Powered By Blogger

Rabu, 18 Mei 2011

KENANG...... (2)

***hari itu, saat kau TK kecil..***

"Ibu, adik minta beli TAMIYA.....", rengekmu sutu hari, sepulang bermain. Seperti biasa, ayah tak segera turuti permintaanmu. Ibu berkhusnudzon saja, pasti ada rencana sangat baik dari ayah untukmu, dan untuk kita sekeluarga.

Beberapa hari berikutnya, ayah pergi ke Jogja untuk sebuah acara ilmiah. Bukan ayahmu kalau bepergian pulangnya tak membawa oleh2. Selain buat ibu, kakak, kadang juga buat kawan dan saudara lain. Dan oleh2 istimewa buatmu saat itu adalah TAMIYA. Sangat membuatmu bahagia bukan? Tapi ceritanya menjadi lain, ketika tamiya yang kaudapat bukan seperti yang kaubayangkan. Yang ayah dapat, bentuknya setengah jadi, belum dirakit. Jadi kita harus merakit sendiri.

Ini tantangan baru. Ibu sama ayah mencoba merakit "mobilmu". Ibu baca2 urutan perakitannya. Tapi... ya Alloh..., komponennya kecil2 sekali. Kau memburu untuk segera ingin melihat hasil jadinya, ingin segera bermain TAMIYA. Kau ingin merakit sendiri. Kerja yang belum ada setengah sudah harus diulang beberapa kali, sampai akhirnya semua komponen rumitnya bercampur jadi satu, sulit diidentifikasi mana bagian muka, mana bagian belakang. Ruwet ya... Dan kau pun mulai gusar.

Ibu memutar otak, bagaimana menghiburmu dan mengalihkan perhatianmu dari tamiya itu dengan kau tetap ceria, tidak kehilangan semangatmu. Ibu mendongeng sembari menjelaskan tentang kelemahan dan kelebihan orang seorang. Ayahmu bukan orang yang ahli merakit tamiya, apa lagi mesin yg lebih besar. Tapi ayahmu punya keahlian lain yang orang tidak punya. Kemudian kau bertanya, "Siapa yang pandai merakit tamiya ini?". Ibu jawab, " Orang yang sekolahnya di bidang tekhnik mesin". Lalu kau melompat girang, "Ibu, Ami (paman) kan kuliahnya di tekhnik mesin, berarti Ami bisa merakit tamiya buatku".
"Iya, tapi Ami kan jauh di Jogja. Kalau mau, Adik tunggu sampai Ami datang, kita belajar sama Ami biar bisa merakitnya".
Rupanya kau tak cukup puas dg jawaban ibu. Tapi kau sedikit lebih tenang.

Esok paginya saat kau mustinya sudah harus bersiap ke sekolah. Pagi ini kau tidak mau mandi, tidak mau beraktivitas seperti pagi sebelumya, bahkan sepertinya samar2 ibu dengar kau bilang mulai hari ini tidak mau sekolah saja. Ibu bujuk kau. Tapi tak bergeming. Jurus berikutnya kita berdiplomasi. Apa, mengapa dan bagaimana, seperti biasa. Akhirnya kau mau bicara alasanmu, "Adik tidak mau sekolah karena di sekolah adik tidak diajarkan merakit mesin. TK Adik kan bukan fakultas tekhnik mesin". "Waah, kalau begitu kita ke sekolah dulu, pamitan sama bu guru".

Dan sesampainya di sekolah, kau bilang sama bu gurumu. Ibu menunggu di luar. Ternyata kok agak lama, dan sebentar kemudian kau bilang, "Ibu, Adik tidak jadi pamitan. Adik tetep sekolah di TK. Adik mau sekolah yang rajin biar besok bisa masuk SD. Kalau lulus masuk SMP, terus SMA, baru kuliah di tekhnik mesin kaya -sperti- Ami. Adik mau merakit tamiya adik sendiri".
Akhirnya ibu pulang, dan sudah mendapatkan jawaban untuk TAMIYA-mu pagi ini.

Alhamdulillaah, 'alaa kulli haal...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar