**sepulu hari pertama di bulan Romadhon, 1998*
Sabtu sore ini jadual my beloved pulang. Suweneng pastinya, aku bakalan tak sendiri lagi. Buka puasa, makan sahur, sholat tarowih, ada suami yang menemani, dan kutemani. Ada yang agak berbeda dari kepulangan hari ini, dari pekan-pekan sebelumnya. Jelang tidur malam, suami bilang bakal ambil "cuti" 5 hari, dan dia akan temaniku siapkan barang-barang keperluan sambut si kecil, yang belum sempat disiapkan sebelumnya. Seneng, tapi gamang, pasalnya HPL ku masih 10 hari ke depan. Tapi tak mengapa, setidaknya, besok pagi suamiku bisa antarkan aku ke bidan untuk periksa, yang memang hari besok jadualnya. (ANC sangat rapi.)Di penghujung obrolan kami, aku sempat berujar, "Mas, aku takut tidak paham seperti apa rasanya orang mau melahirkan". dan seperti biasa, suamiku tidak banyak menjelaskan, tapi dia akan ingatkan aku untuk membaca kembali buku panduan hamil dan melahirkan.
Seperti biasa, aku sholat tarowih menjelang makan sahur. Ada yang aneh di perutku, rasanya seperti mau buang air besar. Tiap 2 rokaat dan salam, aku selalu selingi masuk kamar mandi. Tapi ternyata bukan buang air besar. Hingga tarowih dan witir selesai, aku bolak balik ke kamar mandi. Tiba saat makan sahur, rasa itu hilang, dan aku bangunkan suamiku, juga bapak, ibu dan kakakku. Makan sahur sperti biasa, dan setelahnya sholat subuh. Ba'da sholat subuh, tadarus Al-qur'an dan rasa itu kembali muncul, tapi aku pun belum "ngeh", bahwa itu adalah tanda mau melahirkan. Masih ku teruskan hingga beberapa ayat, lama kelamaan sakitnya terus bertambah. Aku baru bilang suamiku, bahwa perutku sakit. Sigap suamiku mengambil kontak kendaraan dan mengantarkanku ke bidan. Tetangga yang melihat kami pergi agak seperti terburu-buru, tentu menyangka aku akan berangkat melahirkan.
Jarak rumah kami ke tempat bidan sebetulnya tidak terlalu jauh, tapi karena jalan yang rusak dengan batu-batu di jalan menanjak dan curam yang sebesar kepala, suami memilih melewati jalan memutar yang agak lebih rata. Memang jadi terasa lama sekali menuju rumah bidan. Di jalan beberapa kali aku merasakan remasan hebat di perutku. Sesekali kuminta suamiku menghentikan kendaraannya. Sekali dua, dia ikuti permintaanku, tapi berikutnya dia pikir akan semakin lama sampai ke bidan. "Udah, kalau terasa sakit lagi, dibawa dzikir aja ya, nanti ndak sampai-sampai kalau berhenti berhenti terus...", ujarnya. "Baiklah", jawabku, dan ..... ALLOHU AKBAR... ada kekuatan luar biasa yang mendadak muncul setelah itu. Sungguh kalimat terindah yang pernah aku dengar, dan support luar biasa yang pernah aku dapatkan. Rasa sakit berikutnya berhasil aku tahan, dan akhirnya sampailah kami di bidan.
Bu bidan yang sangat baik, sudah punya catatan kapan aku akan periksa kehamilanku, sehingga ketika aku datang sudah tidak banyak lagi yang musti aku ceritakan. malah untuk pagi ini, aku tambahnkan, bahwa perutku terasa seperti diremes-remes. Akhirnya bu bidan memeriksa, dan meminta aku untuk batalkan puasa karena proses partus sudah dimulai. Beliau bilang, "Sudah pembukaan satu, Mbak....". Selanjutnya beliau menjelaskan, bahwa untuk partus pertama, biasanya waktunya agak lama, dari pembukaan satu sampai pembukaan penuh, waktunya kurang lebih 5 jam. Dan sembari menunggu aku diminta jalan jalan pelan tidak jauh dari rumah bidan. Bu bidan kemudian berbincang dengan suamiku, dan setelahnya suamiku memutuskan untuk pulang menjemput ibu. Agar saat melahirkan nanti ibuku mendampingiku.
Rupanya suamiku bercerita seperti yang bu bidan bincangkan, sehingga ibuku merasa masih punya waktu sangat longgar untuk mempersiapkan segala sesuatunya, dan baru akan datang nanti 2 jam menjelang aku melahirkan. Satu jam setelah pemeriksaan pertama, dan setelah jalan-jalan beberapa menit saja, aku merasa mengantuk luar biasa. Bu bidan mempersilakan aku tidur. Ternyata, setengah jam saja aku lelap, bangun tidur aku merasakan kembali perutku kruwes-kruwes hebat (-ini yang dinamakan kontraksi-). Kubilang bu bidan yang segera memeriksaku kembali. dan ternyata, "Mbak, sudah pembukaan sempurna nih, siap-siap aja ya...". "Waduh, bu bidan, suami dan ibuku belum datang, gimana ini". "Ya ndak apa-apa, sama saya". "Okey Bu, Bismillaahirrohmaanirrohiim". Batinku terus berdoa, Ya Alloh mudahkan dan lancarkan semuanya. Dan alhamdulillaah, beberapa menit berikutnya suami dan ibuku datang, betul-betul pada saat yang sangat tepat. dan setelah itu aku melalui masa-masa yang sangat penting, untuk sejurus kemudian kudengar tangis bayi, dan itu bayiku... Tak terasa meleleh air mataku, aku sudah menjadi ibu. Dan kehadiranmu, buah hati kami, benar-benar di saat yang sangat tepat. Sempat kulihat binar suamiku, yang pasti tengah mengolah sekian macam rasa, berbaur menjadi satu, hingga tak sempat keluarkan sepatah kata pun.
Bayiku dibersihkan, diselimuti, kemudian ditahnik sama ayahnya. Giliran berikutnya bu bidan membersihkanku, dan memindahkan kami ke ruang yang lebih nyaman utk aku dan bayiku beristirahat. Dua belas jam berikutnya kami baru diijinkan pulang, stelah dipastikan bayiku bisa BAK, BAB secara normal. Sore hari kami pulang, dan untuk bapak ibuku, kali ini kepulanganku bersama dengan warga baru yang kehadirannya tentu sudah beliau nantikan.
Allohu ta'ala a'lam...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar