harus sudah sampai di Semarang kembali, dan esok harinya
kakak bisa masuk sekolah seperti biasa.
Ba’da shalat subuh, “mruput”, kami start dari Semarang. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampailah kami di sekolah kakak, di Purbalingga sekitar pukul setengah satu siang. Urusan selesai jam satu. Alhamdulillah.. Kemudian mampir di Mbah Nanik untuk shalat dzuhur dan asar. Jika mau mengambil praktis saja, aku tinggal pesan travel atau 'nyegat' bus dari Purbalingga, untuk balik ke Semarang. Tetapi aku berfikir, punya laki-laki yang pasti amat sangat kecewa, ketika kami tidak mampir ke “rumah Luwung”. Akhirnya, mampir juga ke rumah, demi “setor muka” sama bapak, kakungnya kakak.
Kurang lebih satu jam saja, di rumah kakung, aku segera bersiap lanjutkan perjalanan pulangku. Bulik sempat usulkan, kami start ba’da maghrib saja, tapi kufikir bakal kemaleman, bahkan kepagian sampai di Semarang. Ami juga setuju saja, dan siap mengantar kami, di jam aku selesai berkemas. Secepat-cepatnya aku kerjakan seluruhnya, waktu sore tetap datang juga. Jam 5 an kami sampai di tempat menunggu bus, jelang maghrib si kotak besar beroda yang dimaksud baru datang. Apa pun, Alhamdulillah… Bulik sempat berpesan, “Yang sabar ya Bu, busnya jelek”. Fikirnya, bus sejelek itu, biasanya main oper penumpang, seenaknya. Well… jalani aja, dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sampai di terminal Banjarnegara, serombongan laki-laki naik. Riuh suara mereka. Beberapa saat kemudian, percakapan perpisahan terdengar. Oooh, ternyata yang banyak dari mereka itu hanya mengantar. Yang berangkat 5 orang saja. Seorang berbaju batik, agak kebapakan duduk di depanku bersama orang yang “sepintas” terlihat kurang normal. Tapi sepertinya itu adalah anaknya. Si kurang normal, geliginya terlihat sangat tidak teratur, tongos, dan memakai sandal yang kebesaran, duuuh…… Di seberang tempat dudukku, ada bapak dengan celana dan kaos biru, pake pecis warna hitam. Tidak ada yang bertanya, tapi dia berguman seperti menjawab pertanyaan atau menanggapi kalimat seseorang. “Ya nganah, aku tah arep mangkat ngodhe. Angger ora nggembol dhuwit, dadi ora teyeng tuku wedang kopi koh” (Ya silakan, kalau saya mau pergi bekerja saja. Kalau tidak punya uang, saya tidak bisa beli kopi). Ooh, ternyata -lagi- mereka mau pergi merantau, bekerja di tempat yang jauh. Dua orang yang lain, duduk di depan laki2 berkaos biru dan berpeci hitam itu. Yang satu berkaos warna coklat, garis-garis, memakai sandal. Lumayan “matching”. Yang satunya lagi, tambun, berkaos polos, memakai sepatu, agak lebih “kekotaan”.
Ba’da shalat subuh, “mruput”, kami start dari Semarang. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampailah kami di sekolah kakak, di Purbalingga sekitar pukul setengah satu siang. Urusan selesai jam satu. Alhamdulillah.. Kemudian mampir di Mbah Nanik untuk shalat dzuhur dan asar. Jika mau mengambil praktis saja, aku tinggal pesan travel atau 'nyegat' bus dari Purbalingga, untuk balik ke Semarang. Tetapi aku berfikir, punya laki-laki yang pasti amat sangat kecewa, ketika kami tidak mampir ke “rumah Luwung”. Akhirnya, mampir juga ke rumah, demi “setor muka” sama bapak, kakungnya kakak.
Kurang lebih satu jam saja, di rumah kakung, aku segera bersiap lanjutkan perjalanan pulangku. Bulik sempat usulkan, kami start ba’da maghrib saja, tapi kufikir bakal kemaleman, bahkan kepagian sampai di Semarang. Ami juga setuju saja, dan siap mengantar kami, di jam aku selesai berkemas. Secepat-cepatnya aku kerjakan seluruhnya, waktu sore tetap datang juga. Jam 5 an kami sampai di tempat menunggu bus, jelang maghrib si kotak besar beroda yang dimaksud baru datang. Apa pun, Alhamdulillah… Bulik sempat berpesan, “Yang sabar ya Bu, busnya jelek”. Fikirnya, bus sejelek itu, biasanya main oper penumpang, seenaknya. Well… jalani aja, dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sampai di terminal Banjarnegara, serombongan laki-laki naik. Riuh suara mereka. Beberapa saat kemudian, percakapan perpisahan terdengar. Oooh, ternyata yang banyak dari mereka itu hanya mengantar. Yang berangkat 5 orang saja. Seorang berbaju batik, agak kebapakan duduk di depanku bersama orang yang “sepintas” terlihat kurang normal. Tapi sepertinya itu adalah anaknya. Si kurang normal, geliginya terlihat sangat tidak teratur, tongos, dan memakai sandal yang kebesaran, duuuh…… Di seberang tempat dudukku, ada bapak dengan celana dan kaos biru, pake pecis warna hitam. Tidak ada yang bertanya, tapi dia berguman seperti menjawab pertanyaan atau menanggapi kalimat seseorang. “Ya nganah, aku tah arep mangkat ngodhe. Angger ora nggembol dhuwit, dadi ora teyeng tuku wedang kopi koh” (Ya silakan, kalau saya mau pergi bekerja saja. Kalau tidak punya uang, saya tidak bisa beli kopi). Ooh, ternyata -lagi- mereka mau pergi merantau, bekerja di tempat yang jauh. Dua orang yang lain, duduk di depan laki2 berkaos biru dan berpeci hitam itu. Yang satu berkaos warna coklat, garis-garis, memakai sandal. Lumayan “matching”. Yang satunya lagi, tambun, berkaos polos, memakai sepatu, agak lebih “kekotaan”.
Sampai di Wonosobo, bis berhenti dan “ngetem”, sampai sekitar
satu jam. Pengasong sibuk menawarkan dagangannya. Bapak berbaju batik, rupanya
tak bisa mencegah keinginan anak laki2nya untuk membeli jajanan yang
ditawarkan. Diambillah sebungkus tahu, dan sebungkus lontong, lalu diberikannya
selembar 2 ribuan. Pengasong protes, “duwitnya kurang, Pak. Harganya 2 ribu per
bungkus”. Bapak baju batik, kemudian mengembalikan sebungkus jajanan yang sudah
diambilnya. Bukan membayar kekurangannya. Duuh… Kemudian si Kurang normal
makan. Seperti kebiasaan orang sesudah makan, pasti ingin minum. Si bapak
batik, tengak tengok, dan memberi kode pada bapak di sebelahku, si kaos biru
peci hitam. Dan orang yang dituju, kemudian memngeluarkan sebotol besar air
putih. Huwaduh, botolnya yang tak lagi bersih, sampai di dalam remang senja pun
kulihat warna air mereka kekuningan. Hemm… kuhela nafas. Kualihkan perhatianku,
dari 5 laki-laki itu. Ku ambil handphone, dan aku kabarkan bahwa aku sampai di Wonosobo,
pada laki2ku di rumah Luwung, kakungnya kakak. Tiba-tiba, si kaos biru peci
hitam, sibuk dengan tas yang sedari tadi dipangkunya. Nampak berusaha
mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dan ternyata, ketupat!!! Berikutnya, sebungkus
peyek kacang. Rupanya si kaos biru peci hitam mau makan. Kejadian memilukan berikutnya, ketika si kaos
biru peci hitam berusaha membuka bungkusan peyeknya. Karena kekuatan, plastik peyeknya sampai sobek dan isinya berhambur kemana-mana. Duuh, dipungutinya
tanpa peduli apa pun. Kotor? Jelas, karena peyek-peyek itu jatuh ke lantai bus.
Memalukan? Pasti, karena dia harus memungutinya di antara kaki-kaki penumpang
lain. Tapi, dia makan juga setelahnya. Dan botol besar air minum yang tadi ada
di tangan bapak baju batik dimintanya, kemudian glek glek glek, minumlah si
kaos biru peci hitam. Selesai, lalu berucap kepada dua laki-laki rekannya yang
duduk di depannya, “Inyong uwis madhang, wareg. Kiye arep madang siki apa
mengko?” (Saya sudah makan dan
kenyang. Ini, mau makan sekarang apa nanti?). Si tambun menjawab, “Aku be
nggawa” (Saya juga membawa). Kemudian si tambun mengeluarkan benda yang
sama, ketupat!! Hanya lauknya tahu, dan membukanya tidak pake sobek. Makanlah
si tambun kaos polos bersama si kaos garis. Setelahnya, kembali meminta jatah air, lalu
minum pula seperti 3 laki-laki sebelumnya. Kemudian, sopir dan awak bus naik,
pertanda perjalanan kami akan dilanjutkan. Lima laki-laki -yang rupanya sudah
kenyang- itu tertidur, hanya dalam hitungan menit setelah bus kembali berjalan.
Pulas…..
Bus terus melaju menembus kegelapan malam. Dan malam semakin
larut., ketika aku terjaga dari kantuk tak tertahanku. Rupanya agak panjang
juga mataku memejam. Tidak begitu
tersadar ketika melewati jalan panjang menanjak Kledung, tikungan maut Kabelukan, Parakan, Kedu, Temanggung, tahu-tahu busku sudah sampai di Secang. Dan ngetem lagi. Kakak
sampai berujar, “Bunda, sopir busnya tidak tahu kalau kakak sudah capek, apa ya…?”
“Mari bersabar Sayang, penumpang lain juga sama seperti kita, sudah capek
berjam-jam di bus”. Batinku “Mudah-mudahan tidak selama di Wonosobo”. Benar
saja, setengah jam lebih sedikit saja, bus berangkat lagi. Padat merayap di jalur Secang - Semarang, tapi
sudah tidak pake ngetem lagi. Sampai di jalan Perintis Kemerdekaan, handphone
kembali memberi isyarat, aku dapat pesan sangat manis, “Papah sudah menunggu di Sukun”.
Hatiku melompat girang, tak bisa kusembunyikan senyum haruku, ini sangat indah. Inilah laki-laki terakhirku di
perjalanan malam kali ini… dan insya Allah dalam seluruh perjalananku. Walloohu
ta’ala a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar