Adalah sebuah perenungan di pagi hariku, lebih tepatnya adalah monolog, yang semoga ini adalah sarana untuk introspeksi diri.
Tiap kali mendung datang, aku selalu risau. Aku takut dengan hujan yang biasanya menyertai mendung itu. Aku takut banjir, aku sedih dengan rumahku yang bocor di sana sini, aku sebel dengan got depan dan samping rumah yang meskipun aku sudah membersihkannya, selalu "macet" aliran airnya karena orang-orang yang menjadikannya sebagai tempat sampah umum, aku jengkel dengan anak-anak yang gemar menutup aliran air di depan rumah demi mendapatkan kubangan saat hujan kemudian asik bermain dengan "kolam mini" bikinan mereka.
Padahal.....
Tidak selalu mendung itu pasti akan disertai hujan to?
Mendung tak berarti hujan, meski tidak mendung juga bukan selalu tidak akan turun hujan
Dan meskipun turun hujan, tidak selalu akan mengakibatkan banjir bukan? Lalu, jika ternyata benar-benar banjir, kita kan manusia yang punya akal, karsa, dan mampu berkarya. Pasti kita punya cara untuk mengatasinya, dan membersihkannya. Lelah? Ya bersyukurlah, dengan tiap lelah yang kita punya, insya Alloh akan dibersihkanNYA kesalahan-kesalahan kita.
Karena tanpa rasa lelah, sakit, penat, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya, sungguh amalan kita tidak akan pernah cukup untuk menebus dosa-dosa kita di hadapan Alloh.
Lalu, lihatlah anak-anak itu. Keceriaan mereka adalah masa depan. Cobalah untuk membayangkan, dan sedikit jeli berfikir. Dunia anak memang dunia bermain. Bayangkanlah, salah satu dari mereka adalah anak kita. Dan pikirkanlah pula, anak mana di sekitar kita yang tidak suka bermain hujan? Jikalah ada dari anak-anak kita yang tidak keluar dan bermain saat hujan, itu pastilah karena larangan orang tuanya, eyangnya, atau orang dewasa yang ada di dalam rumahnya. Atau paling tidak norma dan aturan di rumahnya yang tidak mengijinkan dia untuk hujan-hujanan.
Kemudian rumahku yang rawan banjir. Mengapalah harus dirisaukan hingga ke ubun-ubun? Orang yang tidak punya rumah, pastilah sangat ingin punya rumah, meskipun di tempat yang rawan banjir. Dan mereka yang sudah tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, pastilah ingin pulang ke rumah (mereka ndak pulang karena ndak punya rumah to?). Dan kalau dibilang atap rumahku yang bocor, mereka pasti akan menyahut, "Bocor juga, punya rumah, dari pada kami yang tidak punya".
Hari kemarin lumayan melelahkan. Dari pagi hingga sore, aktivitas agak padat. Mengapalah tidak mencoba bersyukur saja? Tentang nikmat sehat yang Alloh berikan, hingga bisa beraktivitas dan merasa lelah. Bukankah orang gila di jalan-jalan yang kerap kita temui, seperti tidak pernah merasakan lelah? Bukankan orang yang sedang terbaring di rumah sakit sangat ingin berjalan dan beraktivitas dengan sehatnya? Bukankah orang-orang yang belum pernah ke bandara -sekedar melihat dan mendengarkan riuhnya pesawat dari jarak dekat- sangat ingin pergi ke sana? Hidup adalah pilihan, dan mari memilih yang bisa dipilih. Bukan memilih yang "mestinya begini dan begitu", sesuai dengan nafsu dan angan kita semata.
Sekali lagi, mudah-mudahan ini adalah introspeksi dan sumber semangat untuk senantiasa mempertahankan kebersyukuranku atas nikmat Alloh yang pastilah TIADA TARA.
Episode kangen Bapak
Padahal.....
Tidak selalu mendung itu pasti akan disertai hujan to?
Mendung tak berarti hujan, meski tidak mendung juga bukan selalu tidak akan turun hujan
Dan meskipun turun hujan, tidak selalu akan mengakibatkan banjir bukan? Lalu, jika ternyata benar-benar banjir, kita kan manusia yang punya akal, karsa, dan mampu berkarya. Pasti kita punya cara untuk mengatasinya, dan membersihkannya. Lelah? Ya bersyukurlah, dengan tiap lelah yang kita punya, insya Alloh akan dibersihkanNYA kesalahan-kesalahan kita.
Karena tanpa rasa lelah, sakit, penat, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya, sungguh amalan kita tidak akan pernah cukup untuk menebus dosa-dosa kita di hadapan Alloh.
Lalu, lihatlah anak-anak itu. Keceriaan mereka adalah masa depan. Cobalah untuk membayangkan, dan sedikit jeli berfikir. Dunia anak memang dunia bermain. Bayangkanlah, salah satu dari mereka adalah anak kita. Dan pikirkanlah pula, anak mana di sekitar kita yang tidak suka bermain hujan? Jikalah ada dari anak-anak kita yang tidak keluar dan bermain saat hujan, itu pastilah karena larangan orang tuanya, eyangnya, atau orang dewasa yang ada di dalam rumahnya. Atau paling tidak norma dan aturan di rumahnya yang tidak mengijinkan dia untuk hujan-hujanan.
Kemudian rumahku yang rawan banjir. Mengapalah harus dirisaukan hingga ke ubun-ubun? Orang yang tidak punya rumah, pastilah sangat ingin punya rumah, meskipun di tempat yang rawan banjir. Dan mereka yang sudah tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, pastilah ingin pulang ke rumah (mereka ndak pulang karena ndak punya rumah to?). Dan kalau dibilang atap rumahku yang bocor, mereka pasti akan menyahut, "Bocor juga, punya rumah, dari pada kami yang tidak punya".
Hari kemarin lumayan melelahkan. Dari pagi hingga sore, aktivitas agak padat. Mengapalah tidak mencoba bersyukur saja? Tentang nikmat sehat yang Alloh berikan, hingga bisa beraktivitas dan merasa lelah. Bukankah orang gila di jalan-jalan yang kerap kita temui, seperti tidak pernah merasakan lelah? Bukankan orang yang sedang terbaring di rumah sakit sangat ingin berjalan dan beraktivitas dengan sehatnya? Bukankah orang-orang yang belum pernah ke bandara -sekedar melihat dan mendengarkan riuhnya pesawat dari jarak dekat- sangat ingin pergi ke sana? Hidup adalah pilihan, dan mari memilih yang bisa dipilih. Bukan memilih yang "mestinya begini dan begitu", sesuai dengan nafsu dan angan kita semata.
Sekali lagi, mudah-mudahan ini adalah introspeksi dan sumber semangat untuk senantiasa mempertahankan kebersyukuranku atas nikmat Alloh yang pastilah TIADA TARA.
Episode kangen Bapak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar