Powered By Blogger

Kamis, 19 Mei 2011

ABAI BUNDA (2)

Pagi itu ban sepeda onthel kami kempes. Seperti biasa aku harus mengisi anginnya di bengkel dekat rumah. Biasanya setengah sembilan pagi bengkelnya sudah beroperasi. Ternyata kudapati si om pemilik bengkelnya belum buka lapak. Kuputar arah dan berbalik pulang, menunggu di rumah.
Jam setengah sepuluhan aku balik lagi ke bengkel, untuk "cari angin" buat lingkaran hitam sepedaku. Alhamdulillaah, si om sdh lagi bebenah, siapkan "workshop"nya juga dagangan bensin eceran di "pertamini" miliknya. Sambil ngisi angin, aku tanya, "Kok sampai siang Om?". 
"Iya Bu, tadi cucian istri saya banyak, saya mbantuin dulu".
"Oh... Rajinnya... Seneng ya jadi istri Om, dibantuin kerjaannya"
"Lho, sudah jadi kewajiban suami to, mbantuin istri. Kan bekerja sama".
Kufikir, suami mbantuin apa ya, kalau pagi-pagi. Rasanya ndak deh...
Belum lagi kudapat jawabannya, si Om bengkel sudah melanjutkan kalimatnya, "Suami Ibu juga rajin, mbantuin Ibu kalau pagi hari. Tiap saya lewat dari kulakan bensin saya lihat bapak lagi nyuci dan ngelap-ngelap mobil, terus habis itu nganterin putra-putrinya ke sekolah".

Si Om pemilik bengkel menyadarkanku, bahwa bantuan dan peran suamiku sangat berarti untuk normalisasi pagi di rumah kami. Aku berfikir, "Benar juga ya..." Sambil pulang, sempat kubayangkan, jika pagi-pagi suamiku tidak melakukan aktivitas itu, maka aku harus sibuk dan berjibaku dengan waktu. Mulai dari memasak untuk sarapan pagi, hafalan pagi dan tadarus al-Qur'an anak-anak, memeriksa PR dan tugas-tugas tertunda, membenahi baju seragam, menjadi hakim sekaligus jaksa untuk anak-anakku yang hampir selalu bertikai berebut kamar mandi belakang, dan masih harus kulengkapi dengan mengantar mereka ke sekolah. Terbayang betapa pagi hariku menjadi sibuk, repot, dan tentunya "full teriyaki = teriak sana sini", dengan anak-anakku yang mau berangkat sekolah, juga suami yang harus disiapkan ini dan itu.

Om Bengkel (aku ndak tahu namanya) yang memberiku pencerahn dan inspirasi positif. Tidak boleh aku mengecilkan peran siapa pun orang di sekitarku, dan apa pun yang dilakukannya. Semua tetap bermakna dan punya peran untuk normalisasi hidupku, jiwaku, dan badanku.  Sedikit tapi -bagiku- menggelitik.

Alhamdulillaah,
Oh Alloh, betapa banyak hal yang harus sangat aku syukuri...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar