Sebagaimana ditulis di catatan fb Karunia Atiek
*Kamis sore hari, di South Cempedak*
Hari ini tidak sangat istimewa, hanya berjalan biasa saja
Tetapi memaksaku mengakui, bahwa hari ini lebih lelah dari hari sebelumnya
*dan tiadalah setiap rasa sakit, kepayahan, dan segala bentuk ketidaknyamanan seorang mu'min, melainkan Alloh pasti akan menghapus dengannya kesalahan-kesalahannya... semoga ini menuntunku pada keikhlashan
Sejak pagi dengan rutinitas harian yang biasa pula, hanya sedikit lebih payah karena kebetulan"ngemis" sehingga tidak bisa sesigap aku ketika bisa minum dan makan
Sore hari, seluruh pasukanku sudah pulang ke rumah.
Ketika sedang mencuci, tiba-tiba air di kran tidak mengalir
Batinku, "Mati air kah?"
Dan ketika anakku keluar, hendak menengok meter air, dilihatnya pipa air di dekat meter itu telah putus.
Kususul dia keluar, demi memastikan apa yang terjadi.
Terlihat pipa pada sambungan siku-siku seperti bekas terinjak atau kejatuhan benda berat. Pikirku, "Kalau putus atawa pecah dengan sendirinya, bentuknya pastilah tidak begini".
Padahal hari sudah sore. Jika ingin membereskannya, tentu aku butuh material yang harus dibeli, dan toko bahan bangunan pun tentu sudah tutup. Jika tidak dibereskan, alamat malam hari sampai esoknya kami tidak punya air. NO WATER, NO BATH. NO WATER NO WASHING. AND IT'S A BIG PROBLEM
*haruskan aku marah pada si tertuduh penginjak pipa airku? Mengapa dia tidak bertanggung jawab? Apa lagi kalau tidak sekedar terinjak, tapi dilempar pakai bongkahan batu, apa maksudnya dia lakukan itu ?? Jawabnya, TENTU INI TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH!!
Sejurus kemudian, suamiku menyuruh anakku meminta bantuan tukang yang biasa membereskan kerusakan-kerusakan kecil di rumah kami.
*harus pula kah aku mendongkol, kenapa tidak dia sendiri yang berusaha menengok, kemudian membereskannya? Atau kalau pun harus ke tukang, kenapa dia tidak berangkat sendiri meminta tukang datang dengan menjelaskan apa yang terjadi? Jawabnya, INI PUN TIDAK BIJAK, DAN TENTU HANYA AKAN MENANBAH KERUWETAN.
Sambil menunggu anakku, kuteliti kerusakan pipaku, bersiap kemungkinan buruk kalau ternyata pak tukang tidak bisa datang, dengan alasan apa pun.
Jadi teringat pak Lilik. -aku menghibur diri- Andai saja rumah kita dekat ya Pak, tentu aku tinggal bilang saja, "Pak Lilik, pipanya putus....".
Dan benar saja, anakku pulang dari memanggil tukang dengan raut muka kecewa, "Ibu, tukangnya mau nengok". Terbersit di benakku si pak Tukang mau menengok pipaku, jadi sejenak aku menanti. Tetapi, kemudian aku ingin memastikan, "Dhe, tukangnya mau menengok ke sini atau menengok apa?"
"Ya nengok orang sakit"
Oh Alloh....
*haruskah aku berfikir aneh-aneh lagi tentang si bapak Tukang yang tidak bisa datang ke rumahku sore ini? Kenapa dia tidak mau datang? Marahkah dia? Atau kenapa? Jawabnya : INI BENER-BENER TIDAK PROGRESSIF, DAN SANGAT KONTRA PRODUKTIF
Sigap kuambil onta-ku, kupancal untuk lakuan sesuatu. Aku butuh sebuah knee, lem paralon, dan gergaji. Aktivitas dapur jelang maghrib, persiapan buka puasa dengan anakku, kutinggalkan. Sambil mengayuh pesawat jetku, kuputar otak. Tadi siang sewaktu jemput anakku, kulihat ada toko bahan bangunan yang baru mau buka, sedang menata barang-barang dagangannya. Karena mereka buka toko di rumahnya, barangkali bisa kumintai tolong untuk kubeli barang-barang yang aku perlukan.
Alhamdulillaah, jalan keluar mulai nampak. Si empunya toko berkenan membuka pintu, dan mengambilkan barang-barang yang aku butuhkan.
"Ibu, putusnya pipa bagaimana?"
"Pas di siku-siku, Pak"
"Apa Ibu mau nggorok-nggorok sendiri, atau tukang?"
"Iya, saya yang akan kerjakan sendiri"
"Kalau pas di siku-siku, Ibu butuh sok juga, tidak cuma knee"
Tapi aku tidak kling, tidak mudeng dengan kalimat si Bapak ini, hingga aku tidak mengiyakan ketika ia menawarkan aku menambah sok. Akhirnya, "Ya sudah, sekrang Ibu pulang saja dulu, bawa ini barang-barang, nanti kalau kurang balik ke sini lagi. Tinggalnya di mana? Kalau ternyata tidak berhasil, panggil saya saja, saya pasangkan"
Hari sudah semakin sore. Sesampai di rumah, segera aku kerjakan project-ku.
Dan benar saja kata si bapak toko bangunan, aku butuh sok, pipaku kurang panjang sedikit, sekitar satu senti. Aku suruh anakku membeli, di toko yang tadi.
Tapi namanya toko baru mau buka, dan anakku belum pernah tahu. Tidak tahu pula tadi ibunya beli di toko apa, di mana. Jadi sebentar saja dia pergi, beberapa saat kemudian pulang dan bilang, "Ibu tokonya sudah tutup, orang sudah jam 5 lebih". Dia tidak tahu bahwa sudah ada agreement, antara ibunya dengan penjual di toko yang dimaksud.
Yaah, terpaksa aku berangkat lagi demi sebuah sok..
Setelah kudapatkan soknya, ditemani anakku kupasang pipaku, menggorok, mengelem, membongkar, memasang lagi dan ............ JADI!!!
Tentu belum serta merta berani kubuka kembali meter air untuk mengalirkan airnya. Bener-penerngelmu praktek. Feelingku, kalau langsung dialirkan, kayaknya lemnya belum kering benar dan sambungan pipa -ala emak- bakalan bisa lepas lagi. Sia-sia deh, pekerjaan kami.
Aku masuk rumah, setidaknya dengan hati sedikit tenang, dengan harapan 2-3 jam kedepan akan kubuka meter airku, dan aku punya air lagi, di rumah, Insya Allohu ta'ala...
Kesabaran, kesigapan, khusnudzon, dan kreatifitas yang terasah dengan "pipa"
Sebuah hikmah yang harus aku syukuri, bukan aku dongkoli...
Wa laa haula walaa quwwata illa billah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar