**medio Mei 2010**
Kenapa tergoda lagi?
Aku adalah bibit tanaman, yang buahnya disuka banyak orang. Lazimnya, daun dan pohonnya pun menarik, meski sekedar sebagai perindang. Banyak yang ingin milikiku, banyak yg ingin cicipi buahnya, banyak yg ingin membeli dari tuannya. Beberapa berani memndam rasa saat ternyata gagal memiliki bibit buah itu. Apa lagi memakan buahnya, memandang indahnya pohon buah itu, atau menikmati sejuk rindangnya pun adalah sebuah kemusykilan, hampir mustahil.
Sejatinya aku sendiri bingung, mengapa orang-orang sangat ingin memilikiku, memetik buahku, melihat keindahan pohonku, dan bertenduh di bawahnya? Padahal sebelum ini aku merasa adalah pohon yang tak berharga. Yang amat mudah gersang dan meranggas kala sedikit saja hadapi kemarau. Yang amat sulit berbuah karena tanah tempatku bertumbuh bukanlah tanah yang amat cukup unsur hara.
Dan kebingunganku tak berhenti, kala pilihan pemilik pohon aku, yang amat sangat baik merawatku dan sangat bangga memilikiku, jatuhkan kepada seseorang yang dia bukan kaya raya, yang bahkan bukan pula membayar bibit buahku dengan kontan. Yang dia belakangan kuketahui adalah bukan penyuka buahku, bukan penyuka kerindangan, bukan penyuka keindahan. Dia juga bukan penawar ulung, bukan pula pejuang yang gigih mencari barang, buah, atau hal lain untuk berbarter dengan pemilikku sebelum ini. Takdir Alloh pastinya, kenapa pemilikku merelakan aku pada pembeli ini, tanpa perjuangan keras, sekeras orang lain yang ingin memiliki bibit buahku.
Kadang aku tergoda -seperti saat ini- untuk memberontak, tapi apa yang bisa aku lakukan. Sering aku merana karena tak disiram, susah payah aku tunjukkan kesuburan pohon buahku, karena makananku tak tercukupi. Padahal akarku sudah menghujam bumi, di halaman rumah sang pembeli. STapi, sang pemilik baruku sering biarkan aku tak berbuah. Orang kemudian tak ingin lagi membeliku, memilikiku. Aku tak lagi menarik, pohonku, daunku, apa lagi buahku. Sesekali saja dia, mereka, beberapa orang yang melewati halaman rumah tuanku, mengambil sehelai atau beberapa helai daunku sembarangan, serampangan, utk kemudian dibuang. Tuanku pun tak mencegah, tak melarang, tak peduli.
Seringai aku kala hujan tiba, berharap aku menjadi subur, atau setidaknya tampak sedikit lebih segar. Meski tidak pernah berani berharap tuanku akan tertarik padaku.
Kembali ini sudah takdirNYA. Alloh pasti beri yang terbaik buatku, seluruh mahlukNYA di alam ini, sesuai peruntukannya, dengan sangat pas dan tepat. Tak melenceng barang satu mikron pun.
Jika saja aku bukan bibit pohon ini, bahkan tak ada yang sempat menyukaiku.
Jika aku tak pernah disemai oleh pemilikku mungkin aku belum sempat utk tumbuh menjadi pohon, bahkan tunas sekalipun.
Jika saja bukan tuanku ini yang membeli, mungkin aku malah belum ada yang membeli, kemudian tuanku sang penyemai sibuk dengan bibit buah dan pohon lainnya, maka aku pun terbengkelai.... tak berbeda merananya.
Ah, betapa aku musti bersyukur saja. Itu, nun jauh di sana, di sekitar Merapi, banyak pohon yang lebih merana karena letusan dan muntahan lahar panas gunung itu beberapa waktu lalu. Kemudian beberapa yang masih bertahan, di waktu berikutnya diterjang banjir lahar dingin tanpa ampun, dan rusak atau mati tak berbentuk.
ALLOHU ROBBUL 'ALAMIN, Sang Maha Pengatur segalanya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar