Powered By Blogger

Kamis, 08 Desember 2011

Konsekuensi


*demi senyum anakku*

Belajar adalah kewajiban, selama hayat di kandung badan
Sekolah (belajar di sekolah, tempat pendidikan formal yang dikaui pemerintah) adalah bagian dari belajar
Adalah sebuah catatan kepiluan tentang sekolah dan para pelakunya (para siswanya, orang tua siswa, guru-gurunya, juga pimpinan sekolahnya) yang-sepertinya agak-  kurang faham tentang sekolah yang mustinya bukan hanya proses belajar-mengajar namun lebih dalam lagi : proses pendidikan
(departemennya saja bukan dpartemen pengajaran to? Tapi departemen pendidikan) 

Para siswa di sebuah sekolah, dari negeri antah berantah,  tiap musim ulangan sibuk mencari "contekan" dan "bocoran" soal-soal dari kelas sebelah. Sudah bukan rahasia lagi, tapi sudah jamak terjadi. 
Hal yang tentu tidak akan ada untuk pendidikan di luar sekolah macam home schoolling, atau semacamnya.
Di benakku kemudian muncul pertanyaan sekaligus angan-angan, seandainya aku adalah guru mereka
 Mengapa para guru tidak membuat soal yang berbeda untuk tiap2 kelas, agar tidak ada aksi membocorkan soal ulangan?
Kalau jawabannya REPOT, bukankah mereka memang memilih menjadi guru untuk -konsekuansi- kerepotan yang seperti itu? Mengajar, kemudian membuat soal ulangan, mengoreksi, dan memberi nilai? (bukan untuk menanam padi, menyiangi, memanen, kemudian menjualnya, karena mereka bukan petani)
Sekali lagi, belajar-mengajar dan pendidikan adalah proses
Perlu jiwa besar para pelakunya

Para orang tua siswa, seperti sdh menyelesaikan tugasnya ketika sudah memasukkan putra-putrinya ke sekolah, yang favorit pula. Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Apa lagi jika sudah menambah jam belajar mereka dengan memasukkannya ke tempat les atau bimbel yang terkenal bonafid.
*  Mengapa para guru cenderung lebih suka anak-anak muridnya dimasukkan orang tuanya ke tempat les dan bimbel-bimbel untuk mendongkrak nilai ujian? 

Belum selesai aku merenung..
Anakku pulang dengan wajah kurang riang
Cerita siang itu : " Bunda, tadi kan ayah temanku ada yang meninggal dunia. Nah, bu guru menyarankan aku dan teman-teman untuk menyisihkan uang saku, untuk nyumbang. Uangnya dikumpulin ke bu guru. Eeh... temanku, si Anto(-kebetulan anak tunggal), uangnya sdh habis buat jajan, jd ndak nyumbang. Kok bu guru bilang Anto,  anak tunggal, bapak ibunya kaya, malah ndak nyumbang.. Terus, sama Danto yang nyumbangnya cuma 2 ribu, buguru bilang Danto, anak pejabat malah nyumbangnya cuma 2 ribu. Lihat nih si Nanto, yang ayah ibunya lagi pergi umroh, nyumbangnya 20 ribu. 
Duuh, pendidikan macam apa yang tengah di tanamkan, wahai bu Guru?

Kembali kupupus angan-anganku untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran terbaik, ketika kupilih menyekolahkan anakku di lembaga yang -konon- diakui resmi oleh pemerintah
Segudang cerita kepiluan kudengar dari anak-anakku saban hari
Yang itu tentu baru sebahagian kecil saja, baru dari perilaku mereka, teman-teman mereka, dan orang-orang di sekolah mereka
Belum lagi dengan materi ajar yang belum tentu sesuai dengan aqidah dan syri'at ku (ISLAM), yang menuntut penetralan dan klarifikasi  setiap waktu
Konsekuansi yang amat mahal memang
Kadang membuat pening kepala
Namun tak boleh pening berkepanjangan, karena menjadikan aku  tidak produktif
Harus berjuang dan bersiap setiap saat, merengkuh buah hatiku, sepulang dari "perjuangan" mereka di sekolah
Sangat ingin mencari sekolah yang mendidik anak-anakku dengan dan sepenuh hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar