Hanya mengumpulkan tulisan2 yg sering dan pernah saya butuhkan, semenjak menikah kemudian hamil, sampai sekarang dan Insya Alloh sampai ke depan, mengiringi pendampingan pada buah hati kami. Terimakasih untuk kawan-kawan yang telah menginspirasi saya tentang banyak hal. Semoga Allah menilai sebagai amal baik dan berbalas dengan pahala yg setimpal. Beri saya masukan, saran dan kritik membangun untuk kemanfaatan banyak orang, untuk kebaikan dan perbaikan di masa datang. Allahu Ta'ala A'lam.
Selasa, 27 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011
Daripada Tidak
Hidup di dunia. Siapa sih yang tidak senang dengan dunia? Siapa yang tidak suka, menjaga dunia yang sudah dimilikinya? Tapi mari meletakkan dunia dalam genggaman tangan kita, janganlah letakkan ia dalam hati kita. Mari jadikan ia sebagai sarana ibadah, bukan menjadikannya sebagai tujuan utama, hingga mengalahkan segalanya untuk meraihnya, dan menghalalkan segala cara guna mendapatkannya.
Adalah sebuah perenungan di pagi hariku, lebih tepatnya adalah monolog, yang semoga ini adalah sarana untuk introspeksi diri.
Tiap kali mendung datang, aku selalu risau. Aku takut dengan hujan yang biasanya menyertai mendung itu. Aku takut banjir, aku sedih dengan rumahku yang bocor di sana sini, aku sebel dengan got depan dan samping rumah yang meskipun aku sudah membersihkannya, selalu "macet" aliran airnya karena orang-orang yang menjadikannya sebagai tempat sampah umum, aku jengkel dengan anak-anak yang gemar menutup aliran air di depan rumah demi mendapatkan kubangan saat hujan kemudian asik bermain dengan "kolam mini" bikinan mereka.
Padahal.....
Tidak selalu mendung itu pasti akan disertai hujan to?
Mendung tak berarti hujan, meski tidak mendung juga bukan selalu tidak akan turun hujan
Dan meskipun turun hujan, tidak selalu akan mengakibatkan banjir bukan? Lalu, jika ternyata benar-benar banjir, kita kan manusia yang punya akal, karsa, dan mampu berkarya. Pasti kita punya cara untuk mengatasinya, dan membersihkannya. Lelah? Ya bersyukurlah, dengan tiap lelah yang kita punya, insya Alloh akan dibersihkanNYA kesalahan-kesalahan kita.
Karena tanpa rasa lelah, sakit, penat, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya, sungguh amalan kita tidak akan pernah cukup untuk menebus dosa-dosa kita di hadapan Alloh.
Lalu, lihatlah anak-anak itu. Keceriaan mereka adalah masa depan. Cobalah untuk membayangkan, dan sedikit jeli berfikir. Dunia anak memang dunia bermain. Bayangkanlah, salah satu dari mereka adalah anak kita. Dan pikirkanlah pula, anak mana di sekitar kita yang tidak suka bermain hujan? Jikalah ada dari anak-anak kita yang tidak keluar dan bermain saat hujan, itu pastilah karena larangan orang tuanya, eyangnya, atau orang dewasa yang ada di dalam rumahnya. Atau paling tidak norma dan aturan di rumahnya yang tidak mengijinkan dia untuk hujan-hujanan.
Kemudian rumahku yang rawan banjir. Mengapalah harus dirisaukan hingga ke ubun-ubun? Orang yang tidak punya rumah, pastilah sangat ingin punya rumah, meskipun di tempat yang rawan banjir. Dan mereka yang sudah tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, pastilah ingin pulang ke rumah (mereka ndak pulang karena ndak punya rumah to?). Dan kalau dibilang atap rumahku yang bocor, mereka pasti akan menyahut, "Bocor juga, punya rumah, dari pada kami yang tidak punya".
Hari kemarin lumayan melelahkan. Dari pagi hingga sore, aktivitas agak padat. Mengapalah tidak mencoba bersyukur saja? Tentang nikmat sehat yang Alloh berikan, hingga bisa beraktivitas dan merasa lelah. Bukankah orang gila di jalan-jalan yang kerap kita temui, seperti tidak pernah merasakan lelah? Bukankan orang yang sedang terbaring di rumah sakit sangat ingin berjalan dan beraktivitas dengan sehatnya? Bukankah orang-orang yang belum pernah ke bandara -sekedar melihat dan mendengarkan riuhnya pesawat dari jarak dekat- sangat ingin pergi ke sana? Hidup adalah pilihan, dan mari memilih yang bisa dipilih. Bukan memilih yang "mestinya begini dan begitu", sesuai dengan nafsu dan angan kita semata.
Sekali lagi, mudah-mudahan ini adalah introspeksi dan sumber semangat untuk senantiasa mempertahankan kebersyukuranku atas nikmat Alloh yang pastilah TIADA TARA.
Episode kangen Bapak
Padahal.....
Tidak selalu mendung itu pasti akan disertai hujan to?
Mendung tak berarti hujan, meski tidak mendung juga bukan selalu tidak akan turun hujan
Dan meskipun turun hujan, tidak selalu akan mengakibatkan banjir bukan? Lalu, jika ternyata benar-benar banjir, kita kan manusia yang punya akal, karsa, dan mampu berkarya. Pasti kita punya cara untuk mengatasinya, dan membersihkannya. Lelah? Ya bersyukurlah, dengan tiap lelah yang kita punya, insya Alloh akan dibersihkanNYA kesalahan-kesalahan kita.
Karena tanpa rasa lelah, sakit, penat, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya, sungguh amalan kita tidak akan pernah cukup untuk menebus dosa-dosa kita di hadapan Alloh.
Lalu, lihatlah anak-anak itu. Keceriaan mereka adalah masa depan. Cobalah untuk membayangkan, dan sedikit jeli berfikir. Dunia anak memang dunia bermain. Bayangkanlah, salah satu dari mereka adalah anak kita. Dan pikirkanlah pula, anak mana di sekitar kita yang tidak suka bermain hujan? Jikalah ada dari anak-anak kita yang tidak keluar dan bermain saat hujan, itu pastilah karena larangan orang tuanya, eyangnya, atau orang dewasa yang ada di dalam rumahnya. Atau paling tidak norma dan aturan di rumahnya yang tidak mengijinkan dia untuk hujan-hujanan.
Kemudian rumahku yang rawan banjir. Mengapalah harus dirisaukan hingga ke ubun-ubun? Orang yang tidak punya rumah, pastilah sangat ingin punya rumah, meskipun di tempat yang rawan banjir. Dan mereka yang sudah tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, pastilah ingin pulang ke rumah (mereka ndak pulang karena ndak punya rumah to?). Dan kalau dibilang atap rumahku yang bocor, mereka pasti akan menyahut, "Bocor juga, punya rumah, dari pada kami yang tidak punya".
Hari kemarin lumayan melelahkan. Dari pagi hingga sore, aktivitas agak padat. Mengapalah tidak mencoba bersyukur saja? Tentang nikmat sehat yang Alloh berikan, hingga bisa beraktivitas dan merasa lelah. Bukankah orang gila di jalan-jalan yang kerap kita temui, seperti tidak pernah merasakan lelah? Bukankan orang yang sedang terbaring di rumah sakit sangat ingin berjalan dan beraktivitas dengan sehatnya? Bukankah orang-orang yang belum pernah ke bandara -sekedar melihat dan mendengarkan riuhnya pesawat dari jarak dekat- sangat ingin pergi ke sana? Hidup adalah pilihan, dan mari memilih yang bisa dipilih. Bukan memilih yang "mestinya begini dan begitu", sesuai dengan nafsu dan angan kita semata.
Sekali lagi, mudah-mudahan ini adalah introspeksi dan sumber semangat untuk senantiasa mempertahankan kebersyukuranku atas nikmat Alloh yang pastilah TIADA TARA.
Episode kangen Bapak
Selasa, 13 Desember 2011
Kamis, 08 Desember 2011
Konsekuensi
*demi senyum anakku*
Belajar adalah kewajiban, selama hayat di kandung badan
Sekolah (belajar di sekolah, tempat pendidikan formal yang dikaui pemerintah) adalah bagian dari belajar
Adalah sebuah catatan kepiluan tentang sekolah dan para pelakunya (para siswanya, orang tua siswa, guru-gurunya, juga pimpinan sekolahnya) yang-sepertinya agak- kurang faham tentang sekolah yang mustinya bukan hanya proses belajar-mengajar namun lebih dalam lagi : proses pendidikan
(departemennya saja bukan dpartemen pengajaran to? Tapi departemen pendidikan)
Para siswa di sebuah sekolah, dari negeri antah berantah, tiap musim ulangan sibuk mencari "contekan" dan "bocoran" soal-soal dari kelas sebelah. Sudah bukan rahasia lagi, tapi sudah jamak terjadi.
Hal yang tentu tidak akan ada untuk pendidikan di luar sekolah macam home schoolling, atau semacamnya.
Di benakku kemudian muncul pertanyaan sekaligus angan-angan, seandainya aku adalah guru mereka
* Mengapa para guru tidak membuat soal yang berbeda untuk tiap2 kelas, agar tidak ada aksi membocorkan soal ulangan?
Kalau jawabannya REPOT, bukankah mereka memang memilih menjadi guru untuk -konsekuansi- kerepotan yang seperti itu? Mengajar, kemudian membuat soal ulangan, mengoreksi, dan memberi nilai? (bukan untuk menanam padi, menyiangi, memanen, kemudian menjualnya, karena mereka bukan petani)
Sekali lagi, belajar-mengajar dan pendidikan adalah proses
Perlu jiwa besar para pelakunya
Para orang tua siswa, seperti sdh menyelesaikan tugasnya ketika sudah memasukkan putra-putrinya ke sekolah, yang favorit pula. Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Apa lagi jika sudah menambah jam belajar mereka dengan memasukkannya ke tempat les atau bimbel yang terkenal bonafid.
* Mengapa para guru cenderung lebih suka anak-anak muridnya dimasukkan orang tuanya ke tempat les dan bimbel-bimbel untuk mendongkrak nilai ujian?
Belum selesai aku merenung..
Anakku pulang dengan wajah kurang riang
Cerita siang itu : " Bunda, tadi kan ayah temanku ada yang meninggal dunia. Nah, bu guru menyarankan aku dan teman-teman untuk menyisihkan uang saku, untuk nyumbang. Uangnya dikumpulin ke bu guru. Eeh... temanku, si Anto(-kebetulan anak tunggal), uangnya sdh habis buat jajan, jd ndak nyumbang. Kok bu guru bilang Anto, anak tunggal, bapak ibunya kaya, malah ndak nyumbang.. Terus, sama Danto yang nyumbangnya cuma 2 ribu, buguru bilang Danto, anak pejabat malah nyumbangnya cuma 2 ribu. Lihat nih si Nanto, yang ayah ibunya lagi pergi umroh, nyumbangnya 20 ribu.
Duuh, pendidikan macam apa yang tengah di tanamkan, wahai bu Guru?
Kembali kupupus angan-anganku untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran terbaik, ketika kupilih menyekolahkan anakku di lembaga yang -konon- diakui resmi oleh pemerintah
Segudang cerita kepiluan kudengar dari anak-anakku saban hari
Yang itu tentu baru sebahagian kecil saja, baru dari perilaku mereka, teman-teman mereka, dan orang-orang di sekolah mereka
Belum lagi dengan materi ajar yang belum tentu sesuai dengan aqidah dan syri'at ku (ISLAM), yang menuntut penetralan dan klarifikasi setiap waktu
Konsekuansi yang amat mahal memang
Kadang membuat pening kepala
Namun tak boleh pening berkepanjangan, karena menjadikan aku tidak produktif
Harus berjuang dan bersiap setiap saat, merengkuh buah hatiku, sepulang dari "perjuangan" mereka di sekolah
Sangat ingin mencari sekolah yang mendidik anak-anakku dengan dan sepenuh hati
Pipa Paralon
Sebagaimana ditulis di catatan fb Karunia Atiek
*Kamis sore hari, di South Cempedak*
Hari ini tidak sangat istimewa, hanya berjalan biasa saja
Tetapi memaksaku mengakui, bahwa hari ini lebih lelah dari hari sebelumnya
*dan tiadalah setiap rasa sakit, kepayahan, dan segala bentuk ketidaknyamanan seorang mu'min, melainkan Alloh pasti akan menghapus dengannya kesalahan-kesalahannya... semoga ini menuntunku pada keikhlashan
Sejak pagi dengan rutinitas harian yang biasa pula, hanya sedikit lebih payah karena kebetulan"ngemis" sehingga tidak bisa sesigap aku ketika bisa minum dan makan
Sore hari, seluruh pasukanku sudah pulang ke rumah.
Ketika sedang mencuci, tiba-tiba air di kran tidak mengalir
Batinku, "Mati air kah?"
Dan ketika anakku keluar, hendak menengok meter air, dilihatnya pipa air di dekat meter itu telah putus.
Kususul dia keluar, demi memastikan apa yang terjadi.
Terlihat pipa pada sambungan siku-siku seperti bekas terinjak atau kejatuhan benda berat. Pikirku, "Kalau putus atawa pecah dengan sendirinya, bentuknya pastilah tidak begini".
Padahal hari sudah sore. Jika ingin membereskannya, tentu aku butuh material yang harus dibeli, dan toko bahan bangunan pun tentu sudah tutup. Jika tidak dibereskan, alamat malam hari sampai esoknya kami tidak punya air. NO WATER, NO BATH. NO WATER NO WASHING. AND IT'S A BIG PROBLEM
*haruskan aku marah pada si tertuduh penginjak pipa airku? Mengapa dia tidak bertanggung jawab? Apa lagi kalau tidak sekedar terinjak, tapi dilempar pakai bongkahan batu, apa maksudnya dia lakukan itu ?? Jawabnya, TENTU INI TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH!!
Sejurus kemudian, suamiku menyuruh anakku meminta bantuan tukang yang biasa membereskan kerusakan-kerusakan kecil di rumah kami.
*harus pula kah aku mendongkol, kenapa tidak dia sendiri yang berusaha menengok, kemudian membereskannya? Atau kalau pun harus ke tukang, kenapa dia tidak berangkat sendiri meminta tukang datang dengan menjelaskan apa yang terjadi? Jawabnya, INI PUN TIDAK BIJAK, DAN TENTU HANYA AKAN MENANBAH KERUWETAN.
Sambil menunggu anakku, kuteliti kerusakan pipaku, bersiap kemungkinan buruk kalau ternyata pak tukang tidak bisa datang, dengan alasan apa pun.
Jadi teringat pak Lilik. -aku menghibur diri- Andai saja rumah kita dekat ya Pak, tentu aku tinggal bilang saja, "Pak Lilik, pipanya putus....".
Dan benar saja, anakku pulang dari memanggil tukang dengan raut muka kecewa, "Ibu, tukangnya mau nengok". Terbersit di benakku si pak Tukang mau menengok pipaku, jadi sejenak aku menanti. Tetapi, kemudian aku ingin memastikan, "Dhe, tukangnya mau menengok ke sini atau menengok apa?"
"Ya nengok orang sakit"
Oh Alloh....
*haruskah aku berfikir aneh-aneh lagi tentang si bapak Tukang yang tidak bisa datang ke rumahku sore ini? Kenapa dia tidak mau datang? Marahkah dia? Atau kenapa? Jawabnya : INI BENER-BENER TIDAK PROGRESSIF, DAN SANGAT KONTRA PRODUKTIF
Sigap kuambil onta-ku, kupancal untuk lakuan sesuatu. Aku butuh sebuah knee, lem paralon, dan gergaji. Aktivitas dapur jelang maghrib, persiapan buka puasa dengan anakku, kutinggalkan. Sambil mengayuh pesawat jetku, kuputar otak. Tadi siang sewaktu jemput anakku, kulihat ada toko bahan bangunan yang baru mau buka, sedang menata barang-barang dagangannya. Karena mereka buka toko di rumahnya, barangkali bisa kumintai tolong untuk kubeli barang-barang yang aku perlukan.
Alhamdulillaah, jalan keluar mulai nampak. Si empunya toko berkenan membuka pintu, dan mengambilkan barang-barang yang aku butuhkan.
"Ibu, putusnya pipa bagaimana?"
"Pas di siku-siku, Pak"
"Apa Ibu mau nggorok-nggorok sendiri, atau tukang?"
"Iya, saya yang akan kerjakan sendiri"
"Kalau pas di siku-siku, Ibu butuh sok juga, tidak cuma knee"
Tapi aku tidak kling, tidak mudeng dengan kalimat si Bapak ini, hingga aku tidak mengiyakan ketika ia menawarkan aku menambah sok. Akhirnya, "Ya sudah, sekrang Ibu pulang saja dulu, bawa ini barang-barang, nanti kalau kurang balik ke sini lagi. Tinggalnya di mana? Kalau ternyata tidak berhasil, panggil saya saja, saya pasangkan"
Hari sudah semakin sore. Sesampai di rumah, segera aku kerjakan project-ku.
Dan benar saja kata si bapak toko bangunan, aku butuh sok, pipaku kurang panjang sedikit, sekitar satu senti. Aku suruh anakku membeli, di toko yang tadi.
Tapi namanya toko baru mau buka, dan anakku belum pernah tahu. Tidak tahu pula tadi ibunya beli di toko apa, di mana. Jadi sebentar saja dia pergi, beberapa saat kemudian pulang dan bilang, "Ibu tokonya sudah tutup, orang sudah jam 5 lebih". Dia tidak tahu bahwa sudah ada agreement, antara ibunya dengan penjual di toko yang dimaksud.
Yaah, terpaksa aku berangkat lagi demi sebuah sok..
Setelah kudapatkan soknya, ditemani anakku kupasang pipaku, menggorok, mengelem, membongkar, memasang lagi dan ............ JADI!!!
Tentu belum serta merta berani kubuka kembali meter air untuk mengalirkan airnya. Bener-penerngelmu praktek. Feelingku, kalau langsung dialirkan, kayaknya lemnya belum kering benar dan sambungan pipa -ala emak- bakalan bisa lepas lagi. Sia-sia deh, pekerjaan kami.
Aku masuk rumah, setidaknya dengan hati sedikit tenang, dengan harapan 2-3 jam kedepan akan kubuka meter airku, dan aku punya air lagi, di rumah, Insya Allohu ta'ala...
Kesabaran, kesigapan, khusnudzon, dan kreatifitas yang terasah dengan "pipa"
Sebuah hikmah yang harus aku syukuri, bukan aku dongkoli...
Wa laa haula walaa quwwata illa billah...
Rabu, 07 Desember 2011
Mustikah?
Hari ini
Kusambut kau dengan penampilan cantikku
Kaubilang dandananku norak
Tetapi
Kudapati pesan di handphone mu pada seseorang
Kita pergi hari ini juga, untuk membeli make-up mu selengkap
mungkin
agar kau semakin cantik dan aku tak menjadi bosan memandangmu
Aku jadi teringat
Suatu hari aku minta kau antar aku ke pantai
Kaujawab orang pantai kok piknik ke pantai
Namun
Ketika hendak kucuci bajumu
Kutemukan di saku,
tiket masuk ke sebuah wisata bahari untuk dua
orang
Di hari lain
Kuajak kau bermain sebuah game, bowling
Kau bilang aku kekanak-kanakan
Tapi di malam harinya, disangka aku sudah tertidur
kau berbicara di telepon, mengajak seseorang bermain game di
sebuah wahana bermain
sambil menyangatkan bermain bowling itu akan sangat mengasikkan
Pantaskah kalau aku tak heran?
Wajarkah kalau tak ada protes apa pun di hatiku?
Aneh kah jika aku bingung?
Kemudian aku ber-monolog
Mungkin seharusnya aku menjadi orang lain saja,
untuk bisa menikmati hidupku bersamamu
Terlalu bodoh memang diriku
Untuk mampu memahami semuanya
Dan untuk menjadikannya sumber semangat, pelecut kesabaran
Karena sejatinya kau butuhkan apa-apa yang aku sediakan
Tetapi kau malah bersusah payah mencarinya dari orang lain
Mustikah aku goyah?
Mustikah aku bertahan?
Mustikah aku berbicara kembali?
Atau
Mustikah aku diam?
Mustikah aku diam?
Selasa, 06 Desember 2011
Asiknya Tutup Mata Tutup Telinga
Bagiku, aktivitas pagi hari bersama anak-anakku selalu mengasikkan. Selalu sarat inspirasi. Dibalik keributannya, ketegangannya, "full teriyaki"nya, juga intrik-intrik perang saudara yang menguras cukup banyak energi untuk mendamaikannya.
Jamak terjadi, dan hampir tiap hari, anak-anak selalu berebut kamar mandi "belakang". Padahal rasanya sudah dibuat jadualnya, biar ndak crash ataupun overlap. Dan -kebetulan- ada kamar mandi lain yang bisa dijadikan alternatif, kala harus masuk di jam yang sama. Suatu kali, adik yang tidak taat shedule, dengan alasan pengin BAB dulu. Di kali lain si kakak yang masuk duluan di luar jadualnya, karena katanya, adik suka bikin kamar mandi berbau pengap.
Dan pagi ini, adalah adik yang berhasil masuk kamar mandi di jamnya, tanpa keributan apalagi rekonsiliasi. "Aman...", batinku sambil persiapkan sarapan pagi mereka. Tengah asik dengan irama potongan cabe dan bumbu-bumbu, juga aroma dapur yang -sejatinya- sudah sangat biasa, tiba-tiba si kakak masuk ke dapur, setelah sebelumnya mampir dulu di kulkas, mengambil sesuatu. Posisi Kulkas yang hampir tepat di depan pintu kamar mandi adik, membuat siapa pun yg beraktivitas dekat dengannya, terdengar oleh siapa saja yg berada di dalam kamar mandi. Dan sudah adatnya si ayah, kakak, adik, -dan kadang aku juga-, sambil membuka kulkas selalu menyempatkan menggoda, jika ada yang sedang berada di kamar mandi. Saat ini, niatan di awal si kakak tidak ingin membuat keributan dengan menggoda adik, tapi menyanjung ibu yang sedang memasak, sambil mencari tahu sarapan pagi apa yang aku buat.
"Hayo.... bikin apa ya....", sambil kakak berjingkat mendekatiku, seperti hendak membikin kejutan.
Aku tidak terkejut, tapi terdengar yang di dalam kamar mandi menyahut dengan kalimat khasnya orang tertangkap basah, "Yaa, Bu...". Adik merasa ingin membela bahwa di dalam kamar mandi tidak melakukan kegiatan yang semestinya, sebagaimana tahu sedang ditunggu, atau tengah berpacu dengan waktu yang semakin beranjak siang. Stelahnya, adik seperti makin asik saja dengan aktivitasnya di kamar mandi, seperti merasa aman karena sudah meminta maaf, dan sudah mendapat "rekomendasi"...untuk lanjuuut...!
Hahahaha... aku dan kakak tertawa, tetapi kemudian bersama-sama (seperti biasa) "berbahas" dengan kejadian yang barusan.
"Bunda, memang orang ndak tahu itu ada kalanya asik ya...?"
"Betul, adik tidak tahu, bahwa yang kakak ajak bicara tadi adalah bunda. dan orang akan menjadi asik, atau tidak, suka atau benci, gembira atau sussah, itu tergantung mind set nya."
Setelahnya adik keluar, dan kakak masuk kamar mandi. Aku lanjutkan aktivitasku di dapur, tinggal platting aja kok..
Sambil merenung sendiri.
Aku fikir bagus juga, suatu saat aku tutup mata tutup telinga, untuk memanjakan diri. Membuat diri ini bahagia. Jika aku tidak bisa bahagia karena sebab orang lain yang memang seharusnya memberikannya padaku, barang kali buatku ini adalah pilihan.
Terimakasih adik, terimakasih kakak... Semoga ini adalah starter semangat pagi kita utnuk sampai sore nanti, bahkan malam dan esok hari, atau selamanya....
Nice for you, dhenok dan kenang
Jamak terjadi, dan hampir tiap hari, anak-anak selalu berebut kamar mandi "belakang". Padahal rasanya sudah dibuat jadualnya, biar ndak crash ataupun overlap. Dan -kebetulan- ada kamar mandi lain yang bisa dijadikan alternatif, kala harus masuk di jam yang sama. Suatu kali, adik yang tidak taat shedule, dengan alasan pengin BAB dulu. Di kali lain si kakak yang masuk duluan di luar jadualnya, karena katanya, adik suka bikin kamar mandi berbau pengap.
Dan pagi ini, adalah adik yang berhasil masuk kamar mandi di jamnya, tanpa keributan apalagi rekonsiliasi. "Aman...", batinku sambil persiapkan sarapan pagi mereka. Tengah asik dengan irama potongan cabe dan bumbu-bumbu, juga aroma dapur yang -sejatinya- sudah sangat biasa, tiba-tiba si kakak masuk ke dapur, setelah sebelumnya mampir dulu di kulkas, mengambil sesuatu. Posisi Kulkas yang hampir tepat di depan pintu kamar mandi adik, membuat siapa pun yg beraktivitas dekat dengannya, terdengar oleh siapa saja yg berada di dalam kamar mandi. Dan sudah adatnya si ayah, kakak, adik, -dan kadang aku juga-, sambil membuka kulkas selalu menyempatkan menggoda, jika ada yang sedang berada di kamar mandi. Saat ini, niatan di awal si kakak tidak ingin membuat keributan dengan menggoda adik, tapi menyanjung ibu yang sedang memasak, sambil mencari tahu sarapan pagi apa yang aku buat.
"Hayo.... bikin apa ya....", sambil kakak berjingkat mendekatiku, seperti hendak membikin kejutan.
Aku tidak terkejut, tapi terdengar yang di dalam kamar mandi menyahut dengan kalimat khasnya orang tertangkap basah, "Yaa, Bu...". Adik merasa ingin membela bahwa di dalam kamar mandi tidak melakukan kegiatan yang semestinya, sebagaimana tahu sedang ditunggu, atau tengah berpacu dengan waktu yang semakin beranjak siang. Stelahnya, adik seperti makin asik saja dengan aktivitasnya di kamar mandi, seperti merasa aman karena sudah meminta maaf, dan sudah mendapat "rekomendasi"...untuk lanjuuut...!
Hahahaha... aku dan kakak tertawa, tetapi kemudian bersama-sama (seperti biasa) "berbahas" dengan kejadian yang barusan.
"Bunda, memang orang ndak tahu itu ada kalanya asik ya...?"
"Betul, adik tidak tahu, bahwa yang kakak ajak bicara tadi adalah bunda. dan orang akan menjadi asik, atau tidak, suka atau benci, gembira atau sussah, itu tergantung mind set nya."
Setelahnya adik keluar, dan kakak masuk kamar mandi. Aku lanjutkan aktivitasku di dapur, tinggal platting aja kok..
Sambil merenung sendiri.
Aku fikir bagus juga, suatu saat aku tutup mata tutup telinga, untuk memanjakan diri. Membuat diri ini bahagia. Jika aku tidak bisa bahagia karena sebab orang lain yang memang seharusnya memberikannya padaku, barang kali buatku ini adalah pilihan.
Terimakasih adik, terimakasih kakak... Semoga ini adalah starter semangat pagi kita utnuk sampai sore nanti, bahkan malam dan esok hari, atau selamanya....
Nice for you, dhenok dan kenang
Senin, 05 Desember 2011
Hanya karena kau dan buah hati kita
*Yang sempat tersisa di lembayung sore ini… *
(Ini adalah tulisan yang aku dapatkan di laptop yang masih menyala dan ditinggalkan oleh suamiku yg buru-buru pergi karena dipanggil pasien. Mungkin dari hasil suamiku copas, tp tidak aku dapati sumbernya, entah dari mana. Mungkin juga ini adalah isi hatinya. So, aku simpan di sini, agar menjadi hal yang tak terlupakan. Kalaupun ini tidak seluruhnya mencerminkan apa yang ada di hatinya, setidaknya masih banyak harapan yang patut kami gantungkan, ketika salah satu diantara kami sesekali berada pada posisi kurang suka, membenci, atau merasa diperlakukan tidak semestinya)
Aku ingin kalian tahu. Mungkin berat rasanya bersanding dan bersama – sama denganku. Tak mudah berkata-kata bijak, tak mudah bagiku untuk merayu. Aku tahu, banyak yang kau mau dan aku tak mampu untuk itu. Dan aku pun tahu. bahwa ketika kalian hanya diam dan meperlihatkan bahwa kalian bosan, kalian ingin aku tetap bersabar. Tapi aku tidak mau terlihat tidak bisa mengerti kalian dengan mengajukan pertanyaan “jadi maunya gimana?” Aku akan diam sesaat, dan berpikir apa yang bisa membuat senyum kalian kembali lagi? Karena senyum kalian yang menghidupkan hidupku, sungguh! Semua hanya karena kalian.
Aku sebenarnya pun tahu. bahwa kalian senang jika aku menulis kata-kata romantis seperti di film2 korea yang kalian tonton. Kalian berangan-angan bahwa hal yang terjadi di film itu terjadi dalam kehidupan kalian? (*ya kan?). Tapi justru karena kalian sering mengangan-angankan hal itu, aku tidak melakukan itu untuk kalian, aku berpikir keras, memutar otak menyiapkan kejutan yang bahkan tidak terpikir di angan2 kalian, untuk melihat kalian tersenyum, sungguh! Semua hanya karena kalian..
Aku pun tau, kalian menerima aku di samping kalian bukan semata2 karena aku tampan. Ketika kalian mengidolakan seseorang yang tampan maka aku akan memasang tampang tidak peduli, dan mencoba mengalihkan pembicaraan, bukan aku tidak peduli, sebenarnya aku cukup muak dengan cara kalian menyanjung lelaki yang bahkan mengenal kalian saja tidak!
Akan tetapi aku harus menjadi pemimpin yang baik untuk kalian dan menjadikan aku bersikap lebih bijaksana di depan kalian. sungguh! Semua itu hanya karena kalian..
Aku cukup mengerti bahwa kalian menghargai setiap usaha yang aku lakukan untuk membantu kalian mengerjakan tugas kalian, ketika kalian mengatakan dalam kesulitan, sungguh aku akan berusaha sebisaku untuk membantu kalian.
Dan aku pulang dengan makanan, tanpa tugas yang kalian butuhkan, artinya aku tidak mendapatkan apa yang kalian cari dan yang ada dipikiranku saat itu hanyalah bahwa usaha terakhir yang dapat aku lakukan hanya menemani kalian! Hingga tugas itu selesai, meyakinkan bahwa kalian tidak lupa untuk mengisi perut kalian, aku sungguh khawatir pada kesehatan kalian.. sungguh,semua itu hanya karena kalian..
Aku tau, kalian kesal ketika aku mengacuhkan kalian hanya untuk bermain game bersama teman - temanku, tapi ketika itu, ketika ada sedikit waktu, aku mencari handphone-ku dan menanyakan kabar kalian, karena aku ingin mengetahui kabar kalian. Dan tahukah kalian? Sebelum aku bermain game itu, aku bersama kawan-kawanku membicarakan pasangan kami masing-masing, membanggakan bahwa kami memiliki pasangan terbaik di dunia! Atau membicarakan masalah-masalah yang timbul pada hubungan kami, dan masing-masing akan memberikan sarannya untuk menyelesaikan masalah kita, itu aku lakukan hanya karena aku ingin mendengarkan pendapat orang yang dekat dengan kita, di sekitar kita, mengenai keputusan yang akan aku buat.
Kadang memang aku mematikan handphone ku, namun ketika aku mengetahui kalian menelpon atau membaca sms dari kalian, maka aku akan meletakkan game itu dan berlari ke pojok kamar menelepon kalian, tidak peduli teman2 ku bersorak sorak menggodaku. Sungguh, semua itu hanya karena kalian.
Aku pun sadar, aku bukan bayi yang harus kalian ingatkan untuk sembahyang, atau makan. Kadang aku akan bersikap tak peduli. Namun ketika aku membaca sms kalian atau mendengarkan suara kalian ketika mengingatkan aku untuk makan, maka pada saat itu aku pasti tersenyum dan berterima kasih (walaupun tidak kuucapkan), dan ketika itu, ingin sekali rasanya aku membalas dengan kata-kata “iya, kamu juga ya..”,
Maka aku benar2 tulus mengatakannya… sungguh, semua itu hanya karena kalian…
Ketika aku seperti tak acuh pada kalian, maka pada saat yang sama aku sedang menyiapkan kejutan untuk kalian dan ketika aku memberikan barang milikku pada kalian waktu mengantarkan kalian hingga pintu dan pamit pada orang tua kalian, maka kalian harus tau bahwa barang itu adalah barang yang berharga untukku. (walaupun barang itu terlihat biasa untuk kalian) tolong tersenyumlah untukku, karena senyum itu yang menghidupkan hidupku! Sungguh, semua itu hanya karena kalian..
Dan ketika kalian bersedih, lalu aku melakukan hal-hal konyol, melontarkan lelucon-lelucon yang mungkin tidak lucu, maka sungguh aku tidak bermaksud memperkeruh suasana. Aku ingin melihat kalian kembali tersenyum. Hanya itu! Dan ketika kalian melihatku dengan pandangan tidak suka, maka ketika itu aku sungguh merasa bersalah, jalan terakhir yang akan aku lakukan adalah meminta maaf.. -meski yang terjadi pada diriku, aku selalu gagal mengucapkannya- berharap itu dapat sedikit mengurangi beban kalian. sungguh, semua itu hanya karena kalian..
Sejujurnya aku tidak menyukai pujaan hatiku menangis. Sungguh itu membuat aku bingung setengah mati! Maka tolong jangan salahkan aku, ketika aku meminta kalian berhenti menangis. namun aku pasti akan mendengarkan apa yang kalian ucapkan dalam tangis kalian, dan percayalah, aku akan tetap disamping kalian walaupun kalian menangis hingga tertidur di depanku, di sampingku, atau bahkan di dekapanku.
Jika karena amarah kalian, kalian pulang ke rumah ibumu, dan kakek nenek kalian aku pasti akan bersedih. Dan tunggulah, pasti aku akan menelepon kalian keesokan harinya untuk menanyakan kabar kalian atau datang ke rumah membawakan coklat untuk melihat senyum kalian lagi sungguh, itu hanya karena kalian....
Bagi aku, kalian tetap yang tercantik, dan terindah! Ketika kalian bertanya mengenai berat badan kalian yang naik? Atau baju kalian yang mulai tidak cukup? Maka dalam hati aku tertawa. meski yang keluar dari mulutku hanya senyuman, atau bahkan cercaan karena kalian makin gendut dan itu kurang bagus.
Aku akan berkata TIDAK, bukan untuk membohongi kalian, tapi karena di mataku kalian tetap paling indah!! karena aku sebenarnya tidak mencari malaikat yang tanpa cela, atau bidadari yang paling cantik sedunia, aku mempunyai peri2 bijak yang selalu ada di sampingku. Ya! itu adalah kalian.. mengertilah, sungguh, itu hanya karena kalian..
Ketika kalian berkata baik-baik saja, maka aku akan tersenyum dan berkata, “Ok, kalo ada apa2 bilang ya”. Karena aku tidak ingin memaksa kalian mengatakan sesuatu yang tidak ingin kalian katakan padaku, dan tanpa kalian minta aku akan bertanya pada sahabat kalian apakah kalian benar2 baik2 saja? jika sahabat kalian tidak mau menceritakannya maka aku tidak akan mencari tau lagi, dan lantas akan berdoa untuk kebaikan kalian.
Karena aku berharap kalian cukup mempercayaiku untuk menceritakan semuanya.. bukan karena aku memaksa kalian, sungguh, itu semua hanya karena kalian….
Dan ketika kalian membutuhkan aku, yakinlah bahwa aku akan selalu ada untuk kalian. ketika kalian mengatakan “tidak usah” pun, aku akan selalu ada di samping kalian. Karena kalian adalah orang yang aku sayangi, percayalah..!! sungguh, semua ini hanya karena kalian..
Jika aku sudah memilih kalian, maka yakinlah, kalian adalah peri2 ku yang bijak, setidaknya itu yang aku pikirkan saat ini, dan selamanya…
Ketika kalian (mungkin tanpa kalian sadari) menyakiti hati ku dan meninggalkan ku, aku mungkin akan marah, tapi itu hanya sesaat, dan yang kalian harus tahu, ketika aku benar2 telah memilih kalian untuk menemaniku, maka walaupun hubungan itu berakhir, separuh ruangan hatiku sudah kutulis menjadi ruangan kalian, maka ketika aku mempunyai kekasih yang lain, maka mereka hanya akan mengisi ruang di sisi yang lain, datang, dan pergi pada sisi itu. ruangan kalian akan tetap kosong untuk kalian, ketika kalian datang kembali untukku.
Bagi aku, kalian tetap yang tercantik, dan terindah! Ketika kalian bertanya mengenai berat badan kalian yang naik? Atau baju kalian yang mulai tidak cukup? Maka dalam hati aku tertawa. meski yang keluar dari mulutku hanya senyuman, atau bahkan cercaan karena kalian makin gendut dan itu kurang bagus.
Aku akan berkata TIDAK, bukan untuk membohongi kalian, tapi karena di mataku kalian tetap paling indah!! karena aku sebenarnya tidak mencari malaikat yang tanpa cela, atau bidadari yang paling cantik sedunia, aku mempunyai peri2 bijak yang selalu ada di sampingku. Ya! itu adalah kalian.. mengertilah, sungguh, itu hanya karena kalian..
Ketika kalian berkata baik-baik saja, maka aku akan tersenyum dan berkata, “Ok, kalo ada apa2 bilang ya”. Karena aku tidak ingin memaksa kalian mengatakan sesuatu yang tidak ingin kalian katakan padaku, dan tanpa kalian minta aku akan bertanya pada sahabat kalian apakah kalian benar2 baik2 saja? jika sahabat kalian tidak mau menceritakannya maka aku tidak akan mencari tau lagi, dan lantas akan berdoa untuk kebaikan kalian.
Karena aku berharap kalian cukup mempercayaiku untuk menceritakan semuanya.. bukan karena aku memaksa kalian, sungguh, itu semua hanya karena kalian….
Dan ketika kalian membutuhkan aku, yakinlah bahwa aku akan selalu ada untuk kalian. ketika kalian mengatakan “tidak usah” pun, aku akan selalu ada di samping kalian. Karena kalian adalah orang yang aku sayangi, percayalah..!! sungguh, semua ini hanya karena kalian..
Jika aku sudah memilih kalian, maka yakinlah, kalian adalah peri2 ku yang bijak, setidaknya itu yang aku pikirkan saat ini, dan selamanya…
Ketika kalian (mungkin tanpa kalian sadari) menyakiti hati ku dan meninggalkan ku, aku mungkin akan marah, tapi itu hanya sesaat, dan yang kalian harus tahu, ketika aku benar2 telah memilih kalian untuk menemaniku, maka walaupun hubungan itu berakhir, separuh ruangan hatiku sudah kutulis menjadi ruangan kalian, maka ketika aku mempunyai kekasih yang lain, maka mereka hanya akan mengisi ruang di sisi yang lain, datang, dan pergi pada sisi itu. ruangan kalian akan tetap kosong untuk kalian, ketika kalian datang kembali untukku.
Minggu, 04 Desember 2011
Semakin Unik Saja
Hari Ahad adalah hari pilihan buat ku memanjakan diri, kumpul sama papah dan anak-anak.
Bangun subuh dengan "meletakkan" sebagian kepenatan hari-hari sebelumnya, dan mengistirahatkan badan dan fikiran. Mencari sebanyak-banyaknya hal inspiratif untuk "recharge" semangat, bersiap melanjutkan perjuangan di hari esoknya. "Kruntal kruntel" sama papah, genduk dan kenang, menjadi reenergizer yang sangat indah. Berpindah dari tempat tidur ke ruang tengah, berlarian dari ruang satu ke ruang lain yang memang tidak sangat longgar, menyempatkan bermain sunda manda.
Pagi hari beranjak siang, perut sudah memberi kode, minta sarapan. Papah mengajak membeli saja di Warung Mbak Yem. Gudheg dan koyornya lumayan enak. Ternyata sampai di tempat yang dituju, antreenya panjang. Papah sampai duduk menunggu aku antree, sambil request makanan yang diingininya pagi itu. Ternyata aku tidak cukup pintar "nge-slading" di antreean. Berulang kali aku bilang ke penjual makanan yang aku pesan, selalu dijawab dengan, "Bentar ya Mbak, ini dirampungkan dulu, biar agak omber". Sampai papah ikut maju, "Kok lama banget, itu tadi yang antree di belakang kita malah sudah dapet dan sudah pulang!"
Mulai terasa ketidaksabarannya. Sampai giliran aku ditanya mau beli apa, yang aku maui sudah pada habis. Fikirku, ya sudah mbeli aja yang ada. Ku pesen pecel, gudheg sambel goreng, sama opor kepala ayam, pesenan papah. Kecewanya, karena koyor yang diimpikan dari rumah, ternyata ndak dapet karena kehabisan. Kubawa senyum aja, di hati dan di bibir. Tapi ternyata, papah yang kecewa karena aku tak dapatkan koyorku. Ha ha ha ha, uniknya dia. Mustinya aku yang kecewa ya, kenapa dia yang jadi marah - marah? Dan kenapa pula marahnya dia ke aku ya... Tapi masih dengan senyum, dan berusaha tetap tersenyum, duduk di samping dia yang pegang kemudi, "mancal" pedal gasnya terasa sekali dengan amarah. Kufikir, kalau tidak ke aku marahnya lantas dia kudu luapkan sama siapa, tukang becak, atau tukang parkir yang ditemuinya? Lebih tidak okey, kan? Sambil masih menyangatkan amarahnya dengan bergumam, "Besok lagi, harus pake toleransi waktu. Kalau seperempat jam ndak dilayani, ndak jadi beli aja, kita pulang!" Well, aku maknai saja itu karena dia sayang aku. Mencoba berempati dg kecewaku tak dapat makanan yang aku inginkan. Meski caranya unik, aneh... But, why not...
Sampai di rumah kami makan, dan suasana kembali anteng, rupanya sisa-sisa amarah papah sudah hampir bersih.
Kulanjutkan aktivitas hari minggu, masih dengan leketuran sama pasukanku. Sesekali dhenok buka-buka bukunya, karena hari esoknya ulangan akhir semester.
Tiba waktu sholat, papah dan adik ke masjid. Adik jalan kaki, tapi papah bawa sepeda. Pulang sholat, ternyata papah lupa membawanya. Ini sih sudah kali ke "banyak" papah lupa sepedanya, di masjid. Adik yang pulang belakangan rupanya juga "nggak nggagas" kalau dia "diwajibkan" membawa sepeda papah, saat papah lupa. Sesampai adik di rumah, papah bertanya dengan nanda yang lumayan aneh, berkesan introgratif. "Jo, (panggilan sayang papah buat adik), kok pulangnnya ndak bawa sepeda?"
"Lho, Adik ke masjid nggak naik sepeda"
"Ya sepedanya diambil ! Ndak mau!!! (nadanya mengancam)"
Adik malah bingung. Beruntung aku langsung tanggap, "Adik, tadi ternyata papah ke masjid naik sepeda, dan waktu pulang, papah lupa membawanya. Sekarang Adik balik ke masjid, dan ambil sepeda papah ya... Ayo Nak, mau pahala ndak?"
Mata adik berkaca-kaca, kutahu dia kecewa. Tapi takut mau bilang tidak.
Sampai sore, adik masih belum mau bicara. Sampai waktu habis asar, adik bergabung lagi dengan aku dan papah yang sedang googling di ruang tengah. Kutanya, "Adik masih sedih?"
Ditanya gitu, adik jadi manja. Terus aku punya kesempatan meng-clear kan suasana, mumpung papah ada.
"Ibu tahu, adik kecewa karena dibentak papah tadi kan? Ketahuilah Adik, dalam hatinya papah itu sayang banget sama Adik. Hanya saja, papah itu sering ndak bisa ngomongnya, ndak kayak ibu. Itu papah denger, dan papah dalam hatinya mengiyakan. Jadi, kalau papah bilang seperti membentak, seperti marah, atau kasar, itu sejatinya bukan karena papah buruk, atau jahat. Tp karena memang papah ndak punya banyak kosa kata indah, kayak ibu. Dimaknai indah saja, kan jadi indah..."
Mendengar penjelasan itu, air muka adik berubah menjadi riang...Alhamdulillaah 'alaa kulli haal...
Batinku, siapa sih yang tidak suka dengan kelembutan? (Copas dari FB Rumah Parenting Full: Bahagia bukanlah dari memiliki pasangan dan memiliki keturunan. Bahagia adalah dari bisa membahagiakan pasangan dan anak-anak kita. Bagaimana cara membuat mereka bahagia adalah dengan bahasa cinta. Jika bingung apa bahasa cinta pasangan...mulailah dari memahami bahwa setiap manusia suka kelembutan, kebaikan, empati, dan juga kebenaran. ZHR) Tapi siapa pula yang akan membantu papah memecahkan "hal ini" kalau bukan aku?
Yang semakin unik, dia milikku. Yang harus kujaga, dan kudampingi selalu, apa pun keadaanya, pembawaanya, dan tabiatnya. Jika adalah tabiat yang baik, semoga terjaga. Jikalah dia adalah pembawaan yang buruk, semoga aku bersabar dan menemukan banyak cara untuk mengurainya...
Nice Sunday, awal Desember 2011
Bangun subuh dengan "meletakkan" sebagian kepenatan hari-hari sebelumnya, dan mengistirahatkan badan dan fikiran. Mencari sebanyak-banyaknya hal inspiratif untuk "recharge" semangat, bersiap melanjutkan perjuangan di hari esoknya. "Kruntal kruntel" sama papah, genduk dan kenang, menjadi reenergizer yang sangat indah. Berpindah dari tempat tidur ke ruang tengah, berlarian dari ruang satu ke ruang lain yang memang tidak sangat longgar, menyempatkan bermain sunda manda.
Pagi hari beranjak siang, perut sudah memberi kode, minta sarapan. Papah mengajak membeli saja di Warung Mbak Yem. Gudheg dan koyornya lumayan enak. Ternyata sampai di tempat yang dituju, antreenya panjang. Papah sampai duduk menunggu aku antree, sambil request makanan yang diingininya pagi itu. Ternyata aku tidak cukup pintar "nge-slading" di antreean. Berulang kali aku bilang ke penjual makanan yang aku pesan, selalu dijawab dengan, "Bentar ya Mbak, ini dirampungkan dulu, biar agak omber". Sampai papah ikut maju, "Kok lama banget, itu tadi yang antree di belakang kita malah sudah dapet dan sudah pulang!"
Mulai terasa ketidaksabarannya. Sampai giliran aku ditanya mau beli apa, yang aku maui sudah pada habis. Fikirku, ya sudah mbeli aja yang ada. Ku pesen pecel, gudheg sambel goreng, sama opor kepala ayam, pesenan papah. Kecewanya, karena koyor yang diimpikan dari rumah, ternyata ndak dapet karena kehabisan. Kubawa senyum aja, di hati dan di bibir. Tapi ternyata, papah yang kecewa karena aku tak dapatkan koyorku. Ha ha ha ha, uniknya dia. Mustinya aku yang kecewa ya, kenapa dia yang jadi marah - marah? Dan kenapa pula marahnya dia ke aku ya... Tapi masih dengan senyum, dan berusaha tetap tersenyum, duduk di samping dia yang pegang kemudi, "mancal" pedal gasnya terasa sekali dengan amarah. Kufikir, kalau tidak ke aku marahnya lantas dia kudu luapkan sama siapa, tukang becak, atau tukang parkir yang ditemuinya? Lebih tidak okey, kan? Sambil masih menyangatkan amarahnya dengan bergumam, "Besok lagi, harus pake toleransi waktu. Kalau seperempat jam ndak dilayani, ndak jadi beli aja, kita pulang!" Well, aku maknai saja itu karena dia sayang aku. Mencoba berempati dg kecewaku tak dapat makanan yang aku inginkan. Meski caranya unik, aneh... But, why not...
Sampai di rumah kami makan, dan suasana kembali anteng, rupanya sisa-sisa amarah papah sudah hampir bersih.
Kulanjutkan aktivitas hari minggu, masih dengan leketuran sama pasukanku. Sesekali dhenok buka-buka bukunya, karena hari esoknya ulangan akhir semester.
Tiba waktu sholat, papah dan adik ke masjid. Adik jalan kaki, tapi papah bawa sepeda. Pulang sholat, ternyata papah lupa membawanya. Ini sih sudah kali ke "banyak" papah lupa sepedanya, di masjid. Adik yang pulang belakangan rupanya juga "nggak nggagas" kalau dia "diwajibkan" membawa sepeda papah, saat papah lupa. Sesampai adik di rumah, papah bertanya dengan nanda yang lumayan aneh, berkesan introgratif. "Jo, (panggilan sayang papah buat adik), kok pulangnnya ndak bawa sepeda?"
"Lho, Adik ke masjid nggak naik sepeda"
"Ya sepedanya diambil ! Ndak mau!!! (nadanya mengancam)"
Adik malah bingung. Beruntung aku langsung tanggap, "Adik, tadi ternyata papah ke masjid naik sepeda, dan waktu pulang, papah lupa membawanya. Sekarang Adik balik ke masjid, dan ambil sepeda papah ya... Ayo Nak, mau pahala ndak?"
Mata adik berkaca-kaca, kutahu dia kecewa. Tapi takut mau bilang tidak.
Sampai sore, adik masih belum mau bicara. Sampai waktu habis asar, adik bergabung lagi dengan aku dan papah yang sedang googling di ruang tengah. Kutanya, "Adik masih sedih?"
Ditanya gitu, adik jadi manja. Terus aku punya kesempatan meng-clear kan suasana, mumpung papah ada.
"Ibu tahu, adik kecewa karena dibentak papah tadi kan? Ketahuilah Adik, dalam hatinya papah itu sayang banget sama Adik. Hanya saja, papah itu sering ndak bisa ngomongnya, ndak kayak ibu. Itu papah denger, dan papah dalam hatinya mengiyakan. Jadi, kalau papah bilang seperti membentak, seperti marah, atau kasar, itu sejatinya bukan karena papah buruk, atau jahat. Tp karena memang papah ndak punya banyak kosa kata indah, kayak ibu. Dimaknai indah saja, kan jadi indah..."
Mendengar penjelasan itu, air muka adik berubah menjadi riang...Alhamdulillaah 'alaa kulli haal...
Batinku, siapa sih yang tidak suka dengan kelembutan? (Copas dari FB Rumah Parenting Full: Bahagia bukanlah dari memiliki pasangan dan memiliki keturunan. Bahagia adalah dari bisa membahagiakan pasangan dan anak-anak kita. Bagaimana cara membuat mereka bahagia adalah dengan bahasa cinta. Jika bingung apa bahasa cinta pasangan...mulailah dari memahami bahwa setiap manusia suka kelembutan, kebaikan, empati, dan juga kebenaran. ZHR) Tapi siapa pula yang akan membantu papah memecahkan "hal ini" kalau bukan aku?
Yang semakin unik, dia milikku. Yang harus kujaga, dan kudampingi selalu, apa pun keadaanya, pembawaanya, dan tabiatnya. Jika adalah tabiat yang baik, semoga terjaga. Jikalah dia adalah pembawaan yang buruk, semoga aku bersabar dan menemukan banyak cara untuk mengurainya...
Nice Sunday, awal Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
