Powered By Blogger

Minggu, 04 Desember 2011

Semakin Unik Saja

Hari Ahad adalah hari pilihan buat ku memanjakan diri, kumpul sama papah dan anak-anak.
Bangun subuh dengan "meletakkan" sebagian kepenatan hari-hari sebelumnya, dan mengistirahatkan badan dan fikiran. Mencari sebanyak-banyaknya hal inspiratif untuk "recharge" semangat, bersiap melanjutkan perjuangan di hari esoknya. "Kruntal kruntel" sama papah, genduk dan kenang, menjadi reenergizer yang sangat indah. Berpindah dari tempat tidur ke ruang tengah, berlarian dari ruang satu ke ruang lain yang memang tidak sangat longgar, menyempatkan bermain sunda manda.
Pagi hari beranjak siang, perut sudah memberi kode, minta sarapan. Papah mengajak membeli saja di Warung Mbak Yem. Gudheg dan koyornya lumayan enak. Ternyata sampai di tempat yang dituju, antreenya panjang. Papah sampai duduk menunggu aku antree, sambil request makanan yang diingininya pagi itu. Ternyata aku tidak cukup pintar "nge-slading" di antreean. Berulang kali aku bilang ke penjual makanan yang aku pesan, selalu dijawab dengan, "Bentar ya Mbak, ini dirampungkan dulu, biar agak omber". Sampai papah ikut maju, "Kok lama banget, itu tadi yang antree di belakang kita malah sudah dapet dan sudah pulang!"
Mulai terasa ketidaksabarannya. Sampai giliran aku ditanya mau beli apa, yang aku maui sudah pada habis. Fikirku, ya sudah mbeli aja yang ada. Ku pesen pecel, gudheg sambel goreng, sama opor kepala ayam, pesenan papah.  Kecewanya, karena koyor yang diimpikan dari rumah, ternyata ndak dapet karena kehabisan. Kubawa senyum aja, di hati dan di bibir. Tapi ternyata, papah yang kecewa karena aku tak dapatkan koyorku. Ha ha ha ha, uniknya dia. Mustinya aku yang kecewa ya, kenapa dia yang jadi marah - marah? Dan kenapa pula marahnya dia ke aku ya... Tapi masih dengan senyum, dan berusaha tetap tersenyum, duduk di samping dia yang pegang kemudi, "mancal" pedal gasnya terasa sekali dengan amarah. Kufikir, kalau tidak ke aku marahnya lantas dia kudu luapkan sama siapa, tukang becak, atau tukang parkir yang ditemuinya? Lebih tidak okey, kan? Sambil masih menyangatkan amarahnya dengan bergumam, "Besok lagi, harus pake toleransi waktu. Kalau seperempat jam ndak dilayani, ndak jadi beli aja, kita pulang!" Well, aku maknai saja itu karena dia sayang aku. Mencoba berempati dg kecewaku tak dapat makanan yang aku inginkan. Meski caranya unik, aneh... But, why not...
Sampai di rumah kami makan, dan suasana kembali anteng, rupanya sisa-sisa amarah papah sudah hampir bersih.
Kulanjutkan aktivitas hari minggu, masih dengan leketuran sama pasukanku. Sesekali dhenok buka-buka bukunya, karena hari esoknya ulangan akhir semester.
Tiba waktu sholat, papah dan adik ke masjid. Adik jalan kaki, tapi papah bawa sepeda. Pulang sholat, ternyata papah lupa membawanya. Ini sih sudah kali ke "banyak" papah lupa sepedanya, di masjid. Adik yang pulang belakangan rupanya juga "nggak nggagas" kalau dia "diwajibkan" membawa sepeda papah, saat papah lupa. Sesampai adik di rumah, papah bertanya dengan nanda yang lumayan aneh, berkesan introgratif. "Jo, (panggilan sayang papah buat adik), kok pulangnnya ndak bawa  sepeda?"
"Lho, Adik ke masjid nggak naik sepeda"
"Ya sepedanya diambil ! Ndak mau!!! (nadanya mengancam)"
Adik malah bingung. Beruntung aku langsung tanggap, "Adik, tadi ternyata papah ke masjid naik sepeda, dan waktu pulang, papah lupa membawanya. Sekarang Adik balik ke masjid, dan ambil sepeda papah ya... Ayo Nak, mau pahala ndak?"
Mata adik berkaca-kaca, kutahu dia kecewa. Tapi takut mau bilang tidak.
Sampai sore, adik masih belum mau bicara. Sampai waktu habis asar, adik bergabung lagi dengan aku dan papah yang sedang googling di ruang tengah. Kutanya, "Adik masih sedih?"
Ditanya gitu, adik jadi manja. Terus aku punya kesempatan meng-clear kan suasana, mumpung papah ada.
"Ibu tahu, adik kecewa karena dibentak papah tadi kan? Ketahuilah Adik, dalam hatinya papah itu sayang banget sama Adik. Hanya saja, papah itu sering ndak bisa ngomongnya, ndak kayak ibu. Itu papah denger, dan papah dalam hatinya mengiyakan. Jadi, kalau papah bilang seperti membentak, seperti marah, atau kasar, itu sejatinya bukan karena papah buruk, atau jahat. Tp karena memang papah ndak punya banyak kosa kata indah, kayak ibu. Dimaknai indah saja, kan jadi indah..."
Mendengar penjelasan itu, air muka adik berubah menjadi riang...Alhamdulillaah 'alaa kulli haal...

Batinku, siapa sih yang tidak suka dengan kelembutan? (Copas dari FB Rumah Parenting Full: Bahagia bukanlah dari memiliki pasangan dan memiliki keturunan. Bahagia adalah dari bisa membahagiakan pasangan dan anak-anak kita. Bagaimana cara membuat mereka bahagia adalah dengan bahasa cinta. Jika bingung apa bahasa cinta pasangan...mulailah dari memahami bahwa setiap manusia suka kelembutan, kebaikan, empati, dan juga kebenaran. ZHR) Tapi siapa pula yang akan membantu papah memecahkan "hal ini" kalau bukan aku?
Yang semakin unik, dia milikku. Yang harus kujaga, dan kudampingi selalu, apa pun keadaanya, pembawaanya, dan tabiatnya. Jika adalah tabiat yang baik, semoga terjaga. Jikalah dia adalah pembawaan yang buruk, semoga aku bersabar dan menemukan banyak cara untuk mengurainya...

Nice Sunday, awal Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar