Powered By Blogger

Kamis, 26 Mei 2011

AN NASIHAH (1)




v  Siapa mendengar pembicaraan suatu kaum,sedang kaum itu tidak senang kepadanya, maka akan dituangkan timah putih di telinganya pada hari kiamat (HR. Bukhory dari ibnu Abbas).

v  Dari ‘Uqbah bin Amir al Juhany beliau berkata: wahai Rosululloh, apakah keselamatan itu? Beliau menjawab: Jagalah lisanmu, hendaknya engkau merasa lapang dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu. (HR. At Tirmidzi dan selainnya. Shohih At Targhib dan Ash Shohihah).

v  Dari Al Bara bin Azib, beliau berkata ; kami pernah bersama Rosululloh dengan sebuah jenazah, kemudian beliau duduk di pinggir kubur, lalu beliau menangis hingga membasahi tanah. Beliau bersabda; wahai saudara2ku, untuk (keadaan) seoerti ini hendaknya kalian bersiap. (HR Ahmad Ibn Majjah dan selainnya. Ash shohihah no 1751).

 Alloh berfirman: mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai. (QS.Ar-Rum: 7). Ayat tersebut adalah celaan bagi orang-orang yang mengenal berbagai jalan mendapatkan dunia, namun lalai dari akhiratnya.
v  Siapa yang berjalan di masjid di kegelepan malam maka Alloh akan memberikan cahaya kepadanya di hari kiamat (HR Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hiban, dan selainnya).

v  Bilal Bin Sa’ad berkata: “Janganlah engkau melihat kepada kecilnay dosa, tapi lihatlah terhadap siapa engkau bermaksiyat.” (Ibnul Mubarok dalam Az Zuhd).

v  “Barangsiapa yang diberi bagian berupa kelemah lembutan sungguh dia diberi bagian berupa kebaikan dunia akhirat.” (HR.Ahmad dan selainnya, Ash Shohihah no. 519)

v  Dari Ma’qil Bin Yasar, Rosululloh bersabda: Andaikata seorang lelaki kepalanya ditusuk dengan jarum dari besi, hal itu lebih baik daripada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya (baca: bukan makhromnya). (HR. At  Tabrani,Ar Ruyani , dan Al Baehaqi, As Shohihah no.226)

v  Muhammad Ibnul Wazir berkata: Andaikata ulama meninggalkan pembelaan terhadap kebenaran dan khawatir kritikan manusia sunggguh mereka telah menelantarkan dan tidak khawatir tehadap hal yang hina (Al Awashim wal Qowashim 1/223)

v  Apakah kamu merasa aman terhadap Alloh yang di atas langit bahwa Dia akan mejungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba tiba bumi itu bergoncang (QS. Al Mulk:16)

v  Dari Abu Hurairoh, rosululloh bersabda ;  siapa yng meminta harta manusia untuk memperbanyak (hartanya), sesungguhnya dia hanya meminta bara api, silakan dia meminta (bara api tersebut) sedikit atau banyak (HR. Muslim).

v  Dari Ibnu Mas’ud, Rosululloh bersabda:  seorang mukmin bukanlah seorang yang suka mncela, sering melaknat, berbuat keji dan suka berkata jelek (HR. At-Tirmidzi)

Senin, 23 Mei 2011

Dentigerous Cysts of Inflammatory Origin-A case report

Dentigerous Cysts of Inflammatory Origin-A case report

KEHADIRANMU


**sepulu hari pertama di bulan Romadhon, 1998*

Sabtu sore ini jadual my beloved pulang. Suweneng pastinya, aku bakalan tak sendiri lagi. Buka puasa, makan sahur, sholat tarowih, ada suami yang menemani, dan kutemani. Ada yang agak berbeda dari kepulangan hari ini, dari pekan-pekan sebelumnya. Jelang tidur malam, suami bilang bakal ambil "cuti" 5 hari, dan dia akan temaniku siapkan barang-barang keperluan sambut si kecil, yang belum sempat disiapkan sebelumnya. Seneng, tapi gamang, pasalnya HPL ku masih 10 hari ke depan. Tapi tak mengapa, setidaknya, besok pagi suamiku bisa antarkan aku ke bidan untuk periksa, yang memang hari besok jadualnya. (ANC sangat rapi.)Di penghujung obrolan kami, aku sempat berujar, "Mas, aku takut tidak paham seperti apa rasanya orang mau melahirkan". dan seperti biasa, suamiku tidak banyak menjelaskan, tapi dia akan ingatkan aku untuk membaca kembali buku panduan hamil dan melahirkan.

Seperti biasa, aku sholat tarowih menjelang makan sahur. Ada yang aneh di perutku, rasanya seperti mau buang air besar. Tiap 2 rokaat dan salam, aku selalu selingi masuk kamar mandi. Tapi ternyata bukan buang air besar. Hingga tarowih dan witir selesai, aku bolak balik ke kamar mandi. Tiba saat makan sahur, rasa itu hilang, dan aku bangunkan suamiku, juga bapak, ibu dan kakakku. Makan sahur sperti biasa, dan setelahnya sholat subuh. Ba'da sholat subuh, tadarus Al-qur'an dan rasa itu kembali muncul, tapi aku pun belum "ngeh", bahwa itu adalah tanda mau melahirkan. Masih ku teruskan hingga beberapa ayat, lama kelamaan sakitnya terus bertambah. Aku baru bilang suamiku, bahwa perutku sakit. Sigap suamiku mengambil kontak kendaraan dan mengantarkanku ke bidan. Tetangga yang melihat kami pergi agak seperti terburu-buru, tentu menyangka aku akan berangkat melahirkan.

Jarak rumah kami ke tempat bidan sebetulnya tidak terlalu jauh, tapi karena jalan yang rusak dengan batu-batu di jalan menanjak dan curam yang sebesar kepala, suami memilih melewati jalan memutar yang agak lebih rata. Memang jadi terasa lama sekali menuju rumah bidan. Di jalan beberapa kali aku merasakan remasan hebat di perutku. Sesekali kuminta suamiku menghentikan kendaraannya. Sekali dua, dia ikuti permintaanku, tapi berikutnya dia pikir akan semakin lama sampai ke bidan. "Udah, kalau terasa sakit lagi, dibawa dzikir aja ya, nanti ndak sampai-sampai kalau berhenti berhenti terus...", ujarnya. "Baiklah", jawabku, dan ..... ALLOHU AKBAR... ada kekuatan luar biasa yang mendadak muncul setelah itu. Sungguh kalimat terindah yang pernah aku dengar, dan support luar biasa yang pernah aku dapatkan. Rasa sakit berikutnya berhasil aku tahan, dan akhirnya sampailah kami di bidan.

Bu bidan yang sangat baik, sudah punya catatan kapan aku akan periksa kehamilanku, sehingga ketika aku datang sudah tidak banyak lagi yang musti aku ceritakan. malah untuk pagi ini, aku tambahnkan, bahwa perutku terasa seperti diremes-remes. Akhirnya bu bidan memeriksa, dan meminta aku untuk batalkan puasa karena proses partus sudah dimulai. Beliau bilang, "Sudah pembukaan satu, Mbak....". Selanjutnya beliau menjelaskan, bahwa untuk partus pertama, biasanya waktunya agak lama, dari pembukaan satu sampai pembukaan penuh, waktunya kurang lebih 5 jam. Dan sembari menunggu aku diminta jalan jalan pelan tidak jauh dari rumah bidan. Bu bidan kemudian berbincang dengan suamiku, dan setelahnya suamiku memutuskan untuk pulang menjemput ibu. Agar saat melahirkan nanti ibuku mendampingiku.

Rupanya suamiku bercerita seperti yang bu bidan bincangkan, sehingga ibuku merasa masih punya waktu sangat longgar untuk mempersiapkan segala sesuatunya, dan baru akan datang nanti 2 jam menjelang aku melahirkan. Satu jam setelah pemeriksaan pertama, dan setelah jalan-jalan beberapa menit saja, aku merasa mengantuk luar biasa. Bu bidan mempersilakan aku tidur. Ternyata, setengah jam saja aku lelap, bangun tidur aku merasakan kembali perutku kruwes-kruwes hebat (-ini yang dinamakan kontraksi-).  Kubilang bu bidan yang segera memeriksaku kembali. dan ternyata, "Mbak, sudah pembukaan sempurna nih, siap-siap aja ya...". "Waduh, bu bidan,  suami dan ibuku belum datang, gimana ini". "Ya ndak apa-apa, sama saya". "Okey Bu, Bismillaahirrohmaanirrohiim". Batinku terus berdoa, Ya Alloh mudahkan dan lancarkan semuanya. Dan alhamdulillaah, beberapa menit berikutnya suami dan ibuku datang, betul-betul pada saat yang sangat tepat. dan setelah itu aku melalui masa-masa yang sangat penting, untuk sejurus kemudian kudengar tangis bayi, dan itu bayiku... Tak terasa meleleh air mataku, aku sudah menjadi ibu. Dan kehadiranmu, buah hati kami, benar-benar di saat yang sangat tepat. Sempat kulihat binar suamiku, yang pasti tengah mengolah sekian macam rasa, berbaur menjadi satu, hingga tak sempat keluarkan sepatah kata pun. 

Bayiku dibersihkan, diselimuti, kemudian ditahnik sama ayahnya. Giliran berikutnya bu bidan membersihkanku, dan memindahkan kami ke ruang yang lebih nyaman utk aku dan bayiku beristirahat. Dua belas jam berikutnya kami baru diijinkan pulang, stelah dipastikan bayiku bisa BAK, BAB secara normal. Sore hari kami pulang, dan untuk bapak ibuku, kali ini kepulanganku bersama dengan warga baru yang kehadirannya tentu sudah beliau nantikan.

Allohu ta'ala a'lam... 

Kamis, 19 Mei 2011

ABAI BUNDA (2)

Pagi itu ban sepeda onthel kami kempes. Seperti biasa aku harus mengisi anginnya di bengkel dekat rumah. Biasanya setengah sembilan pagi bengkelnya sudah beroperasi. Ternyata kudapati si om pemilik bengkelnya belum buka lapak. Kuputar arah dan berbalik pulang, menunggu di rumah.
Jam setengah sepuluhan aku balik lagi ke bengkel, untuk "cari angin" buat lingkaran hitam sepedaku. Alhamdulillaah, si om sdh lagi bebenah, siapkan "workshop"nya juga dagangan bensin eceran di "pertamini" miliknya. Sambil ngisi angin, aku tanya, "Kok sampai siang Om?". 
"Iya Bu, tadi cucian istri saya banyak, saya mbantuin dulu".
"Oh... Rajinnya... Seneng ya jadi istri Om, dibantuin kerjaannya"
"Lho, sudah jadi kewajiban suami to, mbantuin istri. Kan bekerja sama".
Kufikir, suami mbantuin apa ya, kalau pagi-pagi. Rasanya ndak deh...
Belum lagi kudapat jawabannya, si Om bengkel sudah melanjutkan kalimatnya, "Suami Ibu juga rajin, mbantuin Ibu kalau pagi hari. Tiap saya lewat dari kulakan bensin saya lihat bapak lagi nyuci dan ngelap-ngelap mobil, terus habis itu nganterin putra-putrinya ke sekolah".

Si Om pemilik bengkel menyadarkanku, bahwa bantuan dan peran suamiku sangat berarti untuk normalisasi pagi di rumah kami. Aku berfikir, "Benar juga ya..." Sambil pulang, sempat kubayangkan, jika pagi-pagi suamiku tidak melakukan aktivitas itu, maka aku harus sibuk dan berjibaku dengan waktu. Mulai dari memasak untuk sarapan pagi, hafalan pagi dan tadarus al-Qur'an anak-anak, memeriksa PR dan tugas-tugas tertunda, membenahi baju seragam, menjadi hakim sekaligus jaksa untuk anak-anakku yang hampir selalu bertikai berebut kamar mandi belakang, dan masih harus kulengkapi dengan mengantar mereka ke sekolah. Terbayang betapa pagi hariku menjadi sibuk, repot, dan tentunya "full teriyaki = teriak sana sini", dengan anak-anakku yang mau berangkat sekolah, juga suami yang harus disiapkan ini dan itu.

Om Bengkel (aku ndak tahu namanya) yang memberiku pencerahn dan inspirasi positif. Tidak boleh aku mengecilkan peran siapa pun orang di sekitarku, dan apa pun yang dilakukannya. Semua tetap bermakna dan punya peran untuk normalisasi hidupku, jiwaku, dan badanku.  Sedikit tapi -bagiku- menggelitik.

Alhamdulillaah,
Oh Alloh, betapa banyak hal yang harus sangat aku syukuri...

Rabu, 18 Mei 2011

KENANG...... (2)

***hari itu, saat kau TK kecil..***

"Ibu, adik minta beli TAMIYA.....", rengekmu sutu hari, sepulang bermain. Seperti biasa, ayah tak segera turuti permintaanmu. Ibu berkhusnudzon saja, pasti ada rencana sangat baik dari ayah untukmu, dan untuk kita sekeluarga.

Beberapa hari berikutnya, ayah pergi ke Jogja untuk sebuah acara ilmiah. Bukan ayahmu kalau bepergian pulangnya tak membawa oleh2. Selain buat ibu, kakak, kadang juga buat kawan dan saudara lain. Dan oleh2 istimewa buatmu saat itu adalah TAMIYA. Sangat membuatmu bahagia bukan? Tapi ceritanya menjadi lain, ketika tamiya yang kaudapat bukan seperti yang kaubayangkan. Yang ayah dapat, bentuknya setengah jadi, belum dirakit. Jadi kita harus merakit sendiri.

Ini tantangan baru. Ibu sama ayah mencoba merakit "mobilmu". Ibu baca2 urutan perakitannya. Tapi... ya Alloh..., komponennya kecil2 sekali. Kau memburu untuk segera ingin melihat hasil jadinya, ingin segera bermain TAMIYA. Kau ingin merakit sendiri. Kerja yang belum ada setengah sudah harus diulang beberapa kali, sampai akhirnya semua komponen rumitnya bercampur jadi satu, sulit diidentifikasi mana bagian muka, mana bagian belakang. Ruwet ya... Dan kau pun mulai gusar.

Ibu memutar otak, bagaimana menghiburmu dan mengalihkan perhatianmu dari tamiya itu dengan kau tetap ceria, tidak kehilangan semangatmu. Ibu mendongeng sembari menjelaskan tentang kelemahan dan kelebihan orang seorang. Ayahmu bukan orang yang ahli merakit tamiya, apa lagi mesin yg lebih besar. Tapi ayahmu punya keahlian lain yang orang tidak punya. Kemudian kau bertanya, "Siapa yang pandai merakit tamiya ini?". Ibu jawab, " Orang yang sekolahnya di bidang tekhnik mesin". Lalu kau melompat girang, "Ibu, Ami (paman) kan kuliahnya di tekhnik mesin, berarti Ami bisa merakit tamiya buatku".
"Iya, tapi Ami kan jauh di Jogja. Kalau mau, Adik tunggu sampai Ami datang, kita belajar sama Ami biar bisa merakitnya".
Rupanya kau tak cukup puas dg jawaban ibu. Tapi kau sedikit lebih tenang.

Esok paginya saat kau mustinya sudah harus bersiap ke sekolah. Pagi ini kau tidak mau mandi, tidak mau beraktivitas seperti pagi sebelumya, bahkan sepertinya samar2 ibu dengar kau bilang mulai hari ini tidak mau sekolah saja. Ibu bujuk kau. Tapi tak bergeming. Jurus berikutnya kita berdiplomasi. Apa, mengapa dan bagaimana, seperti biasa. Akhirnya kau mau bicara alasanmu, "Adik tidak mau sekolah karena di sekolah adik tidak diajarkan merakit mesin. TK Adik kan bukan fakultas tekhnik mesin". "Waah, kalau begitu kita ke sekolah dulu, pamitan sama bu guru".

Dan sesampainya di sekolah, kau bilang sama bu gurumu. Ibu menunggu di luar. Ternyata kok agak lama, dan sebentar kemudian kau bilang, "Ibu, Adik tidak jadi pamitan. Adik tetep sekolah di TK. Adik mau sekolah yang rajin biar besok bisa masuk SD. Kalau lulus masuk SMP, terus SMA, baru kuliah di tekhnik mesin kaya -sperti- Ami. Adik mau merakit tamiya adik sendiri".
Akhirnya ibu pulang, dan sudah mendapatkan jawaban untuk TAMIYA-mu pagi ini.

Alhamdulillaah, 'alaa kulli haal...

KALA AKU MENJADI RENTA......

Kala aku menjadi tua dan renta, bukan lagi aku yg dulu
Maklumilah diriku, bersabarlah menghadapiku

Disaat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, karena lemahnya tanganku, atau karena tak melihat mataku
Disaat aku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu, atau tak sadar memakai yang kanan di kaki kiriku
Ingat dan fikirkanlah saat2 bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk kau melakukannya

Dikala karena lupaku, aku mengulang terus menerus ucapan yg membosankanmu
Bersabarlah mendengarkannya. Jgn memotong ucapanku karena itu akan menyakitkanku
Di masa kecilmu, aku harus mengulang dan tetap mengulang cerita pengantar tidurmu, hingga dirimu terbuai mimpi, tak lagi mendengar bagian akhir ceritaku

Di kala aku membutuhkan jiwa dan ragamu utk memandikanku
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah, di masa kecilmu bagaimana aku dg segala cara membujukmu utk mandi atau bahkan bangkit dari berendammu

Diwaktu aku kebingungan menghadapi hal2 baru, istilah2 baru, dan teknologi modern
Janganlah mentertawakanku
Renungkanlah, bgm aku dg sabar, hati2, jujur, dan konsisten menjawab setiap "mengapa" yg kauajukan saat itu

Disaat kedua kakiku terlalu lemah utk berjalan..
Ulurkanlah tangan kuatmu utk memapahku, dg hatimu
Sebagaimana di masa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki utk belajar berjalan

Di waktu aku melupakan topik perbincangan kita
Beri sedikit waktu padaku utk mengingatnya. Kala itu sungguh topik pembicaraan kita bukanlah hal yg amat penting bagiku. Adalah kau berada di sisiku, mendengarkanku, meng-ia-kanku itu telah sangat membahagiakanku

Di saat kau mendapatiku menua dan menjadi renta
Janganlah bersedih, jgn pula merasa keberadaanku mengganggumu
Maklumilah diriku dan keadaanku
Dukunglah aku menghadapi masa2 sulitku

Dulu aku menuntunmu utk menapaki jalan kehidupan ini
Kini temanilah aku melalui masa ku, hingga akhir jalan hidupku
Berilah aku kasih sayang dan kesabaranmu
Aku akan mendapatinya berbuah syukur dan senyuman
Dan dalam tiap2 senyumku, terpupuk subur kasih sayangku yg tak terhingga padamu



SPECIAL buat DHENOK DAN KENANG..
Ibu sayang kalian, selalu...

MONOLOG BUNDA (2)

**medio Mei 2010**

Kenapa tergoda lagi?

Aku adalah bibit tanaman, yang buahnya disuka banyak orang. Lazimnya, daun dan pohonnya pun menarik, meski sekedar sebagai perindang. Banyak yang ingin milikiku, banyak yg ingin cicipi buahnya, banyak yg ingin membeli dari tuannya. Beberapa berani memndam rasa saat ternyata gagal memiliki bibit buah itu. Apa lagi memakan buahnya, memandang indahnya pohon buah itu, atau menikmati sejuk rindangnya pun adalah sebuah kemusykilan, hampir mustahil.

Sejatinya aku sendiri bingung, mengapa orang-orang sangat ingin memilikiku, memetik buahku, melihat keindahan pohonku, dan bertenduh di bawahnya? Padahal sebelum ini aku merasa adalah pohon yang tak berharga. Yang amat mudah gersang dan meranggas kala sedikit saja hadapi kemarau. Yang amat sulit berbuah karena tanah tempatku bertumbuh bukanlah tanah yang amat cukup unsur hara.

Dan kebingunganku tak berhenti, kala pilihan pemilik pohon aku, yang amat sangat baik merawatku dan sangat bangga memilikiku, jatuhkan kepada seseorang yang dia bukan kaya raya, yang bahkan bukan pula membayar bibit buahku dengan kontan. Yang dia belakangan kuketahui adalah bukan penyuka buahku, bukan penyuka kerindangan, bukan penyuka keindahan. Dia juga bukan penawar ulung, bukan pula pejuang yang gigih mencari barang, buah, atau hal lain untuk berbarter dengan pemilikku sebelum ini. Takdir Alloh pastinya, kenapa pemilikku merelakan aku pada pembeli ini, tanpa perjuangan keras, sekeras orang lain yang ingin memiliki bibit buahku.

Kadang aku tergoda -seperti saat ini- untuk memberontak, tapi apa yang bisa aku lakukan. Sering aku merana karena tak disiram, susah payah aku tunjukkan kesuburan pohon buahku, karena makananku tak tercukupi. Padahal akarku sudah menghujam bumi, di halaman rumah sang pembeli. STapi, sang pemilik baruku sering biarkan aku tak berbuah. Orang kemudian tak ingin lagi membeliku, memilikiku. Aku tak lagi menarik, pohonku, daunku, apa lagi buahku. Sesekali saja dia, mereka, beberapa orang yang melewati halaman rumah tuanku, mengambil sehelai atau beberapa helai daunku sembarangan, serampangan, utk kemudian dibuang. Tuanku pun tak mencegah, tak melarang, tak peduli.

Seringai aku kala hujan tiba, berharap aku menjadi subur, atau setidaknya tampak sedikit lebih segar. Meski tidak pernah berani berharap tuanku akan tertarik padaku.
Kembali ini sudah takdirNYA. Alloh pasti beri yang terbaik buatku, seluruh mahlukNYA di alam ini, sesuai peruntukannya, dengan sangat pas dan tepat. Tak melenceng barang satu mikron pun.

Jika saja aku bukan bibit pohon ini, bahkan tak ada yang sempat menyukaiku.
Jika aku tak pernah disemai oleh pemilikku mungkin aku belum sempat utk tumbuh menjadi pohon, bahkan tunas sekalipun.
Jika saja bukan tuanku ini yang membeli, mungkin aku malah belum ada yang membeli, kemudian tuanku sang penyemai sibuk dengan bibit buah dan pohon lainnya, maka aku pun terbengkelai.... tak berbeda merananya.

Ah, betapa aku musti bersyukur saja. Itu, nun jauh di sana, di sekitar Merapi, banyak pohon yang lebih merana karena letusan dan muntahan lahar panas gunung itu beberapa waktu lalu. Kemudian beberapa yang masih bertahan, di waktu berikutnya diterjang banjir lahar dingin tanpa ampun, dan rusak atau mati tak berbentuk.
ALLOHU ROBBUL 'ALAMIN, Sang Maha Pengatur segalanya...

Rabu, 11 Mei 2011

KENANG

oleh Karunia Atiek pada 23 November 2010 jam 21:18

malam ini, jam dinding "pecah" itu kabariku sudah pukul 10 lewat.
kau sdh terdiam dlm lelapmu.
Nang..

ibu kok sakit hati ya..
ibu ingin agar wkt berjalan cepat saja..
cepat..

tapi Nang..
ibu jd kurang sabarnya.
kurang belajarnya.
kurang berusaha
kurang berdo'a

adakah ketidakberuntungan yg serasa hampir tiap hari kautemui adalah buah dari kesalahan ibu?
ataukah kemaksiyatan yg ibu lakukan membuatmu menjadi pecundang hampir saban waktu?
kapan keberpihakan itu ada dan tertuju padamu?

Nang..
ibu sayang padamu
ibu ingin kau jd pemenang, bukan pecundang
ibu mau kau tegar, tidak lemah
ibu akan dampingi kau merajut tiap lembar hidupmu
insya Allohu ta'ala..
ibu pasti harus bersyukur dg tiap apa pun keadaanmu kini.. dan selamanya..

Nang..

Sabtu, 07 Mei 2011

Keranjang Belanja Anakku

(Sungguh tak ada yang terlambat,
anakku...mari memulai, dari banyak hal yang sudah kita awali...)

Hari ini, dan untuk seterusnya
Tajuk pagi kita adalah PENUHI KERANJANG BELANJA
Iya
Mari Nak, penuhi keranjang belanja kita
Dengan amal sholeh
dengan hafalan al Qur'an
Dengan ILMU
Sedikit demi sedikit
Keranjang belanja kita akan penuh
Tidak perlu tergesa, tapi tidak pula malas DAN tidak bekerja
Alloh pasti akan hargai kerja kita
Dan kelak, kita akan bawa "keranjang belanja" kita
MenghadapNya...
Di sana tidak ada tipu daya..
Di sana tidak ada kepura-puraan
Semua apa adanya
Masing-masing menghadap dengan keranjang belanja yang dulu dibawanya
dengan kranjang yang sama
dengan isi yang berbeda
dengan cara membawa yang berbeda
dengan wajah yang berbeda...
Mari bersemangat...
Wujudkan cita-cita luhur kita
MEMBAWA KEMBALI KERANJANG BELANJA KITA, MENGHADAP SANG KHOLIQ DENGAN WAJAH DAN HATI GEMBIRA, BERSAMA ORANG-ORANG YANG TAQWA...


buat denok dan kenang...
Ibu sayang Kalian.....

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa ASI Eksklusif Harus 6 Bulan?

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa ASI Eksklusif Harus 6 Bulan?: "Jakarta, Masyarakat telah mengetahui pemberian ASI eksklusif dilakukan hingga bayi berusia 6 bulan. Tapi kenapa harus sampai 6 bulan?"

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Bayi Mogok Mimi Asi?

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Bayi Mogok Mimi Asi?: "Tidak mau menyusu atau melakukan pemogokan adalah sesuatu yang normal dan bisa berlangsung beberapa hari. Namun kondisi ini bisa menjadi ses..."

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Banyak Ibu Gagal Menyusui ?

kiat sehat tanpa dokter: Mengapa Banyak Ibu Gagal Menyusui ?: "Pernahkah kita perhatikan bahwa semua mahluk mamalia ciptaan tuhan, kecuali manusia, bisa menyusui bayi yang baru dilahirkannya tanpa ada ma..."

kiat sehat tanpa dokter: Khasiat Pegagan / Antanan Unuk TB Paru

kiat sehat tanpa dokter: Khasiat Pegagan / Antanan Unuk TB Paru: "Pegagan atau nama kerennya Centella asiatica itu tumbuhan liar yang ada di dataran rendah, sampai sekitar 2.500 m di atas permukaan air la..."

Small Intestine Disorders

Small Intestine Disorders: MedlinePlus

WASPADAI SUSAH BAB

http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2009/04/11/698/susah-bab--awas-kanker-usus-

bedah anak: Invaginasi

bedah anak: Invaginasi: "Invaginasi Pada Anak Anatomi usus halus Usus halus terdiri dari 3 bagian yaitu duodenum, yejunum dan ileum. Panjang duodenum 26 cm, sedangk..."